DILI, 21 Juni 2025 (TATOLI)– “Belajar tidak pernah selesai, termasuk bagi jurnalis,” ujar Harry Suryadi, jurnalis senior sekaligus pelatih dalam lokakarya Enhancing Climate Reporting in Timor-Leste, yang diselenggarakan oleh Asosiasi Jurnalis Timor Lorosa’e (AJTL) bekerja sama dengan UNESCO.
Lokakarya dua hari yang digelar dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia ini diikuti oleh 19 jurnalis dari berbagai media, cetak, daring, radio, dan televisi.
Tujuannya adalah meningkatkan kapasitas jurnalis dalam meliput isu perubahan iklim di Timor-Leste, negara yang meski berkontribusi rendah terhadap emisi karbon, namun sangat terdampak oleh krisis iklim global.
Dalam sesi pelatihan, Harry membagikan pendekatan berpikir kritis kepada para peserta. Ia mengakui bahwa metode pengajarannya terkadang terasa menantang.
“Banyak yang merasa terintimidasi atau menjengkelkan. Tapi saya tidak bermaksud demikian. Kalau saya sering tanya ulang, itu supaya pernyataan menjadi lebih jelas. Saya hanya ingin berbagi apa yang saya tahu,” ujarnya menutup Lokakarya dua hari yang digelar pada 20 dan 21 Juni 2025 di kantor HAK Farol.
Meski pelatihan telah selesai, komunikasi tetap dibuka melalui grup WhatsApp. “Silakan bertanya kapan saja, mau pakai bahasa Tetun juga boleh. Nanti saya tanya Mbak Google. Begitu juga ketika saya melatih teman-teman di Laos dan Kamboja, mereka pakai bahasa lokal, saya tetap jawab,” ucap Harry dengan semangat.
Sementara, Sekretaris Jenderal AJTL, Joaquim de Fatima Coutinho, menyampaikan rasa terima kasihnya kepada semua pihak yang telah berpartisipasi dalam kegiatan tersebut dan diharapkan akan adanya hasil yang lebih baik.
“Untuk Pak Harry, terima kasih banyak. Semoga ke depan kita bisa terus bekerjasama lagi. Dan kepada para wartawan, kami harap pelatihan ini menjadi bekal untuk peliputan isu perubahan iklim dari berbagai platform. Kami juga berharap kerja sama dengan UNESCO tidak berhenti di sini,” ujarnya.
Salah satu peserta, Domingos Moreira Soares dari GARDAMOR TV, menilai lokakarya ini sangat bermanfaat dan berharap kegiatan serupa terus dilakukan di masa mendatang.
“Selama dua hari ini banyak hal yang kami pelajari. Dari pemahaman dasar perubahan iklim, cara menulis lebih deskriptif dan detail. Ini sangat membantu kami dalam menjalankan tugas sebagai jurnalis,” katanya, Sabtu ini.
Sebagai tindak lanjut, 19 jurnalis peserta lokakarya akan menyusun rencana liputan bersama terkait perubahan iklim. Mereka akan menerima dukungan dana dari UNESCO dan memiliki waktu hingga tiga bulan untuk menyelesaikan liputan masing-masing.
Melalui lokakarya ini, AJTL dan UNESCO menegaskan pentingnya memperkuat jurnalisme lingkungan yang faktual, kritis, dan terus berkembang di Timor-Leste. Sebuah langkah awal untuk memastikan isu-isu iklim mendapat tempat penting dalam pemberitaan media lokal.
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz




