DILI, 30 April 2026 (TATOLI) — Aktivis hak asasi manusia sekaligus salah satu pendiri East Timor and Indonesia Action Network (ETAN), John M. Miller, dilaporkan meninggal dunia. Mendiang meninggalkan jejak panjang perjuangan solidaritas internasional bagi Timor-Leste.
Kabar duka tersebut disampaikan oleh rekannya, Aderito Soares, melalui laman Facebook pada Kamis pagi. Dalam unggahannya, Aderito mengenang John sebagai sosok sederhana namun penuh dedikasi terhadap perjuangan pembebasan Timor-Leste.
“Pagi ini kami menerima kabar bahwa sahabat baik kami yang lain, John Miller (dari ETAN) telah kembali berpulang. John mendedikasikan dirinya untuk perjuangan pembebasan Timor-Leste,” tulis Aderito.
Ia juga mengenang kebersamaan mereka pada awal 2000-an, termasuk saat menggelar konferensi pers di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bersama tokoh internasional seperti Ian Martin, serta berbagai kegiatan advokasi dan demonstrasi, termasuk aksi menentang perang di Irak.
Menurut Aderito, John aktif mengajak aktivis Timor-Leste untuk terlibat dalam gerakan akar rumput di New York melalui War Resisters League. Bahkan, apartemen John di New York kerap menjadi tempat singgah bagi aktivis Timor-Leste.
“Dia menjalani hidup yang sangat sederhana, tetapi sangat murah hati dalam membantu orang lain,” tulisnya. “Selamat tinggal sahabat pejuang dan hati emas. Kau akan selalu dirindukan.”
Semasa hidupnya, John dikenal sebagai salah satu penggerak utama solidaritas internasional untuk Timor-Leste melalui ETAN, organisasi yang ia dirikan pada 1991 setelah tragedi Santa Cruz massacre di Dili.
Dalam refleksinya memperingati 20 tahun ETAN dalam laman resmi ETAN, John menegaskan bahwa organisasi tersebut lahir dari rasa tidak bisa tinggal diam melihat ketidakadilan yang terjadi di Timor-Leste. Ia percaya bahwa solidaritas internasional memiliki kekuatan nyata untuk mendorong perubahan.
Refleksi tersebut menggambarkan bagaimana ETAN bermula dari kelompok kecil aktivis di New York, namun berkembang menjadi jaringan global yang mampu mempengaruhi kebijakan internasional, termasuk menekan pemerintah Amerika Serikat untuk mengubah pendekatan terhadap Indonesia pada masa pendudukan Timor-Leste.
John M. Miller menjabat sebagai Koordinator Nasional ETAN sejak akhir 1990-an dan aktif dalam berbagai kampanye advokasi, termasuk isu hak asasi manusia di Timor-Leste, Indonesia, dan Papua Barat. Ia juga terlibat dalam misi pengamat referendum 1999 serta berbagai forum internasional.
Bersama ETAN, ia menerima penghargaan John Rumbiak Human Rights Defenders Award pada 2009, serta penghargaan negara Ordem de Timor-Leste pada 2003 sebagai pengakuan atas kontribusinya terhadap perjuangan rakyat Timor-Leste.
Sepanjang kariernya, John juga dikenal sebagai penulis dan editor berbagai publikasi advokasi serta kerap tampil di media internasional untuk menyuarakan isu keadilan dan demokrasi.
Kepergian John M. Miller menandai berakhirnya perjalanan seorang aktivis yang memulai langkahnya dari gerakan kecil di New York hingga menjadi bagian penting dari solidaritas global bagi Timor-Leste.
Namun, sebagaimana refleksinya semasa hidup, perjuangan untuk keadilan dan penentuan nasib sendiri akan terus berlanjut melalui jaringan solidaritas yang ia bangun.
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz




