iklan

EKONOMI

Penelitian tunjukkan banyak keanekaragaman hayati laut di Lamsana dan Hinur-Hitu  

Penelitian tunjukkan banyak keanekaragaman hayati laut di Lamsana dan Hinur-Hitu   

Buku Hasil dari Basis Data untuk Pengelolaan Kawasan Lindung Laut di Manatuto dan Atabae, Bobonaro diluncurkan. Foto TATOLI/ Antonio Daciparu

DILI, 06 Maret 2026 (TATOLI) – Conservation International Timor-Leste (CITL) bersama Kementerian Pertanian, Peternakan, Perikanan, dan Kehutanan (MAPPF) mempresentasikan hasil penelitian mengenai kondisi biofisik dasar laut, luas vegetasi pesisir, serta aspek sosial-ekonomi di wilayah Lamsana-Mana dan Hinur-Hitu, kotamadya Bobonaro.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa wilayah tersebut memiliki keanekaragaman hayati laut yang tinggi. Di Lamsana, sebanyak 200 spesies laut telah diidentifikasi, termasuk 57 spesies terumbu karang, 25 spesies ikan, 31 spesies burung, lima spesies dugong atau kepiting laut, 25 spesies penyu, serta delapan spesies pohon parapa yang tumbuh di area seluas 23,97 hektar dan delapan spesies lamun yang tumbuh di area seluas 80,17 hektar.

Di wilayah Hinur-Hitu, sebanyak 117 spesies telah diidentifikasi, termasuk 32 spesies terumbu karang, 18 spesies ikan, 26 spesies burung, delapan spesies lamun yang tumbuh di area seluas 25 hektar, serta delapan spesies pohon yang tumbuh di area seluas 10,84 hektar.

Direktur Nasional CITL, Manuel Mendes, mengatakan penelitian ini dilakukan selama dua tahun, antara 2024 hingga 2025, sebagai bagian dari implementasi Program Solusi untuk Ketahanan Laut dan Pesisir (SOMACORE) yang bekerja sama dengan MAPPF.

“Tujuan utama program ini adalah untuk memperkuat kesehatan ekosistem, perikanan, ketahanan terhadap risiko, pertumbuhan sosial-ekonomi, serta tata kelola yang baik dan kepemimpinan yang efektif bersama para mitra,” kata Manuel Mendes dalam seminar nasional untuk berbagi hasil penelitian tentang biofisik dasar laut, vegetasi pesisir, dan sosial-ekonomi di Timor-Leste, hari ini.

Ia menjelaskan bahwa penelitian ini melibatkan 16 peneliti dari Timor-Leste dan juga mengidentifikasi beberapa spesies yang terancam punah, seperti lenuk, karang, ikan karang, makikit, dan dugong.

Menurut Manuel Mendes, perlindungan kawasan ini penting untuk memastikan keberlanjutan sumber daya laut serta dapat mempromosikan pariwisata bahari di Timor-Leste.

Sekretaris Negara Perikanan, Domingos dos Santos, mengatakan program SOMACORE penting untuk memperkuat kesehatan ekosistem, perikanan, dan ketahanan terhadap berbagai risiko.

Ia menambahkan bahwa penggunaan sumber daya biologi perairan secara berkelanjutan, terutama sumber daya perikanan, membutuhkan data dan informasi yang berbasis penelitian ilmiah untuk membantu Pemerintah menyusun rencana pengelolaan yang tepat.

Menurut Program Pemerintah Konstitusional IX, pembangunan ekonomi Timor-Leste akan memperhatikan konsep Ekonomi Biru, di mana kegiatan ekonomi yang berbasis laut dan samudra, seperti perikanan, budidaya perikanan, transportasi maritim, pariwisata bahari, serta kegiatan lainnya akan menjadi prioritas.

Ia menegaskan bahwa untuk memastikan keberlanjutan sumber daya biologi perairan dan perikanan, perlu dilakukan konservasi serta perlindungan terhadap area-area penting, seperti ekosistem pesisir dan laut.

Timor-Leste juga merupakan bagian dari komitmen global terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, khususnya Tujuan 14 (SDG 14) yang berfokus pada kehidupan di bawah air.

Timor-Leste bersama lima negara lainnya—Indonesia, Malaysia, Filipina, Papua Nugini, dan Kepulauan Solomon—juga menjadi bagian dari Inisiatif Segitiga Karang tentang Perikanan Terumbu Karang dan Ketahanan Pangan (CTI-CFF), yang dideklarasikan di Manado, Indonesia, pada 15 Mei 2009 untuk melindungi keanekaragaman hayati di wilayah Segitiga Karang.

Sekretaris Negara menyatakan bahwa hasil survei data ini akan digunakan sebagai informasi dasar untuk mendukung pembentukan kawasan tara-bandu laut atau kawasan lindung laut.

Sementara itu, peneliti Deonísio Rangel, mahasiswa  akhir Jurusan Ilmu Kelautan dan Perikanan dari Universitas Nasional Timor Lorosa’e (UNTL), mengaku bangga dapat terlibat dalam penelitian tersebut.

“Ini merupakan langkah positif bagi saya untuk melakukan penelitian yang lebih spesifik di masa mendatang guna berkontribusi pada rencana Pemerintah melalui konsep Ekonomi Biru,” ujarnya.

Reporter: Arminda Fonseca (Penerjemah: Cidalia Fátima)

Editor :  Armandina Moniz 

 

iklan
iklan

Leave a Reply

iklan
error: Content is protected !!