iklan

SOSIAL INKLUSIF

Timor-Leste tetapkan aturan baru lindungi dan promosikan kain Tais  

Timor-Leste tetapkan aturan baru lindungi dan promosikan kain Tais   

Seorang ibu sedang menenun Tais dalam acara Expo Grafis Tais Timor 2023 di Pantai Kelapa, Dili, jumat (25/08). Foto TATOLI/Antonio Daciparu

DILI, 10 Desember 2025 (TATOLI)—Pemerintah Timor-Leste melalui Rapat Dewan Menteri hari ini menyetujui proyek Resolusi Pemerintah yang diajukan oleh Sekretaris Negara untuk Seni dan Kebudayaan, Jorge Soares Cristovão, guna mempromosikan penggunaan tais, kain tenun tradisional yang menjadi simbol identitas budaya nasional.

Resolusi tersebut bertujuan memperkuat apresiasi terhadap tais sebagai elemen sentral warisan budaya tak benda Timor-Leste yang diakui UNESCO dan memiliki akar kuat dalam ritual komunitas, serta aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat.

Sebagai langkah konkret, dokumen itu mewajibkan semua badan dan layanan administrasi publik untuk mempromosikan penggunaan tais pada hari kerja pertama setiap bulan. Para pemimpin dan kepala departemen juga didorong mengenakan pakaian berbahan tais dalam kegiatan resmi dan upacara publik.

Pemerintah turut mengimbau masyarakat sipil dan sektor swasta untuk ikut serta dengan mendorong karyawan mereka mengenakan tais sekali dalam seminggu, sehingga kontribusi terhadap pelestarian dan penyebaran budaya ini dapat semakin diperkuat.

Lebih lanjut, resolusi tersebut mengatur pembentukan komisi multidisiplin yang bertugas mengembangkan rezim sertifikasi dan otentisitas untuk tais, sekaligus mer revitalisasi Pasar Tais di Dili guna memberikan penghargaan lebih besar terhadap karya para pengrajin dan memperkuat potensi budaya serta pariwisata nasional.

Sekretaris Negara Bidang Seni dan Budaya, Jorge Soares Cristovão, menjelaskan bahwa peraturan ini tidak hanya mengikat lembaga negara, tetapi juga menyasar seluruh masyarakat. Karena itu, resolusi memberikan kewenangan kepada Sekretariat Negara Bidang Seni dan Kebudayaan serta Kementerian Perdagangan dan Industri untuk menciptakan layanan antar-kementerian dalam mengatur penjualan kain tais bercetak di pasar maupun toko.

“Kami juga meminta agar dalam perayaan hari-hari nasional wajib mengenakan pakaian tradisional dan setiap minggu para pejabat mengenakan atribut tais di tempat kerja seperti kazaku,” kata Sekretaris Negara Jorge di kantor Pemerintah, Rabu ini

Ia menegaskan bahwa peraturan tersebut disertai dengan sanksi. Pemerintah akan memperketat pengawasan, terutama terhadap peredaran kain tais bercetak yang dijual di sejumlah toko China dan bukan merupakan tais asli Timor-Leste.

Pada 15 Desember 2021, tais resmi dimasukkan ke dalam “UNESCO List of Intangible Cultural Heritage in Need of Urgent Safeguarding” pada sesi ke-16 Intergovernmental Committee for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage. Pengakuan ini dipandang sebagai penghargaan internasional atas tradisi menenun tais dan upaya pelestarian budaya Timor-Leste.

Tais sendiri merupakan kain tenun tangan khas Timor-Leste yang dibuat menggunakan benang kapas berpewarna alami dari tumbuhan. Proses pembuatannya panjang dan dilakukan secara turun-temurun oleh kaum perempuan, mulai dari pemintalan benang, pewarnaan alami, hingga penenunan.

Motif, warna, dan pola pada tais beragam sesuai suku, komunitas, dan wilayah. Desain tersebut merefleksikan asal-usul etnis, status sosial, hingga nilai budaya masyarakat setempat. Penggunaannya pun luas, mulai dari pakaian tradisional pada upacara adat, pernikahan, festival, hingga sebagai simbol identitas komunitas dan bagian dari tradisi pertukaran budaya. Dalam beberapa budaya lokal, tais bahkan digunakan sebagai mas kawin atau hadiah untuk mempererat hubungan keluarga.

Reporter: Cidalia Fátima

Editor: Armandina Moniz

iklan
iklan

Leave a Reply

iklan
error: Content is protected !!