DILI 29 Agustus 2025 (TATOLI)– Pengusaha Sukses Indonesia, Aji Krisna turut hadir di Dili International Trade Expo (DITE) 2025 yang digelar di Pusat Konvensi Dili (CCD), untuk berbagi kisah inspiratif dan strategi membangun bisnis serta mendukung UMKM melalui Talk Show yang menjadi salah satu agenda utama DITE 2025.
Gusti Ngurah Anom, yang lebih dikenal sebagai Aji Krisna, lahir pada 05 Maret 1971 di Bali. Ia adalah pengusaha sukses dan pendiri Krisna Oleh-Oleh Bali, jaringan toko oleh-oleh terbesar di Pulau Dewata Bali.
Aji menceritakan perjalanan hidupnya yang penuh liku. Bersama istrinya, teman sekelas SMP yang juga berasal dari keluarga kurang mampu, ia merantau ke Denpasar tanpa izin orang tua dan tanpa uang saku.
Di Sanur, Denpasar, Aji mendapatkan izin tinggal dari petugas keamanan hotel dan tidur di pos security selama dua tahun. Selama itu, ia bekerja keras membersihkan halaman, kebun, hingga mencuci mobil wisatawan dari berbagai daerah. Penghasilan Rp2.000–5.000 per hari dan ia tabung untuk membeli sepeda motor, modal awal untuk melanjutkan kehidupan dan meniti peluang lebih besar.
“Dari nol, saya belajar semuanya sendiri. Tidak ada yang mudah, tapi tekad saya untuk sukses membuat saya tidak menyerah,” kata Aji.
Setelah bekerja di konveksi, Aji menguasai keterampilan menjahit, sablon, dan memotong kain. Dari sinilah ia mulai membangun bisnis sendiri pada tahun 1990.
Usaha konveksi mereka berkembang pesat, hingga pada 2007 Aji dan istrinya membuka Krisna oleh-oleh pertama di Denpasar. Target penjualan Rp300 juta per bulan berhasil melampaui ekspektasi, mencapai Rp1 miliar.
Ekspansi berlanjut, outlet kedua pada 2008, ketiga pada 2009, dan pada 2010 dibuka Rama Krisna, toko oleh-oleh pertama di Bali yang buka 24 jam, pionir di Asia Tenggara. Kini, Krisna memiliki 41 outlet di Bali dan Yogyakarta, membawahi 2.500 karyawan, dan mendukung 475 UMKM lokal.
Dalam Talk Show di DITE 2025, Aji menekankan filosofi bisnis yang menjadi kunci keberhasilannya seperti harus memiliki kemandirian dan kerja keras sehingga bisa belajar dari nol, fokus, dan kurangi terlalu banyak meminta pendapat agar pikiran tetap jernih.
Selain itu selalu mengikuti semua prosedur pemerintah dan hukum lokal, dari perizinan hingga administrasi dan sebelum berinvestasi, pastikan dukungan warga setempat dan jalin hubungan egaliter dengan karyawan.
Menurutnya, seorang pengusaha harus paham inovasi dan adaptasi untuk mengubah tantangan menjadi peluang, seperti saat pandemi Krisna memulai penjualan online dan menciptakan produk unggulan baru.
“Kalau di Bali, saya membantu pemerintah, bukan sebaliknya. Kita sebagai warga harus sadar untuk berkontribusi agar daerah kita berkembang. Kurangi minta pendapat, gerak cepat, jangan slow response,” tegas Aji.
Tahun 2025, Aji Krisna sedang membangun Kampung UMKM seluas 23 hektar, yang akan menjadi pusat kreatif bagi pengusaha lokal dan wisatawan. Selain itu, ia mengembangkan coffee shop dan restoran di Kintamani untuk memadukan keindahan alam Bali dengan budaya dan kuliner lokal.
Aji tetap menjaga keterlibatan langsung dalam operasional, termasuk menyapu, mengepel, dan mencuci sendiri, menegaskan prinsip bahwa sukses bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk masyarakat dan karyawan yang mendukungnya.
“Kesuksesan saya bukan hanya karena saya dan istri saya, tetapi berkat kerja keras karyawan dan doa masyarakat Bali,” ujar Aji.
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz




