DILI, 22 April 2025 (TATOLI)—Kantor Pers Vatikan mengumumkan bahwa Misa kanonisasi untuk Beato Carlo Acutis, yang semula dijadwalkan pada Minggu, 27 April 2025, resmi ditangguhkan sementara.
Penundaan ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap wafatnya Paus Fransiskus, dan sejalan dengan masa berkabung resmi Gereja Katolik.
Perayaan kanonisasi tersebut awalnya akan berlangsung pada Minggu Kedua Paskah, yang juga dikenal sebagai Minggu Kerahiman Ilahi, hari yang sangat bermakna dalam kalender liturgi Katolik.
Kantor Pers menyatakan bahwa jadwal baru untuk Misa dan ritus kanonisasi akan diumumkan ulang setelah masa duka Gereja berakhir, dan setelah prosesi pemakaman serta penghormatan terakhir bagi Paus Fransiskus selesai dilaksanakan.
Berita terkait : Jenazah Paus Fransiskus disemayamkan hingga pemakaman sabtu pagi di Vatikan
Beato Carlo Acutis, remaja asal Italia yang dikenal karena devosinya pada Ekaristi dan pemanfaatan teknologi untuk pewartaan iman, telah menarik perhatian dunia sebagai calon santo pertama dari generasi digital. Kanonisasi resminya telah lama dinantikan, khususnya oleh kaum muda Katolik di berbagai belahan dunia.Carlo Acutis lahir di London, Inggris, pada 3 Mei 1991, dan dibesarkan di Milan, Italia. Sejak kecil, ia menunjukkan kecintaan yang luar biasa pada Ekaristi dan kehidupan doa. Ia dikenal karena kebiasaannya menghadiri misa harian dan berdoa Rosario, serta semangatnya untuk membantu sesama, terutama anak-anak yang mengalami kesulitan.
Carlo juga memiliki bakat besar dalam bidang teknologi. Pada usia 11 tahun, ia menciptakan situs web yang mendokumentasikan mukjizat Ekaristi dari seluruh dunia, sebuah karya yang kemudian dikenal luas sebagai warisan digital imannya.
Carlo meninggal dunia pada 12 Oktober 2006 dalam usia 15 tahun karena leukemia akut. Ia menawarkan penderitaannya “untuk Gereja dan untuk Paus.” Pada 10 Oktober 2020, Carlo di-beatifikasi oleh Paus Fransiskus di Assisi, tempat ia dimakamkan.
Kini, Carlo Acutis dikenal sebagai pelindung kaum muda dan pengguna internet, serta dijuluki sebagai “Santo Zaman Digital” karena kemampuannya mengintegrasikan teknologi dengan spiritualitas Katolik.
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Julia Chatarina




