iklan

EKONOMI, HEADLINE

Donor serukan aksi kolektif : Restorasi Mangrove Timor-Leste butuh kepemimpinan lokal

Donor serukan aksi kolektif : Restorasi Mangrove Timor-Leste butuh kepemimpinan lokal

Bibit pohon Mangrove. Foto Tatoli /Francisco Sony

DILI, 24 Juni 2025 (TATOLI)— Mitra-mitra pembangunan internasional dari Prancis dan Uni Eropa menyerukan pentingnya aksi kolektif dan kepemimpinan lokal dalam mendukung restorasi ekosistem mangrove di Timor-Leste, sebagai bagian dari pelaksanaan Proyek RESTORE (Restoring Ecosystems for Sustainable, Transformative and Resilient Communities) yang didanai oleh Kiwa Initiative.

Dalam pembukaan resmi lokakarya nasional Proyek RESTORE di Dili, Atase Kerja Sama Kedutaan Besar Prancis untuk Indonesia dan Timor-Leste, Julie Brown, menyampaikan bahwa inisiatif ini bertujuan memperkuat ketahanan masyarakat terhadap dampak perubahan iklim dengan mengedepankan pendekatan partisipatif dan solusi berbasis alam.

“Kita harus memastikan bahwa suara masyarakat, pengetahuan tradisional, dan prioritas lokal benar-benar memandu seluruh proses kerja kita. Hanya dengan cara itulah keberlanjutan jangka panjang bisa terwujud,” tegas Julie Brown mewakili Pemerintah Prancis dan para donor Kiwa lainnya dalam pembukaan lokakarya di Hotel Novo Turismo, selasa ini.

Ia menekankan bahwa Proyek RESTORE, yang dilaksanakan di Timor-Leste, Fiji, dan Samoa oleh Conservation International, dirancang untuk merespons tantangan nyata seperti erosi pantai, banjir, dan hilangnya keanekaragaman hayati pesisir.

Didanai melalui Kiwa Initiative senilai $77 juta, proyek ini menjadi simbol sinergi global antara donor besar seperti Agence Française de Développement (AFD), Uni Eropa, Kanada, Australia, dan Selandia Baru untuk kawasan Pasifik. Pendekatan lokal yang inklusif menjadi prinsip utama yang dijunjung tinggi oleh seluruh mitra pendukung.

Sementara itu, Kepala Delegasi Kerja Sama Uni Eropa untuk Timor-Leste, Iotam Lerer, menegaskan bahwa proyek RESTORE hadir di saat yang sangat relevan. Ia mengingatkan bahwa Timor-Leste menghadapi ancaman nyata dari perubahan iklim, termasuk banjir, kekeringan, dan degradasi ekosistem.

“Kami mendukung solusi berbasis alam sebagai strategi utama. Tapi pertanyaannya, apakah Timor-Leste sudah memiliki kerangka hukum dan strategi nasional yang jelas untuk hal ini?” tanya Iotam di hadapan peserta lokakarya, seraya mengajak semua pemangku kepentingan untuk refleksi bersama.

Ia juga menyoroti pentingnya menjadikan proyek-proyek seperti RESTORE sebagai ajang pertukaran pengalaman dan pengetahuan, agar dampaknya tidak berhenti pada kegiatan sementara, melainkan mengarah pada transformasi kebijakan jangka panjang.

Dalam pidatonya, Iotam menyebutkan bahwa konsep solusi berbasis alam bukanlah hal baru, melainkan pendekatan yang kini menjadi bagian dari kebijakan besar Uni Eropa seperti European Green Deal dan Global Gateway. Oleh karena itu, lokakarya ini dipandang sebagai ruang yang strategis untuk mempertemukan ide, praktik baik, dan kepemimpinan lokal.

Proyek RESTORE sendiri akan berlangsung hingga tahun 2027 dan berfokus pada restorasi ekosistem mangrove di berbagai wilayah pesisir Timor-Leste. Selain rehabilitasi lingkungan, proyek ini juga mendorong penguatan mata pencaharian masyarakat melalui kegiatan seperti kehutanan berkelanjutan, pembibitan tanaman, akuakultur, dan ekowisata berbasis komunitas. 

Reporter : Cidalia Fátima

Editor      : Armandina Moniz

iklan
iklan

Leave a Reply

iklan
error: Content is protected !!