DILI, 01 Juli 2025 (TATOLI)— Perwakilan WHO di Timor Leste, Arvind Mathur mengatakan bahwa, terkait kasus rabies yang saat ini semakin meningkat di Timor-Leste, pihaknya akan bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk mencegah dan menjamin vaksin rabies pada manusia akan tetap tersedia.
Menurutnya, vaksin rabies untuk manusia harus tetap tersedia di semua pusat kesehatan di wilayah Timor-Leste, dan WHO juga mendukung Kemenkes untuk menyediakan vaksin rabies tersebut di setiap pusat kesehatan.
“Yang penting sekarang kita tahu sumber yang dibutuhkan untuk mendapatkan vaksin. WHO juga akan dapat memfasilitasi pengadaan ini, dan kami bekerja sama erat dengan Kementerian Kesehatan dan Institut Nasional Farmasi dan Produk Medis (INFPM) untuk memastikan bahwa vaksin rabies untuk manusia tetap tersedia sesuai kebutuhan, dan dalam jumlah yang cukup,” Kata Perwakilan WHO Arvind Mathur pada wartawan di Kantornya, Caicoli Dili, selasa ini.
Ia juga menegaskan bahwa, perlu adanya pembelian vaksin rabies segera, karena kasus rabies di Timor-Leste mulai meningkat.

“WHO bekerja sama yang erat dengan Kementerian Kesehatan. Dan WHO juga mendapatkan permohonan dukungan terhadap vaksin, dan juga dukungan teknis kepada Kementerian Kesehatan guna menyelesaikan situasi rabies yang sedang berkembang saat ini. Ini termasuk rujukan pada kebutuhan pengadaan vaksin, serta dukungan yang kami berikan kepada Kementerian Kesehatan,” ujarnya.
Berita terkait : Kasus rabies mulai meningkat, INFPM minta dukungan vaksin dari WHO
Dijelaskan, sebelumnya pada tahun 2024, atas permintaan dari Kemenkes, WHO mendukung 6.000 dosis vaksis anti rabies dan 1.000 dosis vaksin imunoglobulin rabies. Jadi, untuk menjaga kemungkinan bertambahnya kasus rabies di masa depan, vaksin-vaksin itu di simpan di gudang INFPM maupun di kotamadya. Jadi, stok vaksin tersedia.
“Namun, ini bukan hanya tentang vaksin. Situasi ini membutuhkan tindakan multisektoral dan keterlibatan semua orang. Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pertanian, Perikanan, dan Peternakan serta WHO telah bersama-sama memimpin upaya untuk mengembangkan strategi nasional. Rencana strategis nasional ini merupakan dokumen komprehensif yang menguraikan peran berbagai sektor, kementerian, pemangku kepentingan, dan mitra,”pungkasnya.
Ditambahkan, kemitraan memainkan peran yang sangat penting, dengan dukungan dari DFAT (Department of Foreign Affairs and Trade) kepada Kementerian Pertanian untuk vaksinasi anjing, kerja berkelanjutan, dimana DFAT, WHO dan berbagai organisasi lokal telah meningkatkan kesadaran tentang rabies.
“Seperti yang disebutkan sebelumnya pasokan darurat vaksin dan imunoglobulin telah diperoleh. DFAT saat ini mendukung vaksin untuk anjing. Upaya berkelanjutan kami dengan Kementerian Kesehatan dan INFPM adalah untuk lebih memfasilitasi ketersediaan pasokan vaksin di negara ini. Kami masih bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan untuk memastikan bahwa vaksin tetap tersedia, dan sejauh ini, masih tersedia. Jadi, tidak ada alasan untuk percaya bahwa vaksin tidak tersedia, vaksin telah didistribusikan dan akan terus didistribusikan,” tegasnya.
Menurut Arvind ini adalah bagian dari Rencana Strategis Nasional bukan hanya tentang vaksin, tetapi juga tentang memastikan orang-orang mendapat informasi, sadar, dan tidak panik. Masyarakat harus tahu cara merawat anjing, apa yang harus dilakukan ketika digigit anjing, dan pentingnya melaporkan gigitan anjing ke pusat kesehatan. Semua ini adalah bagian dari upaya komunikasi risiko dan keterlibatan masyarakat.
Kementerian Kesehatan segera membeli vaksin rabies
Sementara itu, kepada wartawan Wakil Menteri Penguatan Kesehatan Kelembagaan, Jose Magno dos Reis mengatakan Kementerian Kesehatan akan segera vaksin rabies secara darurat untuk mencegah meningkatnya kasus rabies di Timor-Leste
“Saya sudah bicara soal program imunisasi, kita lihat saja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Kementerian Kesehatan tahun 2025 menyediakan dana sebesar U$1 juta untuk membeli vaksin rabies dalam waktu dekat ini,” kata Jose Magno dos Reis.
Dikatakannya, dalam pertemuan dengan para mitra maupun Pemerintah telah menyampaikan bahwa situasi seperti ini memerlukan dukungan dari WHO dan DFAT bahwa saat ini stok vaksin rabies akan tersedia, namun dijamin hanya untuk satu atau dua bulan.
Berita terkait : Cegah Rabies meluas, Masyarakat diminta bawa anjing ke Posko Vaksin
“Kita lihat situasi saat ini jika kita tidak melakukan intervensi secara cepat, maka akan menyebar ke kotamadya lainnya. Kita berpikir harus mencegah kasus rabies menyebar di Dili, dimana kita melihat kasus di Railaco Ermera yang jaraknya dekat dengan Dili. Sekarang kotamadya yang beresiko kasus rabies adalah Bobonaro, Ermera, Covalima dan RAEOA (Daerah Administratif Spesial Oecusse Ambeno). Sekarang Dili, Aileu dan Manufahi dikategorikan dalam bahaya,” katanya.
Ia juga menyebutkan bahwa, saat ini empat kotamadya dalam klasifikasi zona aman adalah Manatuto, Lautem, Viqueque dan Baucau.
“Oleh karena itu, segala upaya telah kami lakukan untuk meminta masyarakat yang memelihara anjing agar divaksin ke dokter hewan, agar tidak membahayakan orang lain. Oleh karena itu, kasus rabies ini perlu menjadi perhatian semua pihak,” katanya.
Menurut data, kasus rabies di Timor-Leste berjumlah tujuh orang yang meninggal dunia, berasal dari wilayah Bobonaro, RAEOA, Ermera dan Covalima.
Reporter : Mirandolina Barros Soares
Editor : Armandina Moniz




