iklan

KESEHATAN, HEADLINE

WHO – Kemenkes minta akhiri stigma dan diskiriminasi pada penderita TBC dan HIV

WHO – Kemenkes minta akhiri stigma dan diskiriminasi pada penderita TBC dan HIV

Foto bersama disela-sela pelatihan kepada Petugas Kesehatan di wilayah Nasional yang melayani penderita TBC dan HIV selama dua hari di Hotel Novo Turismo Dili, senin (02/06). Foto Tatoli/Antonio Daciparu

DILI, 02 Juni 2025 (TATOLI)— Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Timor – Leste dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), mengingatkan kepada semua masyarakat termasuk petugas kesehatan untuk mengakhiri diskriminasi dan stigma terhadap penderita Tuberkulosis (TBC) dan HIV.

Hal tersebut disampaikan, saat memberikan pelatihan kepada Petugas Kesehatan di wilayah Nasional yang melayani penderita TBC dan HIV selama dua hari dengan tema, “ Lokakarya Penguatan respon TBC dan HIV di Timor-Leste, pada pengurangan stigma dan diskriminasi”.

“Meskipun ada kemajuan yang signifikan, Timor-Leste masih menanggung salah satu beban TBC tertinggi di Asia Tenggara, sementara HIV masih menjadi masalah yang terus berkembang. Kami telah membuat kemajuan dalam diagnosis, pengobatan, dan pengawasan,  tetapi ada penghalang yang merusak semuanya yaitu stigma. Stigma mengisolasi mereka, memaksa mereka untuk bungkam, menjauhkan mereka dari perawatan, dan membiarkan mereka menderita sendirian. Bagi banyak orang, penyakit bukanlah bagian tersulit. Yang tersulit adalah rasa malu, penolakan, beban berat karena diperlakukan tidak manusiawi,” kata Perwakilan WHO di Timor-Leste, Arvind Mathur dalam sambutan pada pembukaan pelatihan di Hotel Novo Turismo Dili, senin ini.

Arvind Mathur juga meminta kepada professional kesehatan yang sebagai garis terdepan  untuk memberikan pelayanan yang baik, kepada penderita TBC dan HIV karena stigma merupakan trauma yang menimbulkan rasa takut, cemas, membenci diri sendiri, dan putus asa.

“Oleh karena itu, kesehatan mental bukanlah masalah sampingan, Jika kita mengobati penyakitnya tetapi mengabaikan bekas luka psikologisnya, kita hanya melakukan separuh pekerjaan kita,” kata Arvind.

WHO juga mendesak pada semua petugas kesehatan untuk berkomitmen tidak hanya mengakhiri TBC dan HIV, tetapi juga untuk mengakhiri isolasi dan penderitaan yang menyertai para penderita.

“WHO berdiri teguh bersama Kementerian Kesehatan dan semua mitra kami dalam perjuangan ini. Bersama-sama, mari kita sembuhkan lebih dari sekadar penyakit, mari kita sembuhkan kesunyian, ketakutan, dan ketidakadilan yang menyertainya,” paparnya.

Ditempat yang sama, Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Primer di Kemenkes, Elisabeth Letomau, juga meminta pada penderita HIV dan TBC untuk tidak malu melakukan pengecekan kesehatan di Pusat Kesehatan, dan memberikan kepercayaan kepada petugas kesehatan.

“Selama dua hari ini dengan adanya pelatihan untuk meningkatkan kapasitas pada petugas kesehatan agar, mereka dapat mencegah diri sendiri dalam melakukan diskriminasi dan memperluas informasi terkait dengan penderita TBC dan HIV,”ujarnya.

Dijelaskan, menurut data yang dikumpulkan diskriminasi dari petugas kesehatan terhadap penderita TBC dan HIV pada tahun 2024 sekitar 43% dibandingkan dengan tahun sebelumnya, dan saat ini angka itu mulai menurun hingga 9%, sedangkan stigma internal ada 28% di tahun 2024.

Untuk mengakhiri stigma dan diskriminasi terhadap penderita TBC dan HIV, Kemenkes juga mendapatkan dukungan dari Global Coalition of TB Advocates (GCTA). 

Reporter : Mirandolina Barros Soares

Editor     : Armandina Moniz

iklan
iklan

Leave a Reply

iklan
error: Content is protected !!