iklan

EKONOMI, HEADLINE

Teknologi Juncao China dinilai cocok dukung program pangan Timor-Leste  

Teknologi Juncao China dinilai cocok dukung program pangan Timor-Leste   

Sekretaris Negara untuk Koperasi, Arsénio Pereira, menerima kunjungan delegasi dari Universitas Pertanian dan Kehutanan Fujian (Fujian Agriculture and Forestry University/FAFU), Republik Rakyat China, di Aula Kantor SEKoop, Acait, Dili, Selasa (20/01). Foto TATOLI/António Daciparu

DILI, 20 Januari 2026 (TATOLI) – Sekretariat Negara untuk Koperasi (SEKoop) pada Selasa ini menerima kunjungan delegasi dari Universitas Pertanian dan Kehutanan Fujian (Fujian Agriculture and Forestry University/FAFU), Republik Rakyat China, untuk memperkenalkan implementasi teknologi pertanian Juncao di Timor-Leste.

Teknologi Juncao merupakan inovasi pertanian asal China yang memanfaatkan rumput, khususnya jenis Juncao, sebagai media tanam jamur, pakan ternak, serta solusi pemulihan lingkungan. Teknologi ini dikenal sederhana, berbiaya rendah, dan ramah lingkungan sehingga banyak diadopsi di berbagai negara berkembang.

Sekretaris Negara untuk Koperasi, Arsénio Pereira, menjelaskan bahwa teknologi Juncao adalah rumput multifungsi yang dapat digunakan untuk konservasi tanah karena akarnya mampu menahan erosi, sebagai pakan ternak seperti sapi dan domba, serta sebagai media produksi jamur konsumsi.

Ia mengatakan teknologi Juncao telah diimplementasikan di lebih dari 100 negara di dunia, termasuk di China, Afrika, Amerika, dan kawasan lainnya.

“Teknologi Juncao sangat bagus dan dapat diterapkan di negara kita karena dapat ditanam di mana saja, baik di lereng gunung, tanah terjal, maupun pantai berpasir. Rumput ini memiliki banyak fungsi, bisa untuk beternak dan juga menghasilkan jamur,” kata Arsénio Pereira kepada wartawan usai pertemuan yang dgelar di Aula Kantor SEKoop, Acait, Dili, Selasa ini.

Berita terkait : Investor China-Hong Kong-Singapura bertemu Presiden Ramos-Horta bahas rencana investasi  

Menurutnya, teknologi Juncao sangat penting karena sejalan dengan program SEKoop, khususnya dalam mendukung produksi susu sapi dan penguatan sektor-sektor produktif lainnya. Ia juga menyoroti peluang kerja sama pendidikan, mengingat FAFU memiliki universitas yang dapat menerima warga Timor-Leste untuk melanjutkan studi hingga jenjang magister.

“Saya juga meminta agar kita dapat memulai proyek percontohan, karena kita memiliki dua pusat di Betanu dan Lospalos. Kita bisa menggunakan satu hingga dua hektar untuk proyek percontohan ini, dengan para ahli dari China datang untuk mengajar dan bekerja sama langsung dengan masyarakat Timor-Leste, karena ini adalah investasi untuk masa depan,” ujarnya.

Di tempat yang sama, Kepala Ilmuwan Pusat Penelitian Rekayasa Nasional Teknologi Juncao China dari FAFU, Prof. Lin Zhanxi, menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Timor-Leste atas penerimaan dan kesempatan untuk memperkenalkan teknologi Juncao.

Ia menjelaskan bahwa teknologi Juncao memberikan berbagai manfaat di sektor pertanian karena rumput tersebut cukup ditanam sekali dan dapat dipanen sepanjang tahun.

“Kondisi Timor-Leste sangat baik untuk implementasi teknologi ini. Rumput Juncao dapat tumbuh hingga lebih dari satu meter dan dapat dipanen secara berkelanjutan hingga 20 tahun,” katanya.

Menurut Prof. Lin, teknologi Juncao bertujuan memperkuat sistem pangan yang berkelanjutan dan tangguh. Selain menggunakan rumput kering yang tumbuh cepat dan tersedia secara lokal sebagai pengganti kayu atau jerami untuk budidaya jamur, teknologi ini juga membantu mengurangi tekanan terhadap hutan serta memberikan pilihan yang hemat biaya dan ramah lingkungan bagi petani kecil.

Pendekatan Juncao turut mendukung peningkatan gizi dan ketahanan pangan melalui produksi jamur yang kaya protein dan mikronutrien, sehingga dapat menstabilkan pasokan pangan dan mendiversifikasi pola konsumsi masyarakat. Selain itu, proyek ini juga memperkuat kapasitas lokal melalui pelatihan praktis guna mendorong adopsi teknologi yang berkelanjutan.

Untuk memajukan inisiatif tersebut, misi teknis khusus dari FAFU telah berada di Timor-Leste pada 14 hingga 20 Januari 2026 guna mendukung penyusunan rencana aksi fase percontohan proyek Juncao. Misi ini bertujuan menilai kelayakan teknis, mengidentifikasi lokasi percontohan yang tepat, serta menyepakati mekanisme implementasi bersama mitra nasional.

Tim misi FAFU yang bertemu dengan SEKoop terdiri dari Kepala Ilmuwan Pusat Penelitian Rekayasa Nasional Teknologi Juncao China Prof. Lin Zhanxi, Wakil Direktur Dr. Lin Dongmei, Pakar Teknis Dr. Cai Yangxing, serta Manajer Proyek Yan Fan.

Delegasi FAFU datang ke Timor-Leste dalam rangka dukungan World Food Programme (WFP) yang bekerja sama dengan Pemerintah Republik Rakyat China untuk mengimplementasikan proyek percontohan rantai nilai pangan guna meningkatkan hasil gizi dan ketahanan pangan di Timor-Leste. 

Reporter : Cidalia Fátima

Editor    : Armandina Moniz

iklan
iklan

Leave a Reply

iklan
error: Content is protected !!