Oleh:
Joaquim Gregorio de Carvalho
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin Makasar-Indonesia (HP +67077246685, e-mail: Joaquim.decarvalho@untl.edu.tl)
Timor-Leste tengah menghadapi tantangan serius dalam sektor kesehatan Masyarakat hal ini disebabkan oleh masih tingginya angka malnutrisi, terutama di kalangan anak-anak. Menurut laporan UNICEF dan Kementerian Kesehatan Timor-Leste, lebih dari 47% anak di bawah lima tahun mengalami stunting, yakni gangguan pertumbuhan akibat kekurangan gizi kronis. Angka ini menempatkan Timor-Leste sebagai salah satu negara dengan beban stunting tertinggi di Asia Tenggara.
Masalah ini bukan hanya soal kesehatan. Stunting dan malnutrisi kronis berdampak langsung pada perkembangan otak anak, daya tahan tubuh, kemampuan belajar, dan produktivitas saat dewasa. Artinya, gizi buruk hari ini adalah hambatan besar bagi pertumbuhan ekonomi dan kualitas sumber daya manusia di masa depan.
Gizi dan Agenda SDGs: Dimensi Global
Secara global, Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) telah menempatkan gizi sebagai bagian inti dari agenda pembangunan. Target 2.2 dari SDG 2 (“Zero Hunger”) secara eksplisit menyerukan penghapusan semua bentuk malnutrisi pada tahun 2030, termasuk stunting, wasting (kurus akut), dan kekurangan mikronutrien.
Namun, menurut laporan Global Nutrition Report 2024, dunia tidak berada pada jalur yang tepat untuk mencapai target tersebut. Negara-negara berpendapatan rendah seperti Timor-Leste memerlukan komitmen lintas sektor yang jauh lebih kuat agar tidak tertinggal.
Mengapa Masalah Ini Bertahan?
Meski Timor-Leste telah merumuskan kebijakan melalui Plano Estratéjiku Nasional Setor Saúde (PENSS) 2011–2030 dan Strategi Nasional Gizi, pelaksanaan di lapangan masih menghadapi banyak tantangan:
- Kurangnya akses ke makanan bergizi, terutama di daerah terpencil.
- Keterbatasan pemahaman masyarakat tentang gizi, ASI eksklusif, dan pola makan sehat.
- Sanitasi buruk dan air tidak bersih, yang memperparah infeksi dan menghambat penyerapan gizi.
- Rendahnya jumlah petugas gizi dan pelayanan kesehatan primer.
Rekomendasi untuk Perubahan
Untuk mengatasi masalah gizi secara komprehensif dan berkejaran dengan waktu menuju 2030, berikut beberapa langkah strategis yang harus segera diperkuat:
- Fokus pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan
Periode dari kehamilan hingga usia dua tahun adalah jendela emas. Diperlukan intervensi menyeluruh: suplementasi ibu hamil, promosi ASI eksklusif, makanan pendamping ASI bergizi, dan pemantauan tumbuh kembang. - Perluas Akses Gizi di Komunitas
Pemerintah dan mitra pembangunan harus memperkuat distribusi makanan tambahan lokal, fortifikasi pangan, serta layanan posyandu desa dan “mobile nutrition team” untuk menjangkau desa-desa terisolasi. - Integrasikan Program Gizi dengan Air Bersih & Sanitasi
Gizi tidak bisa dipisahkan dari lingkungan. Investasi dalam sanitasi, toilet layak, dan air bersih akan mengurangi penyakit diare dan meningkatkan penyerapan nutrisi. - Edukasi dan Keterlibatan Komunitas
Kampanye edukatif yang dikemas dengan budaya lokal, melibatkan pemimpin adat, tokoh agama, dan kelompok ibu dapat mempercepat perubahan perilaku makan. - Perkuat Data dan Monitoring
Timor-Leste memerlukan sistem informasi gizi berbasis komunitas yang dapat mendeteksi dan merespons kasus stunting/wasting secara cepat. Ini juga penting untuk pengambilan keputusan berbasis bukti.
Penutup
Gizi adalah fondasi. Tanpa itu, pembangunan sosial, ekonomi, dan pendidikan akan pincang. Timor-Leste masih memiliki waktu lima tahun menjelang 2030 untuk membuktikan bahwa Zero Hunger bukanlah sekadar slogan, melainkan komitmen nyata yang diwujudkan melalui aksi lintas sektor yang terencana dan berkelanjutan.
Dengan keberanian politik, dukungan masyarakat internasional, dan keterlibatan komunitas lokal, Timor-Leste bisa menjadi kisah sukses dalam mengatasi malnutrisi di negara berkembang.




