iklan

HEADLINE, KEAMANAN

Presiden Ramos-Horta : 50 Tahun FALINTIL Refleksi Perjuangan dan Tantangan Baru Bangsa

Presiden Ramos-Horta : 50 Tahun FALINTIL Refleksi Perjuangan dan Tantangan Baru Bangsa

Upacara 50 tahun berdirinya FALINTIL yang digelar di Tasi-tolu, Dili, Rabu (20/08). Foto Tatoli/Francisco Sony

DILI, 20 Agustus 2025 (TATOLI)— Presiden Republik Demokratik Timor-Leste dan peraih Nobel Perdamaian, José Ramos-Horta, dalam pidatonya memperingati 50 tahun berdirinya FALINTIL, menyerukan refleksi nasional atas sejarah panjang perjuangan, sekaligus mengingatkan akan tantangan baru yang dihadapi bangsa Timor-Leste di masa depan.

Peringatan HUT FALINTIL ke – 50 yang berlangsung di Tasi-tolu  dihadiri oleh tokoh-tokoh penting nasional maupun internasional, termasuk Perdana Menteri Xanana Gusmão, Ketua Parlemen Nasional Fernanda Lay, serta perwakilan dari negara-negara sahabat dan organisasi regional.

Dalam pidatonya, Presiden Ramos-Horta menekankan bahwa FALINTIL bukan hanya kekuatan militer, melainkan lambang keberanian, ketahanan, dan semangat pembebasan rakyat Timor-Leste. Ia menyebut hari jadi ke-50 ini sebagai momen untuk merenungkan kembali sejarah perjuangan dan pengorbanan rakyat demi kemerdekaan.

“FALINTIL adalah tulang punggung perlawanan nasional. Kita mengenang dengan hormat para pejuang yang gugur, para veteran yang masih hidup, serta peran semua elemen masyarakat yang menjaga nyala perlawanan tetap hidup,” ujar Presiden dalam pidatonya.

Ia juga menyoroti peran jaringan klandestin dan RENETIL sebagai kekuatan strategis yang menjaga hubungan antara para pejuang di gunung dan masyarakat di kota-kota yang diduduki selama masa pendudukan.

Presiden Ramos-Horta mengajak seluruh rakyat untuk tidak hanya memperingati secara seremonial, tetapi menjadikan 20 Agustus sebagai hari refleksi nasional, terutama atas kegagalan dialog politik masa lalu yang menyebabkan konflik internal, termasuk krisis 2006.

“Kita harus menghindari retorika politik dan ideologi yang mengobarkan konflik. Dialog yang tulus dan saling mendengar adalah satu-satunya jalan untuk mencegah perpecahan,” tegasnya.

Ia mengingatkan bahwa sejarah telah mencatat luka akibat konflik saudara dan bahwa bangsa ini harus belajar dari masa lalu, bukan terjebak di dalamnya.

Presiden menyebut tahun 2025 sebagai tahun penting bagi Timor-Leste, bukan hanya karena 50 tahun FALINTIL, tetapi juga karena keanggotaan penuh Timor-Leste di Organisasi Perdagangan Dunia (2024) dan segera bergabung dengan ASEAN pada Oktober 2025, menunjukkan kemajuan diplomatik dan ekonomi serta peringatan 50 Tahun Proklamasi Republik Demokratik Timor-Leste yang akan dirayakan pada 28 November mendatang.

“Ini adalah tahun transformasi. Kita harus melangkah dari narasi perjuangan menuju pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan,” ucap Ramos-Horta.

Presiden juga memberikan penghormatan khusus kepada para perempuan pejuang yang terlibat dalam FALINTIL dan jaringan klandestin. Menurutnya, perempuan memainkan peran penting tidak hanya sebagai pendukung, tetapi sebagai pejuang, pemimpin, dan penjaga moral masyarakat.

Selain itu, ia menegaskan kembali peran Gereja Katolik sebagai pilar spiritual perlawanan, menyebut nama-nama besar seperti mendiang Dom Martinho da Costa Lopes dan Uskup Carlos Ximenes Belo yang membawa suara rakyat ke panggung internasional.

Ramos-Horta menekankan bahwa di masa damai, Angkatan Pertahanan Timor-Leste (F-FDTL) harus tetap profesional dan disiplin, serta berkontribusi dalam pembangunan sipil, penanggulangan bencana, dan pemulihan infrastruktur.

Ia juga menyerukan peningkatan kerja sama internasional, terutama dengan negara-negara ASEAN dan mitra strategis lainnya, guna memperkuat kapasitas dan modernisasi pasukan.

Tak kalah penting, Presiden menegaskan bahwa negara memiliki tanggung jawab moral terhadap para veteran dan mantan kombatan, termasuk pemenuhan hak-hak sosial mereka dan akses terhadap kehidupan yang bermartabat.

Mengakhiri pidatonya, Ramos-Horta mengajak seluruh rakyat Timor-Leste untuk menjaga warisan FALINTIL dengan semangat persatuan dan ketahanan.

“Sejarah bangsa ini dibangun dari air mata dan keberanian. Kini, tugas kita adalah memastikan bahwa generasi muda mewarisi nilai-nilai itu untuk masa depan yang damai, adil, dan sejahtera.”

Peringatan ini menjadi momen bersejarah bukan hanya untuk menghormati masa lalu, tetapi juga menegaskan arah baru Timor-Leste sebagai bangsa yang mandiri, terbuka, dan siap menghadapi tantangan global. 

Ramos-Horta Kecam Genosida di Gaza dan diamnya elit barat

Presiden Republik Ramos-Horta, juga dalam pidato peringatan 50 tahun FALINTIL menyampaikan kritik keras terhadap situasi global yang terus memburuk, terutama atas genosida yang sedang berlangsung di Gaza.

Ia juga mengecam diamnya para elit politik Barat yang dianggap gagal menunjukkan empati dan keadilan dalam konflik tersebut. Menurutnya dunia kini tengah dihadapkan pada krisis global yang saling terkait dan berdampak langsung terhadap stabilitas internasional.

Presiden Republik Timor-Leste, José Ramos-Horta. Foto Tatoli

“Saya sangat terguncang keyakinan saya pada nilai-nilai yang diproklamasikan turun-temurun oleh para pengkhotbah peradaban Kristen ketika saya menyaksikan, dalam siaran langsung, genosida terencana terhadap rakyat Palestina dan ketidakpedulian para elit politik Barat yang terlibat,” ujar Ramos-Horta dalam peringata 50 tahun FALINTIL di Tasi-tolu, rabu ini.

Ia menambahkan bahwa keheningan negara-negara kuat atas penderitaan rakyat Palestina merupakan bentuk “ketidakpedulian yang munafik dan rasis,” serta mengecam tajam dukungan militer berupa pengiriman senjata kepada pelaku kekerasan di Gaza.

Meskipun mengecam agresi Israel, Ramos-Horta juga menegaskan bahwa kelompok Hamas tidak lepas dari tanggung jawab. Ia menyebut bahwa Hamas telah melakukan kejahatan tidak hanya terhadap warga sipil Israel, tetapi juga terhadap rakyat Palestina sendiri selama puluhan tahun konflik berlangsung.

Dalam pidatonya yang sarat dengan keprihatinan global, Presiden juga menyoroti berbagai tantangan serius lainnya seperti proliferasi kejahatan transnasional, perdagangan senjata dan narkoba, kejahatan siber, serta migrasi ilegal yang mengancam stabilitas sosial masyarakat global.

Isu krisis iklim juga menjadi perhatian utama. Ia menekankan bahwa negara-negara rentan, seperti Timor-Leste, sangat terdampak oleh perubahan iklim, yang memicu peristiwa cuaca ekstrem, kerawanan pangan, dan kelangkaan air bersih.

Ramos-Horta juga mengulas ketimpangan ekonomi yang semakin dalam, baik antara negara-negara maju dan berkembang, maupun di dalam masing-masing negara. Ia mengkritisi ketimpangan yang mencolok antara “para miliarder dan triliuner di Utara” dengan kemiskinan ekstrem yang terus melanda negara-negara Selatan.

Ramos-Horta menyerukan agar negara-negara seperti Timor-Leste membangun visi nasional yang bertanggung jawab dan terinformasi, yang mampu menjawab tantangan global melalui kerja sama regional dan internasional.

“Visi negara yang bertanggung jawab harus mengintegrasikan pemahaman kritis tentang tantangan global dan secara aktif mencari peluang untuk kerja sama, keterlibatan internasional, dan kepemimpinan yang konstruktif,” pungkasnya.

Reporter : Cidalia Fátima

Editor     : Armandina Moniz

iklan
iklan

Leave a Reply

iklan
error: Content is protected !!