DILI, 29 November 2025 (TATOLI)— Tim Misi Pemantau Pemilu (MOE) g7+ telah menyelesaikan misinya sebagai pemantau pemilu Pemilihan Umum Presiden dan Parlemen di Guinea-Bissau yang telah diselenggarakan pada 23 November 2025.
Tim Misi Pemantau Pemilu g7+ terdiri dari Wakil Direktur Komisi Pemilihan Umum Kepulauan Solomon atau Head of Mission Observation Mission (MOE) g7+, Christina Joanna Mitini, Direktur Operasional g7+, Felix Piedade, Direktur Jenderal Sekretariat Teknis Administrasi Pemilu (STAE), Elviro Fernandes Moniz, Sekretaris Jenderal Komisi Pemilihan Umum Nasional Republik Demokratik São Tomé dan Príncipe, Melvim Nascimento Castro, Teknisi Protokol dan g7+ Mitra, Elísio Monteiro Valadares, dan Asisten g7+, Vitor Liu Gonçalves.
Kegiatan yang dilakukan tim MOE g7+ selama di Guinea-Bissau pada 18-23 November 2025 telah melakukan pertemuan dengan partai politik, Komisi Pemilihan Umum Nasional CNE Guinea-Bissau, termasuk pertemuan dengan MOE lain seperti MOE dari Komunitas Negara-Negara Berbahasa Portugis (CPLP), Uni Afrika, Portugal, dan Komunitas Ekonomi Negara-Negara Afrika Barat (ECOWAS), serta melakukan pemantauan langsung proses pemilihan umum Presiden dan Parlemen (Legislatif).
Direktur Operasional g7+, Felix Piedade, mengatakan setelah memantau pemilu di Guinea-Bissau, pada 25 November 2025, tim g7+ menyampaikan laporan awal dalam konferensi pers yang diselenggarakan oleh Uni Afrika dan ECOWAS, termasuk kelompok pemantau lain yang juga hadir dalam sidang CPLP.
Ia menjelaskan, sehari sebelum hasil pemilu diumumkan oleh CNE Guinea-Bissau, tiba-tiba terdengar suara tembakan panas pada 26 November 2025 di siang hari, di Kota Bissau yang membuat semua orang ketakutan dan berlarian mencari tempat aman.
“Beberapa jam kemudian, Panglima Militer Guinea-Bissau mengumumkan bahwa mereka mengambil alih kendali negara karena krisis pemilu, sehingga mereka menggulingkan Presiden Republik Guinea-Bissau dan segera menangguhkan seluruh proses pemilu atau menutup perbatasan (darat, laut, dan udara), dan menerapkan keadaan darurat. Di tanggal 26- 27 situasi di Bissau sangat sepi,” kata Felix Piedade pada wartawan Tatoli di Lisbon.
Ia menggarisbawahi, situasi ini membuat tim g7+ yang seharusnya kembali pada 27 November 2025 harus mengubah rencana perjalanan karena perbatasan Guinea-Bissau ditutup total.
Selama dua hari tersebut, tim g7+ tidak dapat berangkat dan tidak dapat memantau situasi di Guinea-Bissau karena media sosial seperti Facebook, Instagram, dan TikTok ditutup total sehingga mereka hanya dapat menginap di hotel.
Namun pada 28 November 2025, situasi di kota Guinea Bissau kembali normal, transportasi umum kembali beroperasi dan masyarakat kembali beraktivitas seperti biasa.
Sehingga, Tim g7+ dapat bertolak dari Guinea-Bissau dan akhirnya pada hari Jumat (28 November 2025) malam tim g7+ tiba di Lisboa, Portugal, sehingga dapat melanjutkan perjalanan kembali ke tanah air Timor-Leste.
Reporter : Arminda Fonseca (Penerjemah : Mirandolina Barros Soares)
Editor : Armandina Moniz




