DILI, 21 November 2025 (TATOLI)— Timor-Leste Network Operators’ Group (TLNOG) kembali menyelenggarakan acara tahunan keduanya, TLNOG2, dengan fokus utama pada peningkatan kapasitas teknis serta penguatan strategi keamanan jaringan nasional.
Acara yang berlangsung selama tiga hari ini mencakup dua hari lokakarya teknis dan satu hari konferensi, dipusatkan di markas besar F-FDTL, Fatuhada.
Lokakarya Keamanan Jaringan TLNOG2 dipandu oleh para instruktur dari Asia Pacific Network Information Centre (APNIC) dan Internet Society (ISOC), termasuk Affan Basalamah dan Warren Finch. Mereka memberikan pelatihan mendalam kepada para teknisi nasional mengenai praktik terbaik dalam menjaga stabilitas dan keamanan infrastruktur Internet.
Ketua Komite TLNOG, José Lou Dias, dalam sambutannya menegaskan bahwa keamanan jaringan tidak hanya menjadi urusan teknis, tetapi juga menyangkut stabilitas negara.
“Internet yang aman bukan hanya tanggung jawab teknisi, ini adalah masalah keamanan nasional, stabilitas ekonomi, dan kepercayaan publik,” jelasnya di Konferensi yang berlangsung di Markas F-FDTL, Jumat ini.
Ia menambahkan bahwa konferensi ini mempertemukan komunitas teknis dengan Pemerintah, sektor pertahanan, dan para pemimpin industri. Menurutnya, kolaborasi lintas sektor sangat penting untuk memastikan infrastruktur digital negara tetap tangguh dan siap menghadapi ancaman siber.
Sementara, Direktur Jenderal APNIC, Jia Rong Low, yang menjadi tamu kehormatan, menyoroti peran penting operator jaringan dalam menjaga integritas sistem Internet global. Ia menjelaskan bahwa Timor-Leste perlu mempercepat adopsi Internet Protocol versi 6 (IPv6) untuk mendukung pertumbuhan pengguna dan layanan digital.
“IPv6 adalah masa depan. IPv4 sudah habis secara global. Jika kita ingin membuka ruang bagi lebih banyak pengguna dan inovasi digital, maka kita harus bergerak ke IPv6,” katanya.
Ia mengungkapkan bahwa tingkat kesiapan IPv6 di Timor-Leste saat ini baru mencapai 3,9%. Ia berharap angka tersebut dapat meningkat setidaknya 10% per tahun. APNIC, katanya, akan terus mendukung TLNOG dan komunitas lokal melalui pelatihan dan pendampingan.
Selain itu, ia menyoroti pentingnya penerapan RPKI (Resource Public Key Infrastructure) untuk mencegah peretasan rute jaringan. Saat ini, tingkat penandatanganan RPKI Timor-Leste telah mencapai 67,4%, namun tingkat validasinya baru 2%.
“Keamanan routing adalah fondasi Internet modern. APNIC siap membantu meningkatkan angka validasi agar jaringan nasional lebih aman,” katanya.
Ia juga mendorong pembentukan Internet Exchange Point (IXP) agar trafik lokal tidak perlu berputar keluar negeri yang menyebabkan biaya tinggi dan latensi besar.
Ditempat yang sama Perwakilan F-FDTL (Angkatan Pertahanan Timor-Leste), Wakil Staf Angkatan Pertahanan F-FDTL, Letnan Kolonel Valério Valente, menegaskan komitmen sektor pertahanan untuk bekerja bersama komunitas teknis dalam melindungi infrastruktur strategis negara.
“Perjalanan kita menuju bangsa yang aman, modern, dan berteknologi maju masih panjang. Namun setiap langkah penting, dan hari ini kita mengambil langkah penting lainnya,” ujarnya.
Ia berharap konferensi ini menghasilkan ide, proyek, dan peningkatan kapasitas nyata yang pada akhirnya mendukung kemajuan nasional.
TLNOG2 tahun ini didukung oleh berbagai sponsor industry seperti Sponsor Platinum: SACOMTEL, APNIC, ISOC, APNIC Foundation, Sponsor Emas: Timor Telecom, FLEXOPTIX, Team Cymru, IONIZE dan Sponsor Perunggu: Guardamor ISP.
TLNOG sendiri merupakan asosiasi nirlaba yang berdiri pada Agustus 2024 dan resmi terdaftar pada Juli 2025 di Kementerian Kehakiman. Organisasi ini berfokus pada pengembangan kapasitas lokal, pertukaran pengetahuan teknis, dan penguatan operasi jaringan di Timor-Leste.
Kegiatan TLNOG2 tahun ini dihadiri puluhan teknisi jaringan dari berbagai sektor, serta pengamat internasional. Acara ditutup pada Jumat, 21 November, dengan Konferensi Keamanan Jaringan yang menghadirkan diskusi strategis antara komunitas teknis, regulator, dan sektor keamanan.
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz




