DILI, 25 Mei 2026 (TATOLI) — Parlamen Nasional Timor-Leste menjadi tuan rumah kegiatan Executive Briefing yang diselenggarakan oleh ASEAN Inter-Parliamentary Assembly sebagai bagian dari persiapan integrasi penuh Timor-Leste ke dalam organisasi parlemen regional ASEAN tersebut.
Kegiatan tingkat tinggi yang berlangsung di Parlamen Nasional itu menghadirkan Sekretaris Jenderal AIPA, Chem Widhya, yang melakukan kunjungan resmi ke Timor-Leste sejak Minggu hingga Selasa ini. Agenda tersebut bertujuan memperkuat pemahaman anggota parlemen Timor-Leste mengenai mekanisme kelembagaan, proses deliberatif, dan tanggung jawab parlemen dalam konteks integrasi regional ASEAN.
Ketua Parlamen Nasional, Maria Fernanda Lay, dalam pidato pembukaan menekankan bahwa pertumbuhan inklusif tidak hanya diukur dari pembangunan fisik atau angka ekonomi, tetapi dari sejauh mana masyarakat benar-benar merasakan manfaat pembangunan tersebut.
“Pertumbuhan inklusif mengajukan pertanyaan yang sulit dan tidak dapat diukur hanya dengan angka, bukan tentang seberapa banyak yang dibangun, tetapi siapa yang tertinggal ketika pembangunan dilakukan,” ujar Maria Fernanda Lay.
Ia menambahkan bahwa parlemen memiliki tanggung jawab untuk memastikan suara masyarakat yang tertinggal tetap didengar dalam proses pembangunan dan integrasi regional. Menurutnya, Timor-Leste belajar dari sejarahnya sendiri bahwa pembangunan yang tidak melibatkan rakyat tidak akan bertahan lama.
Maria Fernanda Lay juga menegaskan pentingnya diplomasi parlementer dalam memastikan berbagai komitmen regional ASEAN dapat benar-benar memberikan dampak bagi masyarakat luas.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal AIPA, Chem Widhya, menyebut Executive Briefing tersebut sebagai tonggak sejarah baru dalam hubungan kerja sama antara Timor-Leste dan AIPA. Ia menyoroti perjalanan Timor-Leste sejak memperoleh status pengamat di AIPA pada 2013 hingga proses menuju keanggotaan penuh sebagai anggota ke-11 organisasi tersebut.
“ASEAN Inter-Parliamentary Assembly bukan hanya lembaga parlemen, tetapi platform dialog, kerja sama, dan tanggung jawab kolektif,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa parlemen di kawasan ASEAN saat ini mewakili sekitar 680 juta warga, sehingga diplomasi parlementer memiliki peran penting dalam menghadapi tantangan global seperti perubahan iklim, ketimpangan sosial, dan transformasi digital.
Chem Widhya juga menilai perlunya pembaruan berbagai instrumen hukum regional ASEAN, termasuk Traktat Persahabatan dan Kerja Sama Asia Tenggara serta Piagam ASEAN, agar tetap relevan dengan dinamika global saat ini.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Grup Nasional AIPA Timor-Leste, Maria Goru-Mali Barreto, mengatakan keterlibatan Timor-Leste di AIPA sejak 2013 menjadi langkah strategis dalam memperkuat partisipasi parlemen nasional di tingkat regional.
Ia menyebut pembentukan Grup Nasional AIPA di Timor-Leste sebagai tonggak penting bagi penguatan diplomasi parlementer negara tersebut.
Selain sesi diskusi dengan anggota parlemen, kegiatan Executive Briefing juga melibatkan mahasiswa dari Universidade Nacional Timor Lorosa’e melalui interaksi dan dialog mengenai diplomasi parlementer serta integrasi regional ASEAN.
Repoter : Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz




