DILI, 26 Juni 2025 (TATOLI)—Survei Nasional TATOLI 2025 yang dikembangkan oleh The Asia Foundation mengungkapkan Warga Timor-Leste menunjukkan optimisme yang berhati-hati terhadap masa depan negara, namun masih dibayangi oleh kekhawatiran atas kebutuhan dasar dan layanan publik.
Survei nasional ini diluncurkan oleh Wakil Perdana Menteri Timor-Leste, Mariano Assanami Sabino, bersama Penasihat Tata Kelola dan Ekonomi Kedutaan Besar Australia, Fabiah Shah, serta Perwakilan The Asia Foundation untuk Timor-Leste, Héctor Salazar Salame di aula Arsip dan Museum Perlawanan Timor-Leste (AMRT – Arquivo & Museu da Resistência Timorense), kamis ini.
“Bersyukur kepada para mitra untuk survei ini, apa yang paling penting adalah kita bisa tahu Timor-Leste saat ini sudah sampai mana,” jelas Wakil Perdana Menteri Timor-Leste, Mariano Assanami Sabino.
Sementara itu, Héctor Salazar Salame mengatakan survei TATOLI merupakan instrumen penting untuk memahami aspirasi masyarakat Timor-Leste dan apa yang mereka anggap penting dan visi mereka untuk masa depan negara.
“Temuan ini dapat melengkapi data yang sudah ada dan mendukung kebijakan serta program yang lebih inklusif dan responsive,” ujar Salazar dalam pembukaan acara.
Dilain pihak, Penasihat Tata Kelola dan Ekonomi Kedutaan Besar Australia, Fabiah Shah, dalam sambutannya saat peluncuran menyampaikan antusiasmenya atas keterlibatan Pemerintah Australia dalam mendukung survei masyarakat Timor-Leste sejak 2013.
“Survei ini merupakan bagian dari komitmen jangka panjang Australia untuk memahami aspirasi dan kebutuhan rakyat Timor-Leste, serta bukan survei yang dikembangkan sepihak, melainkan hasil kolaborasi erat dengan organisasi masyarakat sipil dan mitra pembangunan,” jelasnya.
Ia menyoroti pentingnya survei dalam menilai perubahan dari tahun ke tahun, termasuk tema baru seperti digitalisasi terutama relevan dengan hadirnya kabel bawah laut dan potensi 5G di Timor-Leste. Menurutnya, survei ini penting sebagai dasar memahami peluang dan risiko digital di masa depan.
TATOLI 2025 dilaksanakan melalui wawancara terhadap 1.503 responden dari seluruh kotamadya, dengan margin kesalahan sekitar ±2,5%, sehingga hasilnya mewakili secara nasional. Ini adalah edisi keenam sejak survei pertama kali dilakukan pada tahun 2013.
Sebanyak 69% responden menyatakan bahwa negara sedang bergerak ke arah yang benar. Namun, tantangan besar masih dirasakan masyarakat. Tiga masalah utama yang paling banyak disebutkan adalah Pendapatan rendah (53%), Kurangnya infrastruktur (36%) dan Kurangnya pekerjaan yang berkualitas (27%)
Terdapat pula perbedaan pandangan antara responden pedesaan dan perkotaan. Responden pedesaan lebih menyoroti kurangnya infrastruktur (39% dibandingkan 29% responden kota), sedangkan responden perkotaan lebih banyak mengeluhkan kualitas pendidikan yang buruk (39% dibandingkan 18% responden desa).
Ketika diminta menyebutkan tiga prioritas utama yang harus menjadi fokus pemerintah, responden paling banyak menyebutkan Kesehatan (69%), Pendidikan dan pelatihan (59%) dan Perbaikan jalan (58%).
Namun, hanya 53% responden yang menilai situasi ekonomi rumah tangga mereka sebagai “baik” atau “sangat baik”, angka terendah sejak pertanyaan ini pertama kali dimunculkan pada 2016. Hal ini menunjukkan meningkatnya harapan warga terhadap kualitas hidup dan layanan publik.
Survei juga mencatat meningkatnya perhatian warga terhadap inklusi sosial dan perlindungan kelompok rentan. Tingkat dukungan terhadap peningkatan partisipasi politik dan sipil adalah sebagai berikut Anak muda : 90%, Perempuan: 85% dan Penyandang disabilitas: 77%.
Edisi 2025 ini juga memperkenalkan bagian khusus yang mendalam mengenai digitalisasi. Survei ini memberikan gambaran menyeluruh tentang akses internet, perilaku daring, serta kesadaran akan risiko digital.
Meskipun 51% warga Timor-Leste menggunakan internet, data menunjukkan masih terdapat kesenjangan besar dalam literasi dan keterampilan digital, terutama di wilayah pedesaan. Data ini menjadi krusial saat negara bersiap menghadapi lonjakan konektivitas digital, seiring dengan akan beroperasinya kabel serat optik pada akhir tahun ini.
Survei TATOLI 2025 dilaksanakan dengan dukungan 68 enumerator dari 14 organisasi anggota Jaringan Penelitian dan Advokasi Timor-Leste (TRAIN). The Asia Foundation juga bekerja sama dengan Instituto Nacional de Estatística de Timor-Leste dalam menyusun kerangka sampel, dan ORIMA Research untuk analisis data.
Acara peluncuran survei ini juga menghadirkan dua sesi panel diskusi. Panel pertama menghadirkan Eduardo Filipe Ximenes (Sekretaris Negara untuk Perencanaan Investasi dan Urusan Pembangunan), Marta da Silva (Peneliti dari Lao Hamutuk), dan Eduarda Martins (Direktur Forum Tau Matan), yang membahas perbedaan persepsi antara masyarakat kota dan desa.
Panel kedua menyoroti isu digitalisasi, dengan pembicara Gastão M. Gama Sousa (Perwakilan Bank Sentral Timor-Leste), Eusebio de Jesus Gouveia (Koordinator Digital Timor di TIC Timor I.P.), dan Zevonia Viera (Ketua AJTL – Asosiasi Jurnalis Timor-Leste).
TATOLI 2025 dilaksanakan dengan dukungan Kemitraan Pemerintah Australia untuk Kemakmuran Inklusif (PROSIVU) yang dijalankan oleh DT Global. Survei ini diharapkan terus menjadi referensi penting dalam menyusun kebijakan berbasis data dan mendorong pembangunan yang inklusif di Timor-Leste.
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz




