iklan

HEADLINE, SOSIAL INKLUSIF

MSSI berkomitmen hentikan kekerasaan terhadap perempuan dan anak di Timor-Leste

MSSI berkomitmen hentikan kekerasaan terhadap perempuan dan anak di Timor-Leste

Sesi foto bersama antara para peserta setelah seminar hari pertama di Timor Plaza, Kamis (20/11/2025). Foto/Mirandolina Barros Soares

DILI, 20 November 2025 (TATOLI)—Kementerian Solidaritas Sosial dan Inklusi (MSSI) yang didukung oleh Dana Kependudukan Perserikatan Bangsa Bangsa (UNFPA) berkomitemen untuk menghentikan segala bentuk unsur kekerasan terhadap perempuan, anak dan kaum penyandang disabilitas di Timor-Leste.

MSSI yang didukung oleh UNFPA mengadakan seminar yang akan berlangsung selama dua hari. Peserta yang berpartisipasi di seminar ini diantaranya perwakilan dari Kementerian Kesehatan, Kementerian Pendidikan, otoritas lokal dan entitas relevan dari 13 kotamadya untuk menguatkan sistem penaganan kasus kekerasaan terhadap Perempuan di Timor-Leste.

“Kegiatan hari ini sangat penting, karena kita melihat di negara kita kekerasan semakin tinggi. Banyak korban yang enggan bersuara, sering mengalami kekerasan seksual, kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan berbasis gender, dan kekerasan fisik di sekolah dan di banyak tempat. Untuk itu kami mengadakan seminar ini yang didukung oleh UNFPA, khususnya mitra internasional, hari ini dan besok. Juga dihadiri oleh 13 pemerintah kota termasuk kementerian terkait, agar kita dapat lebih meningkatkan dan memperkuat undang-undang kita,” kata Menteri Solidaritas Sosial dan Inklusi, Verónica das Dores pada wartawan di Timor Plaza, Kamis ini.

Ditambahkan, Undang-Undang tersebut akan diterapkan di rumah, tempat umum, sekolah, jalanan, dan lain lain, dan Menteri menyerukan untuk hentikan kekerasan berbasis gender dan kekerasan dalam rumah tangga, terutama terhadap perempuan dan anak-anak, serta perempuan penyandang disabilitas.

“Kami memiliki dua rencana untuk mengurangi kekerasan terhadap perempuan dan anak. Pertama, kami bekerja sama dengan pemerintah daerah, dan kedua, kami bekerja sama terutama dengan pihak sekolah karena kekerasan juga terjadi di dua tempat, sering kali terjadi pada siswa sekolah, sering kali juga di masyarakat, terutama dalam keluarga, jadi kita harus bekerja sama,” tuturnya.

Berita terkait : Pelayanan jaminan sosial kini bisa online, MSSI luncurkan aplikasi baru

Menurutnya, Undang-Undang kuat, tetapi seringkali masih terjadi kekerasaan sehingga perlu dilakukan sosialisasi, untuk menjangkau daerah pedesaan.

“Untuk saat ini, Pengaduan korban kekerasaan meningkat, karena mereka mengerti, jadi, melalui sosialisasi dan pelatihan mereka berani mengadu, sekarang jumlahnya meningkat.”tegasnya.

MSSI juga berencana di tahun depan akan membuat saluran telepon solidaritas, sehingga dapat melayani para korban kekerasaan secara rahasia, sehingga banyak lagi korban yang ingin mengadu.

Menurutnya, untuk saat ini korban kekerasaan yang saat ini mengadu sekitar 20% hingga 30%.

Perwakilan UNFPA di Timor-Leste, Navchaa Suren mengatakan, seminar ini sangat penting untuk menguatkan sistem manajemen kasus kekerasaan terhadap perempuan dan gender di Timor-Leste.

“Pihak UNFPA menganggap bahwa ini adalah moment sangat penting bagi kami, dan di tingkat global juga berkomitmen untuk menghentikan kekerasan terhadap perempuan dan anak,” Perwakilan UNFPA, Navchaa menambahkan.

Dikatakan, dukungan ini untuk menguatkan sistem sehingga dapat memberikan layanan yang kompreensif, berhati-hati dan berkualiatas.

Reporter     : Mirandolina Barros Soares

Editor           : Julia Chatarina

iklan
iklan

Leave a Reply

iklan
error: Content is protected !!