Penulis : Felisbela Amaral Orleans de Oliveira
Pengantar
Anemia kehamilan masih menjadi tantangan besar di Timor-Leste khususnya di kalangan wanita usia muda. Data nasional menunjukkan bahwa remaja putri dan ibu muda (<24 tahun) memiliki risiko anemia yang lebih tinggi dibanding kelompok usia lainnya. Kondisi ini bukan hanya memperburuk kesehatan ibu, tetapi juga meningkatkan risiko bayi lahir dengan berat badan rendah (BBLR), prematuritas, hingga kematian neonatal (Timor-Leste Demographic and Health Survey (TLDHS) 2016).
Namun, di balik masalah kesehatan ini, tersembunyi persoalan structural ketidaksetaraan gender, lemahnya akses informasi, keterbatasan kontrol terhadap keputusan keluarga, dan kondisi ekonomi yang belum mandiri, sosial budaya. Karena itu, anemia kehamilan bukan hanya persoalan medis tetapi persoalan pemberdayaan. Anemia pada kehamilan tetap menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Data WHO (2021) menunjukkan bahwa sekitar 40-42 % ibu hamil secara global menderita anemia, dengan angka yang lebih tinggi di negara berkembang. Kondisi ini bukan hanya mengancam keselamatan ibu, tetapi juga berdampak jangka panjang pada perkembangan janin. Artikel ini menganalisis faktor-faktor gizi dan peran pemberdayaan wanita usia usia muda dalam pencegahan anemia kehamilan.
Anemia kehamilan merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat paling persisten di negara berkembang, termasuk di kawasan Asia Tenggara dan khususnya pada kelompok wanita usia muda. Berbagai laporan menunjukkan bahwa wanita hamil berusia 15–25 tahun memiliki kerentanan yang lebih tinggi terhadap anemia dibandingkan kelompok usia lainnya, akibat kombinasi faktor biologis, sosial, ekonomi, dan perilaku yang saling memperkuat. Secara global maupun regional, kajian mutakhir menunjukkan bahwa status gizi kehamilan termasuk asupan zat besi, folat, protein, dan indikator antropometri mempunyai hubungan erat dengan kejadian anemia selama kehamilan. Namun, faktor-faktor tersebut tidak berdiri sendiri. Pemberdayaan wanita, terutama dalam bentuk pendidikan, kapasitas pengambilan keputusan, kebebasan ekonomi, dan akses terhadap layanan kesehatan, terbukti memainkan peran penting dalam memengaruhi perilaku gizi, kepatuhan konsumsi suplemen Fe-folat, serta pemanfaatan layanan antenatal care (Author, 2020))
Kesenjangan lain terletak pada inkonsistensi definisi dan instrumen pengukuran pemberdayaan yang digunakan dalam penelitian sebelumnya. Variabilitas instrumen ini menyebabkan hasil studi sulit dibandingkan, disintesis, maupun diterapkan dalam konteks kebijakan. Selain itu, studi yang secara khusus meneliti wanita usia muda secara terpisah dari kelompok usia reproduksi umum juga masih sangat terbatas, padahal kelompok ini memiliki karakteristik sosiodemografis dan reproduktif yang berbeda, seperti risiko pernikahan dini, rendahnya kemandirian ekonomi, serta keterbatasan pengambilan keputusan kesehatan (Author(s). (2018).
Berdasarkan data anemia menurut WHO / Profil SDG Timor-Leste (2019), 40% anak-anak usia 6–59 bulan menderita anemia., Prevalensi anemia pada wanita usia reproduktif (15–49 tahun) di Timor-Leste menderita anemia tercatat 29,9%, Untuk wanita hamil, prevalensi anemia tercatat 38%. wanita non-hamil (15–49 tahun) mengalami anemia 30%.
Berdasarkan data UNFPA / Demography Healt Survey Timor-Leste (2016). Data menunjukkan MMR sekitar 195 per 100.000 kelahiran hidup, Sekitar 23 % wanita usia 15-49 tahun di Timor-Leste menderita anemia, Untuk ibu hamil, prevalensi anemia lebih tinggi 37%. Untuk anak-anak usia 6–59 bulan: “empat dari sepuluh” ( 40%) anak-anak dalam rentang usia tersebut mengalami anemia.
Berdasarkan Data yang diambil dari Rumah Sakit menunjukkan bahwa pada tahun 2021 terdapat 7 ibu mengalami anemia, tahun 2022 terdapat 4 ibu, tahun 2023 terdpat 12 ibu, tahun 2024 terdapat 16 ibu dan pada tahun 2025 mulai dari bulan Januari-July terdapat 23 ibu hamil yan mengalami anemia berat pada saat hamil (Rekam medis atau laporan rutin Rumah Sakit Rujukan Baucau).
Dampak Anemia pada Wanita Usia Muda terhadap Upaya Pencegahan Anemia Kehamilan
Beard, 2000; Black et al., (2013). Anemia pada wanita usia muda merupakan masalah kesehatan masyarakat yang berkontribusi signifikan terhadap tingginya prevalensi anemia kehamilan. Wanita usia muda, khususnya di bawah 24 tahun, berada pada fase transisi biologis dan reproduksi yang ditandai oleh kebutuhan zat gizi mikro yang meningkat, terutama zat besi. Ketika anemia telah terjadi sebelum kehamilan, kondisi ini secara langsung menurunkan cadangan zat besi tubuh dan meningkatkan kerentanan terhadap anemia selama kehamilan, sehingga menghambat efektivitas strategi pencegahan yang berfokus pada periode antenatal.
Secara biologis, anemia pada wanita usia muda menyebabkan defisit zat besi kronis yang sulit dikompensasi hanya melalui suplementasi selama kehamilan. Banyak intervensi pencegahan anemia kehamilan seperti pemberian tablet tambah darah dirancang dengan asumsi bahwa wanita memasuki kehamilan dalam kondisi gizi yang relatif adekuat. Namun, pada wanita usia muda yang telah mengalami anemia, respons terhadap suplementasi sering kali suboptimal, meningkatkan risiko anemia persisten, kelelahan maternal, dan komplikasi kehamilan (Scholl, 2011; Black et al., 2013)
Selain faktor biologis, anemia pada wanita usia muda berdampak pada aspek perilaku dan sosial. Kondisi anemia sering dikaitkan dengan rendahnya energi, konsentrasi, dan produktivitas, yang pada gilirannya memengaruhi kepatuhan terhadap konsumsi suplemen zat besi, kualitas pola makan, dan keteraturan kunjungan antenatal (Haas & Brownlie, 2001; Beard, 2001).. Di banyak konteks sosial, wanita usia muda juga memiliki keterbatasan dalam pengambilan keputusan terkait kesehatan, sehingga upaya pencegahan anemia kehamilan menjadi kurang optimal meskipun layanan kesehatan tersedia (Kabeer, 1999; Pratley, 2016)
Lebih jauh, anemia pada wanita usia muda mencerminkan adanya kerentanan struktural, seperti pendidikan rendah, kemiskinan, dan keterbatasan akses terhadap informasi gizi dan kesehatan reproduksi (WHO, 2010; Balarajan et al., 2011). Kerentanan ini tidak hanya meningkatkan risiko anemia sebelum kehamilan, tetapi juga melemahkan kapasitas wanita muda untuk berpartisipasi aktif dalam program pencegahan anemia kehamilan (Smith et al., 2003; Pratley, 2016). Tanpa pendekatan yang mengintegrasikan pemberdayaan perempuan, intervensi gizi cenderung bersifat kuratif dan kurang berkelanjutan, terutama pada kelompok usia muda yang menghadapi keterbatasan struktural multidimensi (Kabeer, 1999; Ruel & Alderman, 2013)
Dari perspektif siklus kehidupan, kegagalan mencegah anemia pada wanita usia muda berkontribusi terhadap dampak antar-generasi, termasuk meningkatnya risiko bayi lahir dengan berat badan lahir rendah dan gangguan pertumbuhan janin (Victora et al., 2008; Rahman et al., 2016). Anemia sebelum dan selama kehamilan memperkuat siklus malnutrisi antar-generasi yang berdampak pada kesehatan anak hingga dewasa (Black et al., 2013). Hal ini menegaskan bahwa pencegahan anemia kehamilan tidak dapat dipisahkan dari upaya pencegahan anemia pada wanita usia muda. Oleh karena itu, pendekatan berbasis life-course yang menargetkan wanita sebelum kehamilan merupakan strategi kunci untuk menurunkan beban anemia maternal secara berkelanjutan (Dean et al., 2014; WHO, 2017).
Anemia pada wanita usia muda merupakan masalah kesehatan masyarakat yang bersifat lintas siklus kehidupan dan berimplikasi langsung terhadap keberhasilan pencegahan anemia selama kehamilan (Victora et al., 2008; WHO, 2010). Wanita usia muda, terutama di bawah 24 tahun, berada pada fase pertumbuhan biologis, psikososial, dan reproduksi yang masih berlangsung, sehingga kebutuhan zat gizi mikro, khususnya zat besi, relatif lebih tinggi dibandingkan kelompok usia dewasa (Beard, 2000; Black et al., 2013). Ketika anemia telah terjadi sebelum kehamilan, kondisi ini menjadi faktor risiko utama anemia kehamilan yang persisten dan sulit dicegah (Balarajan et al., 2011; Scholl, 2011).
1. Dampak Biologis: Cadangan Zat Besi Rendah Sejak Pra-Kehamilan
Anemia pada wanita usia muda menyebabkan rendahnya cadangan zat besi tubuh sebelum memasuki kehamilan, sehingga suplementasi zat besi selama kehamilan sering kali tidak cukup untuk mengoreksi defisit yang telah berlangsung lama (Beard, 2000; Bothwell, 2000; Pena-Rosas & Viteri, 2009). Kondisi ini meningkatkan risiko anemia kehamilan berat dan kronis, kegagalan peningkatan kadar hemoglobin meskipun mendapat tablet tambah darah, serta komplikasi kehamilan seperti perdarahan dan infeksi (Balarajan et al., 2011; Scholl, 2011; Milman, 2006). Dengan demikian, anemia prakehamilan secara signifikan melemahkan efektivitas strategi pencegahan anemia kehamilan yang hanya difokuskan pada periode antenatal (WHO, 2012; Dean et al., 2014).
2. Dampak terhadap Perilaku Pencegahan Kesehatan dan Gizi
Wanita usia muda yang mengalami anemia cenderung memiliki tingkat energi, konsentrasi, dan motivasi yang rendah, sehingga berdampak pada rendahnya kepatuhan konsumsi tablet zat besi, keterlambatan atau ketidakteraturan kunjungan antenatal, serta kurangnya perhatian terhadap pola makan bergizi seimbang (Haas & Brownlie, 2001; Beard, 2001; Galloway & McGuire, 1994; WHO, 2016). Anemia juga sering berkaitan dengan rendahnya pengetahuan gizi dan kesehatan reproduksi, sehingga upaya pencegahan anemia kehamilan menjadi kurang optimal (Pratley, 2016; Upadhyay et al., 2014; Smith et al., 2003).Dampak Psikososial dan Pemberdayaan
3. Dampak Antar-Generasi (Intergenerational Effect)
Anemia yang dialami wanita usia muda sebelum dan selama kehamilan berkontribusi terhadap risiko bayi lahir dengan berat badan lahir rendah (BBLR), gangguan pertumbuhan janin, dan stunting dini, serta memperkuat siklus malnutrisi antar-generasi (Rahman et al., 2016; Scholl, 2011; Victora et al., 2008; Black et al., 2013; Dewey & Begum2011). Hal ini menegaskan bahwa kegagalan mencegah anemia pada wanita usia muda tidak hanya berdampak pada ibu, tetapi juga pada kesehatan generasi berikutnya.
Temuan ini menunjukkan bahwa pencegahan anemia kehamilan tidak dapat dimulai saat kehamilan saja, melainkan harus dimulai sejak remaja dan wanita usia muda, melalui intervensi pra-kehamilan yang mengintegrasikan gizi, kesehatan reproduksi, dan pemberdayaan perempuan (Dean et al., 2014; WHO, 2017). Strategi ini perlu berbasis pada konteks sosial dan budaya lokal Timor Leste agar lebih efektif, termasuk mempertimbangkan norma masyarakat, kebiasaan makan, dan akses perempuan terhadap layanan kesehatan (Bhutta et al., 2013; WHO, 2010).
Analisis kebijakan Kesehatan
- Pengetahuan gizi reproduksi masih rendah
Mayoritas wanita muda belum memahami kebutuhan gizi sebelum dan selama kehamilan. Minimnya literasi gizi membuat mereka tidak mengenali tanda-tanda anemia, pentingnya suplementasi zat besi, maupun cara mengakses layanan kesehatan. Program penyuluhan gizi sebagian besar berfokus pada ibu hamil, padahal perubahan perilaku harus dimulai jauh sebelum menikah atau hamil (Dean et al., 2014; WHO, 2017).
- Ketergantungan ekonomi membatasi pilihan
Banyak ibu muda di Timor‑Leste bergantung sepenuhnya pada keluarga atau pasangan dalam pengambilan keputusan finansial, yang berdampak pada kemampuan mereka mengakses makanan bergizi, suplemen, atau layanan kesehatan. Ketergantungan ini terkait dengan rendahnya otonomi perempuan dalam mengendalikan pendapatan dan mengarahkan alokasi sumber daya di rumah tangga ADRA Timor‑Leste, 2025). Dalam banyak komunitas, keputusan terkait reproduksi dan prioritas kesehatan masih dipengaruhi oleh norma sosial dan struktur kekuasaan tradisional, sehingga ketika ekonomi keluarga terbatas, kebutuhan ibu muda sering kali tidak menjadi prioritas
- Norma gender menempatkan wanita usia sebagai pengambil keputusan terakhir
Dalam banyak komunitas, keputusan tentang makanan, kesehatan, dan pembagian sumber daya masih didominasi oleh laki‑laki atau orang tua, sehingga wanita usia muda sering kali tidak dilibatkan dalam diskusi kesehatan reproduksi dan gizi (Betrilia, Sitepu, & Lestarika, 2024; Soraya, Wijaya, & Panis, 2025). Hambatan ini diperkuat oleh norma sosial dan budaya patriarki yang membatasi otonomi perempuan dalam mengambil keputusan kesehatan, termasuk keputusan reproduksi (Putri, Suryani, & Kusumaningrum, 2025; UNICEF, 2024). Tanpa kebijakan kesehatan yang sensitif gender dan upaya pemberdayaan, ketidaksetaraan ini cenderung terus berlanjut (WHO, 2010; UNICEF, 2024).
- Akses informasi kesehatan yang tidak merata
Meskipun penggunaan media digital untuk menyebarkan informasi kesehatan semakin meningkat, tidak semua remaja putri memiliki akses internet atau perangkat yang memadai untuk memanfaatkan sumber‑sumber tersebut secara penuh. Laporan UNICEF menyatakan bahwa puluhan juta remaja putri tidak memiliki akses internet yang setara dibanding rekan pria mereka, sehingga mereka berpotensi tertinggal dalam mendapatkan informasi kesehatan penting (UNICEF, 2025). Tantangan lain adalah kesenjangan dalam literasi kesehatan digital, di mana kemampuan memahami dan menggunakan informasi digital berperan penting dalam mengakses dan menerapkan informasi kesehatan secara efektif (Maulia, 2025).
- Ruang partisipasi wanita usia muda masih terbatas
Banyak program kesehatan atau gizi belum memberi ruang bagi wanita usia muda untuk berpartisipasi sebagai agen perubahan. Keterlibatan mereka sering kali bersifat pasif, hanya sebagai penerima program, bukan sebagai perencana atau pelaksana (Ruel & Alderman, 2013; FAO, 2011).
Rekomendasi Kebijakan Kesehatan
a. Edukasi gizi dan kesehatan reproduksi berbasis sekolah dan komunitas
Program gizi perlu diperluas ke tingkat remaja putri sebelum mereka memasuki usia pernikahan atau kehamilan. Kurikulum sekolah dan kelompok remaja dapat menjadi pintu masuk yang strategis.
b. Penguatan ekonomi wanita usia muda
Pelatihan keterampilan kerja, program kewirausahaan, dan dukungan modal kecil dapat meningkatkan kemandirian ekonomi. Ketika wanita usia muda punya kontrol atas sumber daya, keputusan kesehatan menjadi lebih cepat dan terarah.
c. Menjadikan laki-laki sebagai mitra dalam kesehatan reproduksi
Program harus mengajak suami, pasangan, dan anggota keluarga laki-laki untuk memahami pentingnya gizi ibu dan pencegahan anemia. Pendekatan keluarga komprehensif terbukti efektif menurunkan anemia kehamilan.
d. Akses informasi yang ramah remaja dan berbasis digital
Pemerintah dan mitra pembangunan dapat mengembangkan konten edukasi visual yang mudah dipahami, termasuk video pendek, infografik, dan kampanye media sosial dalam bahasa lokal.
e. Meningkatkan partisipasi wanita usia muda dalam perencanaan program
Melibatkan wanita usia muda sebagai fasilitator, kader gizi muda, atau duta kesehatan dapat meningkatkan kepercayaan diri sekaligus memastikan program sesuai kebutuhan kelompok sasaran.
Kesimpulan
Anemia kehamilan tidak hanya disebabkan kurangnya zat besi tetapi juga kurangnya kesempatan bagi wanita usia muda untuk berdaya. Pencegahan anemia memerlukan perubahan kebijakan yang lebih progresif, tidak hanya berfokus pada intervensi medis, tetapi juga pada pemberdayaan ekonomi, penguatan pengetahuan, kesetaraan gender, dan partisipasi wanita usia muda dalam pengambilan keputusan. Jika pemerintah, fasilitas kesehatan, dan komunitas mampu bekerja bersama memberdayakan wanita usia muda, maka pencegahan anemia bukan hanya mungkin, tetapi dapat menjadi gerakan nasional yang menyelamatkan generasi di masa depan.
NPM : 2506560836
Afillisiasi : Mahasiswa Program Doktor FKM-UI




