iklan

KESEHATAN

Cegah kematian ibu dan bayi, UNFPA terus berkomitmen dukung Kemenkes Timor-Leste

Cegah kematian ibu dan bayi, UNFPA terus berkomitmen dukung Kemenkes Timor-Leste

UNFPA bersama Kemenkes dan didukung oleh WHO dan UNICEF menggelar workshop tentang Peninjauan tahunan pengawasan terkait kasus kematian ibu dan bayi di Timor-Leste. Foto Media Kemenkes

DILI, 18 Desember 2025 (TATOLI)— Dana Kependudukan Perserikatan Bangsa-Bangsa  (UNFPA) di Timor-Leste terus berkomitmen mendukung Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dalam mencegah kasus kematian ibu dan bayi (Perinatal) di Timor-Leste.

Hal itu ditegaskan oleh Perwakilan UNFPA di Timor-Leste, Navchaa Suren dalam workshop yang dilakukan  tentang Peninjauan tahunan pengawasan terkait kasus kematian ibu dan bayi di Timor-Leste, yang digelar di Hotel Novo Turismo, Dili, Kamis ini.

Workshop yang dilakukan  tentang Peninjauan tahunan pengawasan terkait kasus kematian ibu dan bayi di Timor-Leste  itu digelar atas kerjasama UNFPA dengan Kemenkes dan didukung juga dua badan PBB lainnnya yaitu Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dan UNICEF (Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa).

Perwakilan UNFPA Navchaa Suren mengatakan pihaknya  akan terus mendukung Kemenkes dalam mencegah kematian ibu dan bayi di Timor Leste. “UNFPA akan terus mendukung Pemerintah Timor-Leste dalam kepemimpinan untuk mengurangi kematian ibu dan perinatal yang dapat dicegah, dan memperkuat sistem kesehatan melalui bukti, akuntabilitas, dan peningkatan kualitas perawatan,”ujarnya.

Menurutnya, sistem MPDSR (Maternal and Perinatal Death Surveillance and Response) adalah tujuan utama dari sistem kualitas perawatan dan inisiatif global yang didukung UNFPA bersama dengan UNICEF dan WHO untuk mempercepat kemajuan menuju target SDGs.

“Ini adalah mekanisme kunci untuk mengubah data kematian ibu dan perinatal menjadi pembelajaran sistematis dan tindakan konkret. Ketika MPDSR berfungsi dengan baik, maka dapat mencegah kematian dan menyelamatkan nyawa ibu dan bayi,”tuturnya.

Data MPDSR baru memberikan sinyal penting bagi sistem kesehatan meskipun pemberitahuan kematian telah dilakukan, adanya kesenjangan dalam peninjauan, analisis akar penyebab, dan respons sistematis menunjukkan bahwa fungsi sistem MPDSR belum konsisten di semua tingkatan

“Tingginya volume kematian di rumah sakit dan kotamadya disebabkan oleh minimnya atau tidak adanya peninjauan dan pengajuan. Selain itu, banyak kematian di masyarakat tidak didokumentasikan karena implementasi otopsi verbal yang sangat terbatas. Kesenjangan ini bukan hanya masalah teknis. Petugas kesehatan dan manajer di bidang ini, dan Timor-Leste memiliki panduan, staf terlatih, dan profesional yang berkomitmen. Salah satu tantangannya adalah fungsi sistem, kepemimpinan, dan pemantauan,” jelasnya.

Karena itu, pertemuan ini merupakan peluang strategis untuk memperkuat implementasi MPDSR melalui penegasan kembali kepemilikan nasional dan akuntabilitas kelembagaan untuk integrasi MPDSR ke dalam sistem manajemen kinerja rutin.

Jadi, katanya UNFPA tetap berkomitmen untuk mendukung Kementerian Kesehatan melalui bantuan teknis, pembangunan kapasitas kelembagaan, dan advokasi strategis, untuk merevitalisasi dan memperkuat sistem MPDSR dan memastikan bahwa sistem tersebut berkontribusi pada pengurangan kematian ibu dan perinatal secara berkelanjutan.

Sementara itu, Wakil Menteri Kesehatan untuk Penguatan Kelembagaan Kesehatan, José Magno dos Reis Amaral, mengatakan Kemenkes bersama mitra internasional mengadakan lokakarya nasional tentang peninjauan tahunan pengawasan dan respons terhadap kematian ibu dan perinatal, serta tentang tinjauan rencana tahunan dengan mitra UNFPA.

“Kehadiran kami, menunjukkan komitmen bersama untuk memperkuat kesehatan reproduksi, kesehatan ibu, kesehatan neonatal, kesehatan anak, dan kesehatan remaja di Timor-Leste,” kata  José Magno.

Ia mengatakan, angka kematian ibu dan perinatal terus menjadi tantangan kritis utama dan indikator kunci.

Wakil Menteri Kesehatan itu mengatakan berdasarkan laporan yang merujuk pada periode 2024-2025 menawarkan kesempatan bagi Kementerian Kesehatan untuk merefleksikan pencapaian, tantangan yang dihadapi, dan bagaimana menyelaraskannya dengan intervensi dan bukti, serta kebijakan.

“Saya mengingatkan untuk bertanggung jawab secara kolektif, tidak ada ibu dan  bayi baru lahir meninggal, jika penyebab kematian dapat dicegah. Bersama-sama, dan melalui lembaga yang kuat, tindakan berbasis bukti, dan kemitraan yang baik, kita dapat mencapai hasil kesehatan yang lebih baik bagi rakyat kita,” ujarnya.

Sementara itu, workshop yang dilakukan tersebut dihadiri oleh perwakilan dari WHO, UNICEF, Direktur Layanan Kesehatan Kotamadya dan Kepala Pusat Kesehatan Masyarakat di seluruh Timor-Leste.

Reporter : Mirandolina Barros Soares

Editor   : Armandina Moniz

iklan
iklan

Leave a Reply

iklan
error: Content is protected !!