iklan

INTERNASIONAL, BAUCAU, DILI

Ratusan ikan paus biru kembali terlihat di perairan Timor-Leste

Ratusan ikan paus biru kembali terlihat di perairan Timor-Leste

Foto google

DILI, 09 desember 2021 (TATOLI)– Asosiasi Pariwisata Laut Nasional (ATM-TL-  Assosiasaun Turizmu Maritima Timor-Leste),  mengumumkan bahwa ikan Paus biru kembali terlihat di perairan di TL, dan rekor jumlah paus -termasuk penampakan ratusan paus biru yang terancam punah.

Profesor Karen Edyvane, selaku Ahli Pakar Paus Lokal dan Ketua ATM-TL, mengatakan meskipun ada larangan perjalanan global, dan kondisi cuaca ‘La Nina’ yang menantang di perairan TL pada 2021 terus menjadi tempat pengamatan paus terbaik di dunia.

“Kami tahu bahwa perairan TL adalah koridor migrasi utama paus. Tetapi selama dua tahun terakhir, kami telah melihat 450-500 Paus Biru Kerdil yang luar biasa dan setahun ini di lepas di pantai TL. Di seluruh dunia, kami yakin ini adalah jumlah paus biru terbesar yang pernah terlihat selama program pemantauan wisata paus,” ungkap Profesor Karen dalam surat siaran pers yang diakes Tatoli.

Dikatakan, pada tahun ini, selama lebih dari tiga bulan terhitung september hingga November,  sebanyak 25 paus biru per hari terlihat lepas di pantai ibu kota Dili dan pantai utara, bermigrasi ke selatan dari tempat berkembang biaknya di Laut Banda (Indonesia), ke Barat (Australia) dan tempat mencari makan mereka di perairan Subantartika yang sejuk.

Perairan dalam TL dikenal sebagai ‘hotspot global’ bagi paus dan lumba-lumba, dengan lebih dari 20 spesies tercatat di perairannya, termasuk spesies yang bermigrasi dan terancam punah, seperti Paus Biru Kerdil dan Paus Sperma.

Dijelaskan, dengan migrasi tahunan  seringkali sangat dekat dengan pantai dan  juga menyediakan beberapa tempat pengamatan paus terbaik dan paling mudah diakses di dunia. Pada 2019, perairan sedalam tiga km di lepas pantai Dili dan pantai utara TL diakui secara internasional sebagai Area Mamalia Laut Penting (IMMA) dan ‘koridor migrasi’ utama.

Profesor Karen juga mengatakan rekor jumlah penampakan paus biru sebagian besar disebabkan oleh kemitraan yang kuat dan kolaborasi erat antara operator tur paus dan ilmuwan paus  dan khususnya, keterlibatan nelayan lokal baru-baru ini.

‘Jaringan pengintai paus’ dari nelayan lokal didirikan pada tahun 2020 terutama untuk mencari paus dan  membantu operator tur paus komersial yang berbasis di Dili dengan tur paus mereka. Dan juga, untuk memberikan informasi penting tentang status dan biologi paus dan lumba-lumba TL.

Sementara itu, Petugas Margasatwa Laut, Potenzo Lopes dan juga sebagai seorang fotografer alam lokal Timor dan konservasionis satwa liar, memantau paus di lepas pantai Subaun (40 km sebelah timur Dili), dan juga mengkoordinasikan program pemantauan dan pendidikan paus berbasis desa.

Potenzo menyoroti peran penting nelayan lokal dan desa pesisir dalam menyediakan penampakan paus harian secara real-time.

“Nelayan adalah pengamat alam yang hebat. Hidup begitu dekat dengan pantai dan menghabiskan begitu banyak waktu di air, mereka mampu secara akurat merekam lewatnya paus, terutama paus biru dan paus sperma. Dan kami dapat menyampaikan informasi penampakan ini segera ke operator tur di Dili. Para nelayan bahkan secara teratur mendengar hantaman paus yang lewat di dekat pantai, pada malam hari,” kata Potenzo.

Dengan operator tur yang juga menyediakan ratusan foto paus tambahan, video bawah air, dan rekaman drone dari tur paus. Semua informasi ini, memberi para peneliti wawasan baru tentang paus dan lumba-lumba TL, khususnya Paus Biru Pygmy dan Paus Sperma.

Dikatakan, program citizen science ini memberikan pengetahuan yang luar biasa tentang Paus Biru Pygmy dan Paus Sperma di perairan TL. ATM-TL dan kami juga memantau dengan cermat kondisi oseanografi lokal untuk lebih memahami gerakan dan perilaku mereka,” katanya.

ARM-TL pada 2021 ini telah mengidentifikasi area makan baru untuk paus biru dan mendokumentasikan untuk pertama kalinya ‘penumpahan kulit’ di beberapa kelompok paus sperma. Namun, tahun ini ATM-TL juga melihat tanda-tanda potensial pertama dari dampak perubahan iklim  dengan terlihatnya banyak paus biru yang kekurangan gizi dan juga perubahan signifikan dalam makanan lokal dan perilaku migrasi mereka.

“Ini adalah situasi yang jelas dan perlu kita pantau dengan cermat”, kata Profesor Karen.

Dilain pihak, Operator tur paus lokal yang berbasis di Dili, Robert Crean selaku juga Direktur Eksekutif, Compass Diving merangkum komitmen kuat industri pariwisata untuk mendukung penelitian dan kolaborasi, Compass Diving dan senang mendukung upaya penelitian dan sangat ingin mempelajari lebih lanjut tentang makhluk menakjubkan tersebut.

Reporter : Cidalia Fátima

Editor     : Armandina Moniz

iklan
iklan

Leave a Reply

iklan
error: Content is protected !!