DILI, 08 Juli 2026 (TATOLI) – Presiden Republik, José Ramos-Horta, berpartisipasi dalam acara pelepasan 135 pekerja Timor-Leste yang akan bekerja di Australia melalui Program Mobilitas Tenaga Kerja Australia bernama PALM (Pacific Australia Labour Mobility) Scheme.
Dalam kesempatan tersebut, Presiden Republik menegaskan bahwa para pekerja tidak hanya mencari penghidupan yang lebih baik, tetapi juga berkontribusi memperkuat perekonomian serta hubungan bilateral antara Timor-Leste dan Australia.
Pernyataan itu disampaikan Ramos-Horta saat menghadiri acara penandatanganan deklarasi antara pekerja, keluarga, dan pemerintah sebelum berangka ke Australia yang diselenggarakan oleh Sekretariat Negara untuk Pelatihan Profesional dan Ketenagakerjaan (SEFOPE) di Palm Springs Hotel, Fatuhada, Dili, Rabu.
“Selamat kepada SEFOPE atas kerja kerasnya dan kepada seluruh pemerintah. Terima kasih kepada Kedutaan Besar Australia dan Pemerintah Australia yang telah memberikan kesempatan ini. Australia masih membutuhkan tenaga kerja karena banyak generasi mudanya tidak lagi tertarik bekerja di sektor pertanian. Kehadiran pekerja Timor-Leste menjadi kontribusi penting bagi Australia,” ujar Ramos-Horta.
Menurutnya, hubungan ekonomi kedua negara saling berkaitan. Ketika ekonomi Australia tumbuh kuat, hal tersebut juga membawa manfaat bagi Timor-Leste melalui kesempatan kerja dan penghasilan yang diperoleh para pekerja migran. Sebaliknya, apabila ekonomi Australia mengalami perlambatan, dampaknya juga akan dirasakan oleh para pekerja Timor-Leste.

Ramos-Horta mengatakan para pekerja Timor-Leste beruntung karena memperoleh kesempatan bekerja dengan kondisi dan upah yang jauh lebih baik dibandingkan generasi pertama pekerja Timor-Leste yang berangkat ke Australia pada 1975 dan 1976 untuk bekerja di sektor manufaktur.
“Australia memberikan gaji yang baik. Kalian beruntung dengan situasi saat ini. Saya mengucapkan selamat dan semoga sukses selama bekerja di Australia,” katanya.
Presiden Republik juga mengungkapkan bahwa dalam berbagai pertemuannya dengan masyarakat Australia, ia kerap menerima pujian terhadap etos kerja pekerja asal Timor-Leste.
“Banyak orang Australia mengatakan kepada saya bahwa pekerja Timor-Leste bekerja dengan cepat, rajin, dan memiliki semangat kerja yang tinggi,” ungkapnya.
Sementara itu, Sekretaris Negara untuk Pelatihan Profesional dan Ketenagakerjaan (SEFOPE), Rogério Araújo Mendonça, melaporkan bahwa sebanyak 135 pekerja yang dilepas kali ini akan ditempatkan di 10 perusahaan di Australia, dengan jumlah pekerja yang diterima setiap perusahaan berkisar antara 10 hingga 20 orang.
Rogério mengatakan acara pelepasan ini menjadi momen istimewa baginya setelah hampir tiga tahun mengemban amanah sebagai Sekretaris Negara, karena untuk pertama kalinya dapat mendampingi Presiden Republik dalam seremoni pelepasan pekerja Program Mobilitas Tenaga Kerja Australia.
Ia menjelaskan bahwa Program Mobilitas Tenaga Kerja ke Australia dimulai pada 2012. Hingga keberangkatan kali ini, sebanyak 25.366 warga Timor-Leste telah memperoleh kesempatan bekerja di Australia melalui program tersebut.
Menurut Rogério, tradisi seremoni pelepasan pekerja dimulai sejak program penempatan tenaga kerja ke Korea Selatan pada 2009, kemudian Australia pada 2012, Jepang pada 2023, dan Selandia Baru pada 2025.
Ia menjelaskan bahwa penandatanganan deklarasi antara pekerja, keluarga, dan pemerintah bertujuan membangun komitmen bersama agar para pekerja memahami hak, kewajiban, serta tanggung jawab mereka selama bekerja di luar negeri.
“Melalui kegiatan ini kami memberikan motivasi dan pembekalan kepada para pekerja agar mematuhi kontrak kerja dan seluruh prosedur yang telah disepakati antara Pemerintah Timor-Leste dengan negara-negara mitra,” katanya.

Selain itu, para calon pekerja juga diberikan pemahaman mengenai hak-hak pekerja migran, perlindungan hukum, kewajiban menaati peraturan ketenagakerjaan di negara tujuan, serta peningkatan kompetensi profesional agar mampu memenuhi standar yang dibutuhkan perusahaan.
Rogério menambahkan bahwa pendekatan tersebut juga merupakan langkah pencegahan agar seluruh pekerja berangkat melalui mekanisme resmi pemerintah, sehingga memperoleh perlindungan hukum sesuai perjanjian bilateral yang telah disepakati.
Pada kesempatan yang sama, Wakil Duta Besar Australia untuk Timor-Leste, Edward Wilkinson, mengatakan para pekerja yang diberangkatkan kali ini akan bekerja di Queensland, South Australia, Tasmania, New South Wales, Victoria, dan Western Australia.
Menurutnya, para pekerja Timor-Leste akan memberikan kontribusi penting bagi berbagai sektor industri dan komunitas di Australia sekaligus memperkuat hubungan antarmasyarakat yang menjadi fondasi utama hubungan bilateral kedua negara.
“Australia tetap berkomitmen menjalin kemitraan yang erat dengan Pemerintah Timor-Leste untuk mendukung kesejahteraan pekerja Timor-Leste. Bersama SEFOPE dan para mitra lainnya, kami akan terus mendorong pengalaman kerja yang aman, positif, dan memberikan manfaat jangka panjang bagi para pekerja, keluarga mereka, serta pembangunan Timor-Leste,” ujar Edward.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pekerja yang akan berangkat karena melalui kerja keras mereka, para pekerja tidak hanya mendukung kebutuhan tenaga kerja di Australia, tetapi juga mempererat hubungan persahabatan antara masyarakat Australia dan Timor-Leste.
“Terima kasih atas kontribusi besar yang akan Anda berikan kepada Australia. Melalui kerja keras Anda, industri dan masyarakat Australia akan memperoleh manfaat, sekaligus memperkuat hubungan antarmasyarakat kedua negara,” tutup Edward.
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz




