BALI, 26 November 2025 (TATOLI)–Timor-Leste tampil sebagai peserta resmi untuk pertama kalinya dalam ASEAN-Australia Counter-Terrorism Workshop on Good Practice Approaches to Empower Youth and Enhance Their Capacity to Prevent the Rise of Radicalisation and Violent Extremism, yang berlangsung pada 26–27 November 2025, di Bali, Indonesia.
Kehadiran negara ini menandai komitmen aktifnya dalam berbagi praktik terbaik terkait pemberdayaan pemuda sebagai agen perdamaian dan pencegahan radikalisasi.
Kepala Sektor Dukungan Administratif dari Timor-Leste Migration Service sekaligus perwakilan Timor-Leste dalam ASEAN Senior Officials Meeting on Transnational Crime (SOMTC), Julio Abilio de Sá menjelaskan, strategi unik negara ini dalam menghadapi tantangan keamanan domestik.
“Keterlibatan pemuda sebagai agen perdamaian yang berperan aktif dalam membangun ketahanan komunitas dan mencegah ekstremisme kekerasan,” ujar Julio Abilio dalam presentasi di Anvaya Resort, Bali, Rabu ini.
Berita terkait : ASEAN dan Australia dorong peran pemuda cegah radikalisasi dan ekstremisme kekerasan
Ia jelaskan, Timor-Leste yang merdeka pada 2002 memiliki demografi unik dengan lebih dari 72% penduduknya berusia di bawah 35 tahun. Situasi ini menghadirkan tantangan sekaligus peluang besar bagi pemerintah dalam memperkuat demokrasi, menciptakan kesempatan ekonomi, serta memastikan pemuda menjadi kekuatan positif dalam masyarakat pasca-konflik.
Dalam pelaksanaan strateginya, Timor-Leste mengedepankan beberapa pilar utama:
1. Community Policing Model – Melalui National Police of Timor-Leste (PNTL), setiap desa (suku) membentuk Community Police Councils (CPC) yang melibatkan pemuda bersama kepala suku, tokoh agama, dan tetua setempat. Pemuda berperan sebagai mediator komunitas, memfasilitasi dialog, dan mencegah konflik lokal sebelum berkembang menjadi kerusuhan atau dimanfaatkan kelompok ekstremis.
2. Youth as Information Brokers – Pemuda berperan sebagai penghubung informasi, membangun kepercayaan dengan kelompok rentan, dan menjadi sistem peringatan dini. Hal ini memungkinkan aparat keamanan bertindak preventif, bukan reaktif.
3. Supporting Volunteer Structures – Program tambahan seperti Village Security Volunteers melibatkan pemuda dalam kegiatan keamanan lokal, termasuk mediasi konflik dan layanan sosial, guna mengurangi beban aparat formal dan mencegah eskalasi masalah kecil menjadi gangguan sosial yang serius.
4. Capacity Building for Partnership – Pemuda dibekali keterampilan advokasi, pendidikan kewarganegaraan, literasi digital, dan keterampilan komunikasi untuk memperkuat partisipasi mereka dalam tata kelola keamanan, termasuk memerangi narasi ekstremis di ruang digital.
Direktur Jenderal Pemuda di Kementerian Pemuda, Olahraga, Seni, dan Budaya Timor-Leste serta perwakilan ASEAN Senior Officials Meeting on Youth (SOMY), David Thomas de Deus , menekankan pentingnya pemberdayaan pemuda melalui pendidikan, pelatihan vokasi, keterampilan wirausaha, olahraga, seni, dan literasi digital.
Pemerintah juga bekerja sama dengan organisasi masyarakat sipil seperti Sentru ba Haburas Movimentus Direitus Umanus (SBHMDU) dan AJTL untuk implementasi sistem peringatan dini, pelatihan mediasi, kepemimpinan pemuda, serta literasi media dan pelaporan damai.
“Model Timor-Leste menekankan peran pemuda dalam membangun ketahanan komunitas dan partisipasi dalam tata kelola keamanan, bukan sekadar membawa identitas resmi. Pendekatan terpadu ini efektif mencegah ekstremisme dengan menginvestasikan pada aset paling berharga negara: pemudanya,” ujar David.
Kehadiran Timor-Leste di workshop ini diwakili oleh lima peserta dari Timor-Leste Migration Service, Direktorat Jenderal Pemuda, Sentru ba Haburas Movimentus Direitus Umanus (SBHMDU), dan Asosiasi Junalis Timor-leste (AJTL), menandai langkah penting bagi integrasi negara tersebut dalam kerangka kerja keamanan regional ASEAN.
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Julia Chatarina




