DILI, 29 Juni 2025 (TATOLI)—Tarian tradisional Toja Bobu dari Kampung Sikka, Flores, yang dipentaskan oleh Komunitas Karang Taruna Sikka berhasil mencuri perhatian para tamu internasional pada hari ketiga Konferensi Komunitas Portugis Asia (APCC) 2025 di Pusat Konvensi Dili (CCD), Timor-Leste.
Pertunjukan Toja Bobu sukses menciptakan suasana meriah dan penuh apresiasi. Berdasarkan pantauan TATOLI, penampilan ini tidak hanya menghibur, tetapi juga menyentuh secara emosional.
Para mahasiswa tampak antusias memberi tepuk tangan, sementara Perdana Menteri Timor-Leste, Kay Rala Xanana Gusmão, dan Duta Besar Portugal untuk Timor-Leste, Maria Manuela Freitas Bairos, turut berdansa bersama para penampil. Kekaguman juga terlihat dari raut wajah para tamu internasional lainnya yang hadir.
Mahasiwa dari Universidade da Paz (UNPAZ), Rosa Mendonça de Orleans, bersama kawan-kawannya mengapresiasi para pemuda Komunitas Karang Taruna yang telah membawakan tarian tersebut dengan ciri khas mereka sendiri.
“Ini sangat unik, karena mereka tak berbicara tetapi hanya dengan ekspresi dan gerakan kita bisa mengerti seperti apa tarian tersebut,” ucap Rosa Orleans pada TATOLI.
Adapun Mahasiswa dari Universidade de Dili (UNDIL), Emilson de Carvalho juga di Timor-Leste juga bisa lebih dikembangkan tarian-tarian yang merupakan warisan budaya Porugis sehingga generasi mendatang takkan pernah lupa. “Harus selalu dikembangkan warisan dan budaya yang ditingalkan oleh Portugal,” tambahnya.
Sendratari Toja Bobu mengisahkan seorang putri raja (prinseja) yang diperebutkan oleh para pemuda (serdado) dari berbagai profesi melalui proses undian. Dengan narasi yang kuat, kostum berwarna-warni khas Sikka, dan iringan musik tradisional, pementasan ini berhasil memikat ratusan penonton, termasuk delegasi dari berbagai negara anggota komunitas warisan Portugis.
Berita terkait : APCC 2025: Karang Taruna Sikka promosikan peninggalan budaya Portugis di Pulau Flores
Tarian ini mencerminkan kuatnya pengaruh budaya Portugis yang telah mengakar di Kampung Sikka sejak akhir abad ke-15. Dulu, Toja Bobu rutin ditampilkan setiap 26 Desember bertepatan dengan perayaan Natal Kedua. Namun, selama hampir empat dekade, tarian ini sempat menghilang dari praktik budaya masyarakat setempat.
“Tarian ini pernah hilang selama 40 tahun dan kami hidupkan kembali sejak 2021 lewat festival yang digagas komunitas kami. Sejak itu, video kami di YouTube menarik perhatian panitia APCC, dan kami diundang ke sini,” jelas Laurentius Vianey, perwakilan Karang Taruna Sikka.
Kebangkitan Toja Bobu bermula dari Festival Natar Sikka yang diselenggarakan oleh Karang Taruna Nibong sejak 2022. Sejak saat itu, tarian ini kembali menjadi simbol identitas budaya lokal dan masuk dalam agenda tahunan desa.
Penampilan Toja Bobu menjadi penutup manis keikutsertaan Karang Taruna Sikka dalam APCC edisi keempat. Sebelumnya, selama dua hari pameran budaya, mereka telah memamerkan berbagai kerajinan tangan khas Kampung Sikka, seperti rosario dari kerang laut, tas, kalung, serta aksesori berbahan kain tenun ikat.
“Selama dua hari pameran, stan kami ramai dikunjungi. Banyak pengunjung tertarik pada rosario kerang dari Pantai Sikka, serta produk dari tenun ikat seperti gelang, kalung, tas, topi, dan aksesori lainnya,” tambah Laurentius.
Kampung Sikka sendiri dikenal sebagai salah satu pusat awal penyebaran budaya dan agama Portugis di Indonesia. Sejumlah peninggalan sejarah masih bertahan, seperti Gereja Tua Sikka, tradisi Logu Senhor, serta penggunaan kosakata Portugis dalam kehidupan sehari-hari.
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Julia Chatarina




