DILI, 28 Juni 2025 (TATOLI)— Komunitas Karang Taruna dari Kampung Sikka, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), Indonesia, turut ambil bagian dalam Konferensi Komunitas Portugis-Asia (APCC) edisi keempat yang digelar di Pusat Konvensi Dili (CCD), Timor-Leste, pada 27–29 Juni 2025.
Dalam perhelatan budaya tersebut, Karang Taruna Sikka memamerkan beragam kerajinan tangan dan produk budaya turun-temurun yang berakar dari pengaruh Portugis di Pulau Flores, khususnya di Kampung Sikka, wilayah yang menjadi salah satu pusat awal penyebaran budaya, agama, dan pendidikan oleh bangsa Portugis di Indonesia.
“Selama dua hari pameran, stand kami ramai dikunjungi. Banyak pengunjung sangat tertarik pada rosario kerang dari pantai Sikka, serta produk dari bahan baku ikat tenun seperti gelang, kalung, tas, topi, dan aksesoris lainnya,” ujar Perwakilan Karang Taruna Sikka, Laurentius Vianey, pada TATOLI secara esklusif.
Berita terkait : Pameran kerajinan tangan di APCC 2025 jadi wadah promosi budaya dan produk lokal
Sebanyak 13 anggota Karang Taruna hadir membawa hasil kolaborasi komunitas muda dengan ibu-ibu penenun di Kampung Sikka. Mereka memperkenalkan berbagai produk lokal seperti tas pinggang, gelang, kalung, dan anting yang seluruhnya diolah dari kain khas Sikka. Produk rosario berbahan karang laut pun ludes terjual dalam dua hari pertama.
Lebih dari sekadar produk, keikutsertaan Karang Taruna Sikka dalam APCC 2025 juga menjadi momen penting untuk mempromosikan warisan budaya Portugis yang masih hidup di tengah masyarakat Kampung Sikka. Salah satunya adalah tarian Toja Bobu, peninggalan budaya Portugis yang akan dipentaskan di hari terakhir konferensi.
“Tarian ini pernah hilang selama 40 tahun dan kami hidupkan kembali sejak 2021 lewat festival yang digagas komunitas kami. Sejak itu, video kami di YouTube menarik perhatian panitia APCC, dan kami diundang kesini,” jelas Laurentius.
Kampung Sikka dikenal memiliki sejumlah peninggalan bersejarah dari masa kedatangan Portugis, di antaranya Gereja Tua Sikka yang telah berdiri lebih dari 100 tahun, tradisi Logu Senhor, ritual doa berjalan di bawah salib serta Watu Krus atau Batu Salib di Pantai Bola yang dipercaya sebagai lokasi pendaratan pertama Portugis.
Dalam keseharian, masyarakat Kampung Sikka juga masih menggunakan sejumlah kosakata Portugis, terutama untuk menyebut hari-hari dalam seminggu dan beberapa benda rumah tangga, seperti ‘segunda’ (Senin), ‘cadeira’ (kursi), dan ‘copo’ (gelas).
Karang Taruna Sikka berharap dapat terus berpartisipasi dalam ajang internasional serupa, termasuk edisi APCC mendatang di Portugal.
“Bukan sekadar untuk jalan-jalan, tapi kami ingin menunjukkan bahwa budaya peninggalan Portugis di Asia, khususnya di Flores, masih hidup dan terus diwariskan dari generasi ke generasi,” tutup Laurentius.
Peninggalan Portugis di Flores disebabkan oleh sejarah kolonialisme dimana Portugis pernah menduduki pulau ini pada abad ke-16 dan 17. Kedatangan mereka tidak hanya membawa pengaruh dalam bidang agama, seperti penyebaran agama Katolik, tetapi juga dalam bahasa, budaya, dan arsitektur.
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Julia Chatarina




