AILEU, 02 Februari 2026 (TATOLI) – Pemerintah Timor-Leste memperingati seperempat abad transformasi Angkatan Bersenjata Pembebasan Nasional Timor-Leste/Forças Armadas de Libertação Nacional de Timor-Leste (FALINTIL) menjadi Angkatan Pertahanan Timor-Leste/FALINTIL-Forsa Defeza Timor-Leste (F-FDTL) di Aileu, dengan menegaskan komitmen terhadap profesionalisasi, modernisasi, dan penguatan peran angkatan bersenjata dalam menjaga kedaulatan nasional.
Upacara peringatan 25 tahun transformasi FALINTIL menjadi F-FDTL digelar di lapangan sepak bola Kotamadya Aileu, Senin (02/02) sebagai momentum reflektif untuk mengenang perjuangan pembebasan nasional, sekaligus menegaskan proses konsolidasi kelembagaan angkatan bersenjata dalam menghadapi tantangan pertahanan di era modern.
Kepala Staf Pertahanan F-FDTL, Letnan Jenderal Falur Rate Laek, menegaskan bahwa transformasi FALINTIL menjadi angkatan bersenjata reguler merupakan tonggak sejarah penting bagi Timor-Leste sebagai negara berdaulat.
“Transformasi ini memungkinkan peralihan dari perlawanan bersenjata menuju lembaga militer yang profesional, modern, dan sah secara konstitusional,” kata Falur Rate Laek.
Berita terkait : Timor – Leste siap rayakan HUT 50 Tahun FALINTIL secara nasional
Ia menjelaskan bahwa upaya menjaga kedaulatan nasional tidak hanya bertumpu pada keberanian, tetapi juga pada institusionalisasi, profesionalisasi, dan modernisasi angkatan bersenjata guna menjamin stabilitas dan kredibilitas lembaga militer.
Dalam pidatonya, Falur Rate Laek turut mengapresiasi kontribusi para instruktur dari Portugal pada masa awal transisi, khususnya Kolonel Manuel Afonso dan Luís Manuel Braz Bernardino, yang dinilainya berperan penting dalam menjembatani perjuangan pembebasan dengan pembentukan angkatan pertahanan yang modern.
Ia juga menyoroti pentingnya investasi sumber daya manusia serta penguatan kerangka hukum lembaga militer, termasuk penerapan Statuta Personel Militer F-FDTL sebagai bentuk keadilan historis bagi para mantan pejuang.
“Ini merupakan transisi yang rumit, tetapi mutlak diperlukan untuk menjamin hak pensiun dan status cadangan secara bermartabat bagi mereka yang telah berjuang demi kemerdekaan,” ujarnya.
Falur Rate Laek menambahkan bahwa peresmian Akademi Militer Gabungan di Aileu menjadi langkah strategis bagi masa depan F-FDTL, karena menandai awal konsolidasi doktrin dan budaya militer yang solid.
Menurutnya, akademi tersebut akan menjadi pusat pembentukan pemimpin militer yang kompeten secara teknis, berlandaskan etika, serta siap menghadapi tantangan keamanan regional dan global.
Sementara itu, Menteri Pertahanan, Donaciano Gomes atau Pedro Klamar Fuik, yang memimpin upacara mewakili Perdana Menteri Xanana Gusmão, menegaskan bahwa FALINTIL merupakan salah satu pilar utama pembebasan nasional Timor-Leste.
Ia mengatakan bahwa selama 25 tahun terakhir, Angkatan Pertahanan Timor-Leste telah mengalami perkembangan signifikan dalam struktur, doktrin, dan kematangan kelembagaan, termasuk penguatan komponen darat dan laut serta inisiasi komponen udara.
Pedro Klamar Fuik menekankan bahwa F-FDTL kini telah memantapkan diri sebagai angkatan bersenjata yang demokratis, berada di bawah kontrol sipil, menghormati hak asasi manusia, dan berkomitmen pada nilai-nilai konstitusional.
Ia juga mengakui bahwa F-FDTL menghadapi tantangan yang semakin kompleks, seperti bencana alam, krisis kemanusiaan, kejahatan lintas negara, penangkapan ikan ilegal, hingga disinformasi.
Dalam konteks tersebut, ia menegaskan peran angkatan bersenjata sebagai instrumen keamanan manusia, khususnya melalui keterlibatan aktif dalam mendukung masyarakat dalam situasi darurat. Pemerintah, lanjutnya, berkomitmen untuk terus memperkuat F-FDTL melalui modernisasi kapasitas, peningkatan pelatihan, penguatan layanan kesehatan militer, serta dukungan sosial bagi personel dan keluarga.
Upacara peringatan tersebut dihadiri Ketua Mahkamah Banding, Afonso Carmona, para mantan pejabat negara, anggota parlemen dan pejabat pemerintah, perwakilan angkatan bersenjata dari Portugal, Malaysia, Australia, dan Filipina, korps diplomatik dan konsuler, Kepolisian Nasional Timor-Leste (PNTL), pejabat pemerintah daerah Aileu, para veteran, serta perwakilan lembaga internasional.
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Julia Chatarina




