iklan

HEADLINE, SOSIAL INKLUSIF

INETL resmi buka pelatihan enumerator untuk Survei Demografi dan Kesehatan 2025

INETL resmi buka pelatihan enumerator untuk Survei Demografi dan Kesehatan 2025

Foto bersama disela-sela pembukaan Pelatihan Supervisor dan Enumerator untuk Penelitian Demografi dan Kesehatan (DHS) 2025. Foto Tatoli/Cidalia Fatima

DILI, 02 September 2025 (TATOLI)— Intitut Statistik Nasional Timor-Leste (INETL) bersama Kementerian Keuangan secara resmi membuka Pelatihan Supervisor dan Enumerator untuk Penelitian Demografi dan Kesehatan (DHS) 2025 di kantor Kementerian Keuangan.

Pelatihan ini berlangsung selama 22 hari, dan diikuti oleh 76 pewawancara (24 laki-laki dan 48 perempuan), 24 supervisor, 24 pengemudi, serta 29 tenaga biomarker dari Kementerian Kesehatan. Peserta pelatihan akan dibagi menjadi 24 tim, masing-masing terdiri dari satu supervisor, tiga pewawancara (dua perempuan dan satu laki-laki), satu biomarker, dan satu pengemudi.

Tim yang sudah dilatih akan turun ke lapangan pada 23 September hingga 23 Desember 2025, dengan target mengunjungi 12.880 rumah tangga terpilih di seluruh wilayah Timor-Leste.

Ketua INETL, Elias dos Santos Ferreira, menjelaskan bahwa persiapan DHS 2025 dimulai sejak pertengahan 2024 bersama Kementerian Kesehatan dan ICF Macro International.

Namun, proses ini sempat terhambat karena Pemerintah Amerika Serikat menghentikan dukungan USAID yang biasanya membiayai bantuan teknis ICF.

“Kami segera menyampaikan kendala ini kepada Menteri Keuangan untuk mencari solusi bersama mitra seperti Bank Dunia dan DFAT, agar bantuan teknis dari ICF Macro International dapat terus mendukung penelitian ini,” jelas Elias.

Ia menambahkan, DHS 2025 merupakan survei ketiga sejak restorasi kemerdekaan, setelah sebelumnya dilaksanakan pada 2010 dan 2016.

Sementara itu, Menteri Keuangan, Santina José Rodrigues F. Viegas Cardoso dalam pesan yang dibacakan Ketua INETL menegaskan bahwa DHS 2025 sangat penting bagi Timor-Leste dalam menyediakan data akurat yang akan menjadi dasar perencanaan kebijakan pembangunan.

“Survei ini akan memberikan informasi baru mengenai fertilitas, mortalitas, kesehatan reproduksi, kesehatan ibu dan anak, gizi, serta keluarga berencana. Data ini akan menjadi acuan penting bagi pemerintah dan mitra pembangunan untuk menyusun strategi kesehatan yang tepat,” tegas Menteri Santina.

Ia juga berterima kasih kepada seluruh mitra pembangunan yang mendukung kegiatan ini, termasuk UNFPA, UNICEF, WFP, DFAT, Bank Dunia, dan ICF Macro International.

Dilain pihak, Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Narcisio Fernandes, menekankan bahwa data DHS 2025 sangat vital untuk memperkuat sistem kesehatan nasional.

“Data yang kita gunakan selama ini masih mengacu pada DHS 2016. Sepuluh tahun berlalu, tetapi kita masih berbicara soal masalah kesehatan ibu, bayi, dan balita dengan angka yang sama. DHS 2025 akan memberi kita gambaran yang lebih akurat untuk menyusun kebijakan kesehatan ke depan,” jelasnya.

Narcisio menegaskan, kualitas data sangat ditentukan oleh enumerator di lapangan. Karena itu, ia meminta peserta pelatihan mengikuti dengan serius agar tidak terjadi kesalahan dalam pengumpulan data. 

Reporter : Cidalia Fátima

Editor     : Armandina Moniz

iklan
iklan

Leave a Reply

iklan
error: Content is protected !!