DILI, 30 Mei 2026 (TATOLI)— Presiden Republik, Jose Ramos-Horta menyampaikan Pidato Khusus yang berjudul “Definisi Jalan Ketiga” dengan memberikan penilaian yang jujur dan serius terhadap rancangan sistem keamanan internasional saat ini di hadapan audiens global yang terdiri dari para Menteri Pertahanan dan pakar Keamanan pada Dialog IISS Shangri-La ke-23 yang diadakan di Singapura.
Dalam pidatonya, Kepala Negara memberikan penilaian yang jujur dan serius terhadap rancangan sistem keamanan internasional saat ini dengan menyoroti kerja Dewan Keamanan PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) yang dinilai lembaga yang “sekarat, kaku, dan tidak relevan.”
Presiden Ramos-Horta mendesak para pemimpin dunia untuk meninggalkan logika destruktif dari blok-blok yang bersaing dan sebaliknya merangkul bentuk diplomasi praktis yang diperbarui dengan memprioritaskan pengendalian diri, konsistensi, dan pembangunan kepercayaan secara sabar.
Dalam siaran pers dari Istana Kepresidenan Republik yang diakses Tatoli, disebutkan bahwa, salah satu poin utama dalam pidato Presiden Ramos-Horta adalah proposal visionernya untuk mengubah Laut China Selatan menjadi “Zona Damai,” yang diatur oleh prinsip-prinsip UNCLOS dan bebas dari ekspansi pangkalan militer yang dipicu oleh kecurigaan. Beliau menyoroti kesenjangan yang mencolok antara pengeluaran militer global yang mencapai $3 triliun pada tahun 2025 dibandingkan dengan penurunan dana untuk adaptasi iklim dan pembangunan, serta mengingatkan forum bahwa alutsista semata tidak dapat mengamankan dunia yang terpecah.
Seperti yang dinyatakan secara menyentuh oleh Presiden Ramos-Horta bahwa “Sebuah rudal dapat menghalangi musuh tetapi tidak dapat menahan lautan. Sebuah tank dapat mempertahankan perbatasan, tetapi tidak dapat memulihkan panen yang gagal. Sebuah kapal selam dapat berpatroli di samudra, tetapi tidak dapat membangun kembali kepercayaan dalam masyarakat yang tercerai-berai akibat bencana dan konflik.”
Mengacu pada perjalanan luar biasa rekonsiliasi Timor-Leste dengan Indonesia dan diplomasi “Pohon Beringin” ASEAN, Presiden berargumen bahwa kedaulatan dan kerja sama bukanlah dua hal yang bertentangan. Kepala Negara menekankan bahwa bagi negara-negara kepulauan, perubahan iklim dan “Ekonomi Biru” bukanlah isu lingkungan yang abstrak, melainkan krisis keamanan eksistensial yang memerlukan tindakan kolektif dan mendesak.
Presiden Ramos-Horta menutup pidatonya dengan menyerukan kepada kekuatan kecil dan menengah untuk merintis “Jalan Ketiga”—sebuah jalan tengah yang pragmatis dan berprinsip yang menolak masa depan yang hanya diatur berdasarkan konfrontasi, dan sebaliknya memilih untuk membangun koalisi berdasarkan ketangguhan manusia bersama.
TATOLI




