DILI, 16 April 2026 (TATOLI) – Bank Dunia menilai kinerja ekonomi Timor-Leste pada tahun 2025 menunjukkan tren positif dengan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) non-minyak sebesar 4,5 persen, tertinggi sejak 2014. Namun, di balik pencapaian tersebut, tantangan struktural yang mendasar masih membayangi keberlanjutan ekonomi negara.
Dalam laporan bertajuk Timor-Leste Economic Report: Leveling Up: How ASEAN Membership Can Support Timor-Leste’s Economic Transformation yang dirilis pada 16 April 2026, disebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi didukung oleh stabilitas politik, kelanjutan investasi infrastruktur, serta mulai berkembangnya aktivitas sektor swasta.
Penerimaan pajak domestik meningkat signifikan sebesar 31,6 persen, sementara jumlah wisatawan asing melonjak 40,1 persen. Selain itu, lapangan kerja di sektor non-minyak tercatat meningkat 27,6 persen dalam periode 2021 hingga 2024, menambah sekitar 14.400 pekerja.
Dana Perminyakan Timor-Leste juga menunjukkan ketahanan dengan saldo mencapai US$18,6 miliar pada akhir 2025, lebih kuat dibandingkan proyeksi sebelumnya, didukung oleh hasil investasi yang solid dan pengelolaan yang dinilai prudent.
Meski demikian, Bank Dunia menekankan bahwa struktur pertumbuhan ekonomi masih sempit dan sangat bergantung pada belanja pemerintah yang dibiayai melalui penarikan Dana Perminyakan.
“Pertumbuhan tetap sangat bergantung pada konsumsi rumah tangga dan pengeluaran publik,” demikian isi laporan tersebut.
Ketergantungan tersebut dinilai berisiko terhadap keberlanjutan fiskal, mengingat tanpa sumber daya baru, Dana Perminyakan diproyeksikan dapat mengalami penipisan sekitar tahun 2037 apabila kebijakan saat ini tidak berubah.
Dari sisi eksternal, ketidakseimbangan perdagangan semakin melebar. Defisit perdagangan barang mencapai 47 persen dari PDB non-minyak pada 2025, dengan nilai impor sebesar US$960 juta jauh melampaui ekspor non-minyak yang hanya US$41 juta.
Kopi masih mendominasi ekspor dengan kontribusi hampir 90 persen, mencerminkan rendahnya diversifikasi ekonomi nasional.
Di sektor ketenagakerjaan, pasar tenaga kerja masih menghadapi tantangan serius. Tingkat partisipasi angkatan kerja hanya mencapai 30,5 persen, sementara sekitar 30,5 persen pemuda usia 15–24 tahun tidak bekerja, bersekolah, maupun mengikuti pelatihan.
Sementara itu, tekanan fiskal terus meningkat. Defisit anggaran mencapai 49 persen dari PDB pada 2025, dengan total belanja pemerintah sebesar 93 persen dari PDB. Pendapatan domestik masih belum mampu menutup separuh kebutuhan belanja negara.
Transfer ke badan usaha milik negara (BUMN) mencapai 12 persen dari total pengeluaran pemerintah, bahkan melampaui gabungan anggaran sektor kesehatan dan pendidikan.
Bank Dunia menilai kondisi ini mencerminkan siklus ekonomi yang rapuh, di mana pertumbuhan yang didorong oleh belanja pemerintah meningkatkan impor, memperbesar defisit eksternal, dan pada akhirnya bergantung pada penarikan Dana Perminyakan.
Untuk itu, laporan tersebut menekankan pentingnya transformasi model ekonomi menuju pertumbuhan yang lebih berkelanjutan, dengan mendorong produktivitas, memperluas basis ekspor, serta memperkuat peran sektor swasta guna menjaga stabilitas ekonomi jangka panjang.
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz




