DILI, 16 Mei 2025 (TATOLI) — Kabar duka menyelimuti keluarga besar Gereja Katolik Timor-Leste dan khususnya umat Katolik di Dili atas wafatnya Romo Pejuang Kemerdekaan, pembela HAM (Hak asasi manusia) dan Keadilan, Domingos da Silva Soares Maubere, Pastor Paroki Becora, yang wafat pada Jumat pagi, 16 Mei 2025, pukul 07.05 WTL.
Romo Domingos Maubere wafat di Rumah Sakit Nasional Guido Valadares (HNGV), setelah menjalani perawatan intensif di Unit Perawatan Intensif (ICU) sejak 08 Mei 2025 dalam kondisi serius.
Romo Domingos Maubere yang dikenal sebagai pelayan rohani umat Katolik dan Pejuang Kemerdekaan, pembela HAM dan Keadilan itu wafat pada usia 73 tahun.
Atas wafatnya Romo Domingos Maubere, Keuskupan Agung Dili menyampaikan kabar duka tersebut melalui pernyataan resmi kepada umat Katolik, kaum religius, dan seluruh masyarakat.
“Tuhan telah memanggil Bapa kami terkasih Domingos da Silva Soares ke Kerajaan-Nya,” demikian isi pernyataan dari Keuskupan Agung Dili yang diakses Tatoli, Jumat ini.

Menurut Dokter Vidal Lopes, Direktur Layanan Dukungan Diagnostik dan Terapi HNGV, Romo Domingos sebelumnya telah empat kali dirujuk ke rumah sakit di Malaysia dan sempat menunjukkan kondisi yang baik.
Namun, karena penyakit yang dideritanya, ia kemudian dikembalikan ke Timor-Leste untuk menjalani perawatan paliatif.
Jadwal Prosesi Pemakaman
Keuskupan Agung telah menetapkan jadwal penghormatan terakhir kepada Mendiang Romo Domingos sebagai berikut :
- Jumat, 16 Mei 2025 dengan jadwal :
Pukul 09.00 : Misa Requiem di Kapel Rumah Sakit Nasional Guido Valadares
Pukul 11.00: Jenazah diberangkatkan menuju Letefoho
- Sabtu, 17 Mei 2025 dengan jadwal :
Pukul 12.00: Jenazah tiba di Paroki Becora, Dili
(Program penghormatan di Paroki Becora akan dipersiapkan dan diumumkan kemudian)
- Senin, 19 Mei 2025 dengan jadwal :
Pukul 10.00: Misa Requiem di Gereja Katedral, Vila Verde – Dili
Setelah Misa: Pemakaman jenazah di Pemakaman Pastor di Maloa, Ailoklaran – Dili
Keuskupan Agung juga menyampaikan bahwa jika terdapat perubahan jadwal, akan diinformasikan lebih lanjut kepada umat. Ucapan terima kasih dan permohonan doa ditujukan kepada seluruh umat agar mendoakan jiwa Romo Domingos dan keluarga yang ditinggalkan.
Pejuang dan Gembala
Romo Domingos bukan hanya imam, tetapi juga seorang pejuang kemerdekaan dan pembela HAM dan keadilan. Semasa pendudukan Indonesia, ia aktif berkomunikasi dengan dunia luar untuk menyuarakan pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi di Timor-Timur (Timor-Leste). Karena keberaniannya, ia dipanggil ke Vatikan dan akhirnya diasingkan ke Portugal.
Ditahbiskan pada tahun 1978, ia kembali ke Timor pada tahun 1980 dan sempat ditempatkan di Viqueque sebelum menjadi tahanan rumah pada 1983.
Pada 1987, ia dipindahkan ke Dili, tempat ia terus berkontribusi dalam gerakan bawah tanah, menjalin kontak dengan Xanana Gusmão dan Konis Santana, serta membantu para gerilyawan.
Pada 1997, tekanan Indonesia memaksanya kembali ke luar negeri, di mana ia turut mempersiapkan Kongres pembentukan CNRT (Dewan Nasional Perlawanan Timor) di Portugal. Setelah kembali ke tanah air, ia menjadi koordinator CNRT di Dili.
Romo Domingos juga mengalami langsung masa-masa genting menjelang dan setelah referendum kemerdekaan. Ia sempat bersembunyi dari kekerasan milisi dan berjalan kaki ke Gunung Ramelau untuk berlindung dan berdoa.
Kenangan Terakhir
António Sampaio, mantan jurnalis LUSA Portugal, menulis dalam laman resminya bahwa ia sempat berbicara terakhir kali dengan Romo Domingos dalam penerbangan ke Dili pada 02 Mei lalu.
“Tadi malam aku masih berkesempatan mengucapkan selamat tinggal padanya,” kenangnya.
Ia menggambarkan Romo Domingos sebagai suara penting selama masa kelam Timor dan sosok yang tidak pernah lelah berjalan, baik secara harfiah maupun spiritual.
“Sekarang Anda telah melakukan perjalanan terakhir Anda,” tulis Sampaio menyentuh.
Romo Domingos, putra kelahiran Kotamadya Ermera, pada 12 Mei 1952. Selama hidupnya, ia dikenal sebagai sosok yang teguh dalam iman dan memiliki sejarah panjang dalam perjuangan kemerdekaan Timor-Leste, termasuk keterlibatannya dalam jaringan perlawanan saat masa pendudukan Indonesia.
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz




