DILI, 15 Mei 2026 (TATOLI) — Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) menyerukan dengan memperingatkan bahwa meningkatnya penggunaan plastik daur ulang dalam kemasan makanan, meskipun bermanfaat untuk upaya keberlanjutan, namun menimbulkan kekhawatiran signifikan terhadap keamanan pangan karena potensi risiko kontaminasi kimia.
Dalam laporan FAO yang diakses TATOLI, menyatakan bahwa dorongan global untuk kemasan yang lebih berkelanjutan harus disertai dengan langkah-langkah keamanan yang lebih kuat dan peraturan yang diselaraskan secara internasional.
Dalam laporan FAO yang diterbitkan pada hari Rabu (13/05) berjudul “Implikasi Keamanan Pangan dari Plastik Daur Ulang dan Bahan Kontak Makanan Alternatif”. Laporan ini muncul seiring dengan terus berkembangnya pasar kemasan makanan global secara pesat, yang tumbuh dari perkiraan $505,27 miliar pada tahun 2024 dan diproyeksikan mencapai lebih dari $815 miliar pada tahun 2030, didorong oleh meningkatnya permintaan akan makanan kemasan, makanan siap saji, minuman dalam botol, dan produk makanan cepat saji.
FAO menyatakan bahwa bahan kontak makanan, yang dikenal sebagai FCM (Food Contact Material), memainkan peran penting dalam menjaga kualitas makanan, memperpanjang umur simpan, dan mengurangi pemborosan makanan. Namun, penggunaan luas bahan berbasis plastik dengan masa pakai lingkungan yang panjang telah memberikan kontribusi besar terhadap polusi plastik global, sehingga mempercepat upaya untuk beralih ke plastik daur ulang.
Meskipun kurang dari 10% limbah plastik global saat ini didaur ulang, FAO mengatakan bahwa angka tersebut diperkirakan akan meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun mendatang, sehingga menimbulkan pertanyaan baru tentang keamanan kimia dalam kemasan makanan.
“Kami ingin mendaur ulang lebih banyak plastik, tetapi kami juga ingin memastikan bahwa dengan menyelesaikan satu masalah, kami tidak menciptakan masalah baru,” kata Corinna Hawkes, Direktur Divisi Sistem Agribisnis dan Keamanan Pangan, dalam sebuah pernyataan.
“Keamanan pangan harus menjadi pertimbangan utama dalam transisi menuju sistem agribisnis dan pola konsumsi pangan yang lebih berkelanjutan,” tambahnya.
Seruan untuk standar yang harmonis
Laporan tersebut memperingatkan bahwa bahan kemasan makanan daur ulang dan alternatif dapat memperkenalkan bahaya kimia ke dalam makanan melalui kontaminasi atau migrasi dari bahan kemasan.
Laporan itu juga menyoroti kekhawatiran seputar bahan berbasis bio yang berasal dari tanaman seperti jagung, tebu, dan singkong, yang dapat membawa risiko terkait pestisida, alergen, atau racun alami. Kekhawatiran tambahan muncul dari meningkatnya penggunaan zat seperti nanomaterial yang dirancang untuk meningkatkan kinerja kemasan.
FAO menekankan perlunya sistem daur ulang yang lebih kuat yang mampu secara efektif menghilangkan bahan kimia dari plastik yang ditujukan untuk penggunaan makanan, bersamaan dengan peningkatan mekanisme pemilahan dan pemantauan limbah.
Laporan tersebut juga mencatat meningkatnya kekhawatiran publik tentang paparan mikroplastik dan nanoplastik dalam makanan dan minuman. Namun, disebutkan bahwa ketiadaan metode pengujian yang tervalidasi saat ini mencegah regulator untuk sepenuhnya menilai risiko terhadap kesehatan manusia.
FAO lebih lanjut memperingatkan bahwa kurangnya regulasi global yang terharmonisasi dapat menciptakan tantangan perdagangan antar negara.
FAO juga mengatakan standar yang selaras secara global akan membantu memastikan keamanan pangan sekaligus mendukung upaya internasional untuk mengurangi limbah plastik.
TATOLI




