DILI, 16 Maret 2026 (TATOLI) — Komisi Pemilihan Nasional (CNE – Comissão Nacional de Eleições) Timor-Leste dan Komisi Pemilu (Pemilihan Umum) Federasi Rusia, Senin ini menandatangani perjanjian kerja sama yang difokuskan pada program pelatihan bagi petugas pemilu termasuk pelatihan pendidikan kewarganegaraan dan peningkatan kapasitas teknis.
Penandatanganan perjanjian kerja sama itu dilakukan antara Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Federasi Rusia untuk Republik Indonesia (RI) dan Timor-Leste, Sergei Gennadievich Tolchenov dan Ketua Komisi CNE, José Agostinho. Penandatanganan dilakukan di kantor CNE, Colmera-Dili, Senin ini.
Dubes Sergei Tolchenov mengatakan, penandantangan dan pertemuan ini didedikasikan untuk membahas kerja sama lebih lanjut antara Komisi Pemilihan Umum Federasi Rusia dan CNE Timor-Leste.
“Kedua lembaga telah berkolaborasi selama bertahun-tahun melalui pertukaran layanan dan pengalaman. Saya sangat senang bahwa tahun lalu delegasi dari Komisi Pemilihan Timor-Leste mengunjungi negara saya pada bulan September. Selama kunjungan itu, kami menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) tentang kerja sama bilateral di bidang pemilihan umum, dan kemungkinan kerja sama di tahun-tahun mendatang,” kata Dubes Sergei Tolchenov.
Dikatakan, tahun ini, pemilihan parlemen akan diadakan di Rusia, dan tahun depan, Timor-Leste akan mengadakan pemilihan Presiden Republik. Oleh karena itu, kami membahas bagaimana kedua lembaga dapat saling mendukung dan bertukar pengalaman serta pengetahuan di bidang pemilihan,” katanya.
Di tempat yang sama, Ketua Komisi CNE, José Agostinho mengatakan tujuan kunjungan ini adalah untuk memperkuat kerja sama yang sudah ada.
“Ini adalah pertama kalinya kami mengadakan pertemuan seperti ini untuk membahas secara langsung rencana kerja sama di masa depan. Kami juga berpartisipasi dalam berbagai organisasi internasional yang terkait dengan pemilu, seperti Organisasi Pemilu Dunia, di mana kami memiliki peran dalam struktur eksekutif organisasi tersebut. Jadi, terdapat hubungan kerja sama antara organisasi-organisasi internasional dengan CNE,” jelasnya.
Selain itu, kedua pihak juga membahas program pelatihan bagi petugas pemilu termasuk pelatihan pendidikan kewarganegaraan dan peningkatan kapasitas teknis. Dengan demikian, independensi tentu penting, tetapi memastikan demokrasi dan transparansi dalam proses pemilu bahkan lebih penting lagi.
“Kami berkolaborasi dengan beberapa negara, termasuk Rusia, dan kami telah banyak belajar tentang teknologi pemilu, termasuk penggunaan sistem pemungutan suara dan verifikasi elektronik dalam proses pemilu. Setiap negara memiliki karakteristik yang berbeda dalam proses pemilunya, termasuk kondisi sosial yang berbeda, daerah pedesaan, dan struktur administrasi. Oleh karena itu, pertukaran pengalaman sangat penting,” kata José Agostino.
Dikatakan, selama ini CNE juga telah berbagi pengalaman dengan negara-negara di Eropa, Amerika Latin, dan Afrika mengenai manajemen pemilu dan penguatan lembaga demokrasi.
Ia menggarisbawahi bahwa Komisi Pemilihan Nasional juga menggunakan sistem elektronik termasuk komunikasi resmi melalui email pemerintah.
“Selain itu, kami membahas pentingnya pelatihan dalam diplomasi, protokol, dan teknologi informasi. Teknologi, khususnya internet, memainkan peran penting dalam memodernisasi sistem pemilihan,” pungkasnya.
Reporter : Osória Marques (Penerjemah : Armandina Moniz)
Editor : Xisto Freitas da Piedade




