iklan

SOSIAL INKLUSIF

34 Tahun tragedi Santa Cruz, generasi muda didorong lanjutkan api perjuangan

34 Tahun tragedi Santa Cruz, generasi muda didorong lanjutkan api perjuangan

Prosesi peringatan 34 tahun Tragedi Santa Cruz 1991 menuju Pemakaman Santa Cruz, sebagaimana dilakukan setiap tahun untuk mengenang peristiwa bersejarah 12 November 1991. Foto Tatoli/ Digna Serão

DILI, 12 November 2025 (TATOLI) – Rakyat Timor-Leste memperingati 34 tahun Tragedi Santa Cruz 1991 yang juga menandai 20 tahun Hari Pemuda Nasional, dengan semangat persatuan dan penghormatan kepada para martir bangsa.

Peringatan dimulai dengan Misa Syukur di Gereja Motael, dilanjutkan dengan prosesi menuju Pemakaman Santa Cruz, sebagaimana dilakukan setiap tahun untuk mengenang peristiwa bersejarah 12 November 1991. Tahun ini, peringatan terasa istimewa karena Perdana Menteri Kay Rala Xanana Gusmão turut ambil bagian dalam prosesi tersebut.

Ketua sementara Komite 12 November, Filipe Rodrigues Perreira, dalam sambutannya mengatakan bahwa meskipun 12 November dikenal sebagai hari tragedi, namun seharusnya dipahami pula sebagai simbol kemenangan rakyat dalam perjuangan pembebasan nasional.

“Setiap tahun kita memperingati hari ini. Dan, hari ini memang dianggap sebagai pembantaian, tetapi juga merupakan demonstrasi besar dan kemenangan bagi proses perjuangan pembebasan bangsa,” ujarnya di Santa Cruz, Rabu ini.

Ia mengajak para pemuda, dan yang kini berada di lembaga negara dan pemerintahan, untuk merefleksikan semangat perjuangan generasi sebelumnya demi membangun kebijakan sosial dan ekonomi yang lebih baik bagi rakyat.

Filipe juga menginformasikan bahwa tahun kondisi lokasi peringatan berbeda dari tahun sebelumnya karena Pemerintah melalui Otoritas Kotamadya Dili dan Uni Eropa (EU) melalui UCLA sedang menyelesaikan proyek Monumen 12 November.

“Kami berharap dalam beberapa minggu ke depan monumen tersebut dapat diserahkan ke PAM Dili. Kami juga meminta kepada Perdana Menteri Xanana untuk mempercepat proses penyelesaiannya,” tambahnya.

Dalam pidatonya, ia turut menyampaikan apresiasi kepada para penyintas, keluarga korban, serta jurnalis internasional, termasuk Max Stahl yang telah memperjuangkan agar dunia mengetahui realitas yang dialami rakyat Timor-Leste pada masa pendudukan.

Selain itu, Filipe meminta Parlemen Nasional meninjau kembali Undang-Undang Nomor 33/2004 tentang Pembebasan Nasional, khususnya Pasal 32 terkait veteran, agar diselaraskan dengan Keputusan Presiden Nomor 53/2006 tentang penghormatan kepada Loriku Asuwain.

“Kami berharap pemerintah memperhatikan perintah yang sudah ditetapkan sejak masa Presiden Xanana. Undang-undang ini penting untuk menghormati para pejuang yang telah mengorbankan segalanya bagi bangsa,” tegasnya.

Menutup pidatonya, Filipe menyerukan agar semangat pembebasan tetap hidup dalam diri generasi muda.

“Timor-Leste hari ini harus lebih baik dari kemarin, dan esok lebih baik dari hari ini. Pemuda harus mempersiapkan diri, belajar, dan menjadi profesional yang bijak untuk menghadapi masa depan yang penuh tantangan,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Perdana Menteri, Mariano Assanami Sabino menyampaikan penghormatan kepada para Loriku Aswain, seraya mengingatkan generasi muda agar tidak melupakan pengorbanan para pahlawan.

“Kita semua berkumpul untuk menghormati sahabat-sahabat kita yang telah mempertahankan prinsip perjuangan. Mereka meneruskan semangat itu dari generasi ke generasi,” ucapnya.

Ia menekankan pentingnya pendidikan dan pembentukan karakter bagi pemuda Timor-Leste agar terus berkontribusi pada kemajuan bangsa.

“Kebebasan yang kita nikmati hari ini tidaklah gratis. Para pemuda harus belajar dengan tekun, bekerja keras, dan bersatu untuk membangun negara ini,” ujarnya.

Wakil PM Mariano juga mengungkapkan bahwa Pemerintah sedang berkoordinasi dengan Kementerian Pendidikan untuk memastikan agar lagu kebangsaan dinyanyikan setiap pagi di sekolah-sekolah, sebagai wujud penghormatan terhadap negara dan sejarah perjuangan.

“Rakyat adalah pusat untuk membawa negara ini maju. Kita harus terus menjaga semangat para pahlawan dan hidup dalam kesederhanaan, tetapi dengan kebanggaan sebagai bangsa yang merdeka,” tegasnya.

Ia menutup dengan menyerukan agar setiap kementerian berperan aktif dalam memperkuat kedaulatan nasional.

Peringatan tahun ini diakhiri dengan penghormatan di kompleks makam Santa Cruz, dihadiri oleh ratusan warga, veteran, organisasi pemuda, tokoh gereja, dan perwakilan pemerintah. 

Reporter : Cidalia Fátima

Editor    : Armandina Moniz

iklan
iklan

Leave a Reply

iklan
error: Content is protected !!