DILI, 23 April 2026 (TATOLI) – Perdana Menteri, Xanana Gusmão mengakui bahwa masih terdapat kelemahan dalam sistem deteksi awal terhadap peredaran uang palsu di Timor-Leste, sehingga pemerintah perlu memperkuat kapasitas dan meninggkatkan sumber daya manusia (SDM), khususnya di lembaga investigasi dan pengawasan.
Pernyataan tersebut disampaikan Perdana Menteri dalam wawancara terkait meningkatnya perhatian terhadap aktivitas kejahatan terorganisir asing, termasuk praktik penipuan (scam) dan masuknya uang palsu ke dalam negeri.
“Kami belum sekuat negara seperti Australia atau Amerika Serikat, tetapi kami belajar dari situasi ini. Ketika kami mengetahui adanya aktivitas tersebut, kami langsung mengambil langkah untuk menutup semua kegiatan yang berkaitan dengan scam,” ujar PM Xanana kepada wartawan usai bertemu Presiden Republik, Jose Ramos-Horta di Istana Kepresidenan, Bairro Pite, Dili, Kamis ini.
Berita terkait : PNTL sita uang palsu senilai US$4 juta lebih di Bidau
Ia menambahkan bahwa pemerintah telah mengambil langkah dalam menangani kasus pencucian uang dan peredaran uang palsu, termasuk menyita uang dalam jumlah besar yang kemudian dikembalikan ke Singapura.
Namun demikian, PM Xanana mengakui bahwa dalam kasus terbaru terdapat kelemahan pada tahap awal pengawasan, khususnya di sektor bea cukai.
“Masalah dalam kasus terakhir sebagian besar terkait dengan bea cukai yang tidak mampu mendeteksi secara efektif. Untungnya, ketika uang tersebut digunakan untuk membeli barang, kasus ini berhasil teridentifikasi dan pelakunya ditangkap,” jelasnya.
Menurutnya, kondisi ini menjadi pelajaran penting bagi pemerintah untuk meningkatkan kapasitas SDM di institusi terkait, baik dalam hal investigasi maupun pengawasan di pintu masuk negara.
Pernyataan tersebut sejalan dengan pengungkapan kasus oleh Polícia Nacional de Timor-Leste (PNTL) melalui Direktorat Investigasi Kriminal Nasional (DNSIC), yang berhasil menyita lebih dari US$4 juta uang palsu di sebuah gudang di Bidau, Dili, pada 15 April 2026.
Dalam operasi tersebut, polisi menemukan uang kertas pecahan US$100 yang dikemas dalam beberapa kotak, dengan masing-masing kelompok bernilai sekitar US$30.000. Selain itu, aparat juga menyita uang koin yang diduga palsu.
Berita terkait :Cegah uang palsu, BCTL perkuat literasi keuangan dan transaksi digital
Hasil pengujian yang dilakukan bersama Bank Sentral Timor-Leste (BCTL) mengonfirmasi bahwa uang tersebut merupakan uang palsu.
Menanggapi upaya penanganan ke depan, Perdana Menteri menegaskan bahwa pemerintah terus memperkuat kerja sama internasional, termasuk dengan Australia dan Indonesia, melalui lembaga intelijen nasional dan kepolisian investigatif.
Ia menambahkan bahwa lembaga seperti Serviço Nacional de Inteligência (SNI) dan aparat investigasi lainnya saat ini tengah aktif menangani kasus tersebut serta memperluas koordinasi dengan mitra internasional.
Pemerintah menilai bahwa penguatan kapasitas SDM menjadi kunci utama dalam meningkatkan efektivitas deteksi dini serta pencegahan terhadap kejahatan finansial dan aktivitas kriminal lintas negara di Timor-Leste.
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz




