DILI, 20 November 2025 (TATOLI)—World Bank dan Asian Development Bank (ADB) memaparkan bahwa Timor-Leste menghadirkan lingkungan ekonomi yang stabil, terbuka, dan semakin ramah bagi investor.
Hal ini disampaikan dalam hari ketiga seminar ‘Doing Business with Malaysia’ yang digelar di Palm Spring Hotel, Dili, Kamis ini.
Perwakilan World Bank, George Barbosa da Silva dalam presentasinya menekankan dua fondasi utama yang menopang stabilitas ekonomi nasional, yaitu Petroleum Fund, yang termasuk salah satu yang paling transparan di dunia, dan penggunaan dolar AS sebagai mata uang resmi negara. Kedua faktor ini, kata dia, menciptakan lingkungan keuangan yang dapat diprediksi, inflasi rendah, dan risiko nilai tukar yang minim, sehingga memudahkan perencanaan keuangan bagi investor.
“Data menunjukkan tren positif dalam inflasi, potensi pertumbuhan PDB, dan tabungan nasional. Faktor-faktor ini menggambarkan ekonomi yang stabil dan mendukung investasi,” ujar George, Kamis ini.
Ia juga menekankan integrasi Timor-Leste ke pasar global dan regional melalui keanggotaan WTO, ASEAN, serta berbagai kemitraan perdagangan bilateral dan regional. Hal ini, menurutnya, membuka peluang di berbagai sektor, termasuk mesin, bahan konstruksi, produk makanan, teknologi, energi, dan barang konsumen sehari-hari.
Berita terkait : Seminar AEC digelar untuk meninjau aksesi Timor-Leste di bidang ekonomi
Dalam sektor keuangan, Timor-Leste menunjukkan perkembangan yang stabil dengan akses perbankan komersial yang membaik dan layanan keuangan digital yang terus berkembang. Kemajuan ini mendukung investasi baru, mendorong pertumbuhan UMKM, dan memperkuat sektor swasta secara keseluruhan.
Barbosa menekankan bahwa prospek ekonomi jangka menengah relatif positif, didorong oleh reformasi berkelanjutan, investasi infrastruktur strategis, tenaga kerja muda yang berkembang, dan integrasi regional yang lebih dalam.
Laporan ekonomi terbaru dari World Bank memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Timor-Leste sekitar 3,7% antara 2025 hingga 2027, meski kondisi ekonomi global diperkirakan tetap menantang dengan rata-rata pertumbuhan global sekitar 2,4%.
Ia juga menyoroti percepatan pengembangan digital, termasuk pembangunan infrastruktur kabel serat optik yang akan menurunkan biaya komunikasi, memperluas layanan digital, dan membuka peluang di e-commerce, fintech, pendidikan online, dan layanan ICT. Selain itu, pertumbuhan sektor pariwisata dan remitansi meningkatkan daya beli masyarakat, menciptakan kesempatan bisnis di bidang makanan, konstruksi, perhotelan, dan transportasi.
Dalam hal sumber daya alam, Ia menyebut proyek gas Greater Sunrise sebagai kapasitas utama jangka panjang Timor-Leste yang dikembangkan bersama Australia. Selain itu, diversifikasi sumber daya alam sedang dilakukan, termasuk potensi mineral seperti emas, tembaga, dan batu kapur, serta perikanan dan energi terbarukan. Rezim regulasi terbaru, termasuk reformasi izin lingkungan dan peraturan pertambangan, bertujuan meningkatkan kepastian bagi investor.
Namun, mengingatkan risiko yang perlu diperhatikan, seperti potensi penurunan Petroleum Fund, ketidakpastian ekonomi global, fluktuasi harga komoditas, kejutan iklim, biaya listrik, dan tantangan penegakan kontrak.
Ia menegaskan bahwa sekitar 90% ekonomi Timor-Leste terbuka bagi kepemilikan asing, menjadikannya salah satu rezim liberal di kawasan. Meski demikian, akses lahan masih menjadi tantangan utama bagi sektor swasta, karena keterbatasan jaminan sertifikat tanah dari Kementerian Kehakiman.
Bold Sandagdorj, Perwakilan ADB, memaparkan hingga kuartal ketiga 2025, portofolio aktif ADB di Timor-Leste mencapai lebih dari 624 juta dolar AS melalui 10 proyek, dengan 63% di transportasi, 28% di air dan layanan perkotaan, 6% di energi, dan 3% di pertanian.
Beberapa proyek penting meliputi energi surya, sistem identifikasi digital, dan pasar kredit karbon. Selain itu, ADB mendukung pengembangan sektor privat melalui program pembiayaan perdagangan, rantai pasok, dan kemitraan publik-swasta.
Sandagdorj menekankan peran ADB dalam mendukung integrasi regional Timor-Leste pasca-akses ASEAN, termasuk melalui bantuan teknis, penguatan kapasitas institusi, dan pelatihan tim negosiasi serta perdagangan.
“Keanggotaan ASEAN membuka peluang baru bagi sektor privat, penciptaan lapangan kerja, dan akses UMKM Timor-Leste ke pasar regional,” katanya.
Dalam jangka menengah, ADB menekankan pentingnya reformasi domestik, investasi berkelanjutan di sumber daya manusia, infrastruktur, serta penguatan manajemen keuangan publik. Timor-Leste memiliki akses terhadap sumber daya jangka panjang baik dari jendela sovereign maupun non-sovereign ADB, mendukung pertumbuhan ekonomi dan pengembangan kapasitas manusia.
Ia juga mengajak investor dan pelaku bisnis asing untuk memanfaatkan peluang yang ada dan menghubungi misi residen ADB di Dili untuk informasi proyek, operasional, dan bantuan teknis.
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Julia Chatarina




