DILI, 05 Februari 2026 (TATOLI) — Presiden Republik Timor-Leste, Jose Ramos-Horta melakukan pertemuan singkat namun bermakna dengan Kardinal José Tolentino de Mendonça yang merupakan Perwakilan Takhta Suci dan Prefek Dikasteri untuk Budaya dan Pendidikan. Dalam pertemuan Kepala Negara Timor-Leste menyoroti komitmen negara terhadap misi global persaudaraan manusia.
Dalam pertemuan yang diadakan di sela-sela Gala Zayed Award for Human Fraternity 2026 yang bergengsi diadakan di Founder’s Memorial, Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA), pada Rabu (04/02).
Diakses dari Laman Istana Kepresidenan TL, disebutkan bahwa, dalam pertemuan tersebut kedua tokoh tersebut bertemu untuk menghormati upaya global dalam membina hubungan manusia dan rekonsiliasi.
Dalam pertukaran ide selama pertemuan, Presiden Ramos-Horta dan Kardinal Tolentino de Mendonça menekankan bahwa pendidikan dan budaya adalah pilar penting untuk mencapai perdamaian abadi dan menjaga martabat manusia.
Berita terkait : Mgr. Virgílio Kardinal bangga TL adopsi dokumen persaudaraan manusia
Dimana, keduanya membahas pentingnya dialog antarbudaya dan antaragama, serta mencatat bahwa elemen-elemen ini sangat mendasar untuk menciptakan dunia yang lebih harmonis.
Sebagai Peraih Nobel Perdamaian, Presiden Republik juga menyoroti bagaimana nilai-nilai ini selaras dengan identitas nasional Timor-Leste dan komitmennya terhadap misi global persaudaraan manusia.
Pertemuan ini menggarisbawahi hubungan yang mendalam dan abadi antara Timor-Leste dan Takhta Suci, terutama dalam advokasi bersama mereka terhadap prinsip-prinsip yang terkandung dalam Dokumen Persaudaraan Manusia.
Timor-Leste sendiri telah mengadopsi dokumen tentang ‘Fraternidade Humana em prol da Paz Mundial e da Convivência Comum’ (Persaudaraan Manusia untuk Perdamaian Dunia dan Koeksistensi Bersama), setelah Parlemen Nasional (PN) pada Mei 2022 lalu menyetujui resolusi tersebut.
Dokumen tersebut merupakan pernyataan bersama yang ditandatangani oleh Paus Fransiskus dan Imam Besar Al-Azhar, Sheikh Ahmed el-Tayeb, pada 4 Februari 2019, setelah perjalanan apostolik Bapa Suci ke Uni Emirat Arab, antara 03 dan 05 Februari 2019. Isi dokumen tersebut menyoroti tentang pentingnya peran agama dalam membangun perdamaian dunia.
Misi global persaudaraan manusia itu sendiri adalah bagaimana mewujudkan perdamaian, toleransi, dan keadilan di seluruh dunia dengan merangkul perbedaan agama, ras, dan budaya, berdasarkan semangat Dokumen Persaudaraan Manusia (Abu Dhabi, 2019) yang dipromosikan oleh Paus Fransiskus dan Imam Besar Al-Azhar.
Misi ini mendorong dialog antarumat beragama, solidaritas global untuk isu kemanusiaan seperti kemiskinan dan pengungsi, serta penegakan hak asasi manusia, demi menciptakan dunia yang lebih adil dan harmonis, bukan hanya retorika diplomatik, melainkan aksi nyata.
TATOLI




