iklan

EKONOMI, INTERNASIONAL, DILI

Mengkhawatirkan, angka panen kopi Timor-Leste turun setiap tahun

Mengkhawatirkan, angka panen kopi Timor-Leste turun setiap tahun

Wakil Ketua Asosiasi Kopi Timor-Leste (ACTL -portugis) sekaligus sebagai Bussines Development Manager di Timor Global, Afonso de Oliveira. Foto Tatoli/Cidalia Fatima

DILI, 30 mei 2022 (TATOLI)— Wakil Ketua Asosiasi Kopi Timor-Leste (ACTL -portugis) sekaligus sebagai Bussines Development Manager di Timor Global, Afonso de Oliveira mengungkapkan angka panen kopi di Timor-Leste semakin menurun setiap tahun, dampak dari  pohon kopi yang semakin tua.

“Produksi kopi di Timor setelah kita mendapatkan kemerdekaan bisa memanen hingga 12.000 ton kopi dengan kulit merah setiap tahun. Tetapi,  saat ini hanya bisa mencapai 6.000 hingga 9.000 ton setiap tahun. Itu disebabkan, karena banyaknya pohon kopi yang sudah semakin tua,” jelas Afonso de Oliveira pada Tatoli secara esklusif.

Ia menjelaskan, pohon kopi yang sekarang ada di Timor-Leste  adalah hasil tanam dari nenek moyang dari dulu hingga saat ini dan tidak banyak yang dilakukan oleh pemerintah untuk melakukan penanaman kembali pohon kopi baru.

“Penanaman kembali  pohon kopi baru  harus dilakukan agar bisa menyelamatkan produksi kopi kita. Selama ini pemerintah hanya berbicara,  tetapi tidak ada praktiknya.  Banyak negara lain  ingin kita memasok kopi lebih banyak tetapi kita tidak bisa memenuhi permintaan mereka,” katanya.

Ia meminta agar birokrasi dalam proses mengeksporan bisa diperlancar agar para pengekspor tidak kehilangan kepercayaan dari luar negeri karena kopi sendiri tergantung dari para negara pengekspor kopi terbanyak seperti Brazil dan Vietnam.

“Brazil dan Vietnam yang mengatur harga kopi dan kita negara kecil hanya memberikan kuantitas kecilnya saja,” ucapnya.

ACTL sendiri mendapatkan dukungan dari ADB (Asian Development Bank) untuk merehabilitasi lahan kopi seluas 60.000 hektar.

“Kami akan merehabilitasi untuk meningkatkan dari 500kg sampai 1000kg per hektar dengan begitu para petani bisa merasakan dampaknya. Karena, jika tidak mereka akan menebang pohon kopi yang ada dan menggantikannya dengan hal lain yang lebih bermanfaat,” jelasnya.

Meskipun begitu Timor-Leste bisa memberikan jaminan yang berbeda mulai dari menyediaakan kopi organik, perbaiki kualitas dan meningkatkan kuantitas dengan begitu bisa berkompetisi dengan negara lain.

Dijelaskan, produksi rata-rata tanaman kopi di Indonesia mencapai 746 kg/hektar masih ada potensi untuk ditingkatkan hasil produksinya dengan melakukan kegiatan peremajaan tanaman tua.

Manajemen peremajaan tanaman kopi perlu segera dilakukan untuk katagori tanaman yang sudah tua. Kalangan petani kopi perlu mengintensifkan peremajaan tanamannya guna mengejar produktivitas yang tinggi, karena tanaman yang  sudah tua dan juga peremajaan dapat beralih untuk menanam jenis yang lebih unggul. Idealnya produksi kopi mampu di atas 1,5 ton kopi beras per-hektar untuk per-tahun.

Reporter: Cidalia Fátima

Editor   : Armandina Moniz

iklan
iklan

Leave a Reply

iklan
error: Content is protected !!