DILI, 23 Juni 2026 (TATOLI) – Pagi itu, Bandara Internasional Presiden Nicolau Lobato, Comoro, tidak lagi sekadar menjadi tempat datang dan perginya pesawat. Bandara utama Timor-Leste tersebut berubah menjadi lautan duka ketika ribuan warga berkumpul untuk menyambut kepulangan Jenazah Mantan Presiden Republik Demokratik Timor-Leste (RDTL), Francisco Guterres “Lú Olo”.
Mantan Presiden Francisco Guterres “Lú Olo” meninggal dunia di Rumah Sakit Prince Court, Kuala Lumpur, Malaysia, pada Minggu (21/06) malam, setelah menjalani perawatan kesehatan intensif. Dan pagi ini, Jenazah Mantan Presiden Lú Olo tiba di Dili, Timor-Leste.
Masyarakat yang memadati kawasan bandara bukan datang untuk mengantar anggota keluarga ke luar negeri ataupun menyambut tamu negara. Mereka datang untuk memberikan penghormatan terakhir kepada seorang pejuang kemerdekaan, mantan Kepala Negara, sekaligus Ketua Partai Politik FRETILIN (Frente Revolucionária de Timor-Leste Independente), yang meninggal dunia pada Minggu (21/6) di Prince Court Medical Centre, Kuala Lumpur, Malaysia, setelah menjalani perawatan intensif sejak 23 Mei lalu.
Sejak malam hari, suasana duka telah terasa di ibu kota. Personel Polisi Nasional Timor-Leste (PNTL) bersama Pasukan Pertahanan Timor-Leste (F-FDTL) berjaga di sepanjang ruas jalan protokol mulai dari bandara hingga kediaman mendiang di Farol.
Berdasarkan pantauan TATOLI, sejak pukul 05.00 pagi kawasan Bundaran Presiden Nicolau Lobato telah dipenuhi masyarakat. Mayoritas mengenakan pakaian merah khas partai FRETILIN sambil membawa dan mengibarkan bendera partai yang selama puluhan tahun dipimpin oleh Lú Olo.

Di dalam area bandara, persiapan penyambutan kenegaraan telah dimulai sejak pukul 04.00 pagi. Karpet merah dibentangkan di pintu kedatangan VIP. Sekitar 70 personel F-FDTL bersenjata lengkap berdiri dalam formasi kehormatan di dekat apron bandara.
Pada pukul 06.00 pagi, keluarga mendiang diizinkan memasuki area VIP untuk menunggu kedatangan pesawat dari balik pagar pembatas. Satu per satu pejabat tinggi negara mulai berdatangan. Anggota Pemerintah, Parlemen Nasional, pimpinan lembaga negara, veteran perjuangan seperti Riak Leman, petinggi F-FDTL, mantan Ketua Pengadilan Tinggi, Pastor Paroki Balide Angelo Salsinha, hingga mantan Presiden Timor-Leste, Taur Matan Ruak, terlihat hadir untuk memberikan penghormatan.
Di area luar VIP telah disiapkan mobil jenazah milik F-FDTL yang akan membawa jenazah menuju kediaman keluarga di Farol. Iring-iringan tersebut juga akan dikawal oleh sepuluh sepeda motor patroli Polisi Militer.
Suasana berkabung semakin terasa ketika seluruh tiang bendera di kawasan bandara hanya mengibarkan bendera nasional Timor-Leste. Bendera berbagai negara yang biasanya berkibar di lokasi itu untuk sementara digantikan oleh simbol negara yang sedang berduka.
Tepat pukul 06.43 pagi waktu Timor-Leste, pesawat Aero Dili Airbus A320-232 dengan nomor penerbangan 8G9221 yang membawa jenazah Lú-Olo mendarat di landasan Bandara Internasional Presiden Nicolau Lobato.
Saat roda pesawat menyentuh landasan, suasana hening seketika berubah menjadi isak tangis.
Dari balik pagar VIP terdengar suara tangisan keluarga yang tak mampu lagi menahan kesedihan. Beberapa anggota keluarga saling berpelukan sambil mengenang sosok yang selama ini menjadi ayah, suami, saudara, sekaligus pemimpin bangsa.
Di luar area VIP, banyak warga terlihat menyeka air mata. Beberapa di antaranya bahkan menangis tersedu-sedu. Tak sedikit wartawan yang hadir di lokasi turut larut dalam suasana haru. Mereka mengenang sosok Lú Olo yang selama lima tahun menjabat Presiden Republik, sejak 20 Mei 2017 hingga 20 Mei 2022.
Di antara keluarga yang turun dari pesawat terlihat putri mendiang membawa foto sang ayah. Di sampingnya berdiri sang istri, Cidália Nobre Mozinho Lopes, yang terus dipeluk dan dikuatkan oleh putra mereka.
Turut mendampingi keluarga dalam penerbangan dari Malaysia adalah Sekretaris Jenderal Partai FRETILIN, Mari Alkatiri, yang berada bersama keluarga selama masa perawatan terakhir Lú-Olo di Kuala Lumpur.
Ketika sejumlah anggota keluarga diizinkan memasuki area karpet merah untuk memeluk istri dan anak-anak mendiang, tangisan kembali pecah. Tidak ada lagi kata-kata yang mampu menggambarkan kesedihan yang dirasakan saat itu.
Tepat pukul 07.00 pagi, petugas bandara dengan penuh kehati-hatian menurunkan peti jenazah dari pesawat. Lima menit kemudian, peti itu dibawa oleh sepuluh petugas protokol berpakaian jas hitam menuju karpet merah.
Sesampainya di karpet merah, delapan prajurit F-FDTL mengambil alih tugas tersebut. Dua prajurit lainnya berjalan di bagian depan dan belakang sebagai pengawal kehormatan.

Mobil ambulance yang membawa peti jenazah mendiang Mantan Presiden Republik Demokratik Timor-Leste, Francisco Guterres “Lú Olo” saat keluar dari Bandara Internasional Nicolau Lobato, Comoro menuju rumah duka, Farol, Dili. Foto Tatoli/Antonio Daciparu
Saat peti jenazah melewati keluarga yang berdiri berjajar, hampir seluruh anggota keluarga memberikan penghormatan terakhir sambil menangis. Banyak yang menyentuh peti jenazah, membuat tanda salib, dan mengucapkan doa dalam diam.
Di sisi karpet merah, para anggota Pemerintah, Parlemen Nasional, veteran perjuangan, dan tamu undangan menundukkan kepala ketika peti jenazah melintas di hadapan mereka.
Setelah prosesi penghormatan selesai, peti jenazah dimasukkan ke dalam mobil jenazah milik F-FDTL. Di depan iring-iringan berjalan satu kendaraan jip militer yang dikawal sepuluh motor Polisi Militer. Mobil jenazah yang membawa Lú Olo dihiasi bendera nasional Timor-Leste, bendera FRETILIN, serta bendera FALINTIL (Forças Armadas da Libertação Nacional de Timor-Leste). Dua jip militer lainnya mengikuti dari belakang.
Di luar bandara, lautan manusia berpakaian merah telah menunggu sejak dini hari. Mereka berdesakan di sepanjang jalan sambil memberikan penghormatan terakhir ketika iring-iringan mulai bergerak meninggalkan bandara.
Veteran perjuangan Riak Leman mengatakan Timor-Leste telah kehilangan seorang pemimpin besar yang selama bertahun-tahun berjuang bersama rakyat demi kemerdekaan bangsa.
“Kami sudah bersama sejak masa perjuangan di hutan. Ada satu kalimat yang selalu saya ingat dari beliau, ‘Mate ka Moris, Ukun Rasik An’. Sekarang negara ini sudah merdeka, tetapi hari ini kita kehilangan salah satu pejuang yang ikut memperjuangkannya,” ujar Riak Leman.
Ia juga berpesan kepada generasi muda untuk melanjutkan cita-cita para pejuang kemerdekaan dan mempersiapkan diri membangun Timor-Leste di masa depan.
Ketika mobil jenazah meninggalkan kawasan VIP bandara, tangis ribuan warga kembali pecah dan sebagian berdiri diam dengan mata berkaca-kaca di sepanjang jalan menuju kediaman almarhum di Farol.
Dari orang tua, pemuda, hingga anak-anak, semua seolah ingin menyampaikan pesan yang sama kepada sosok yang mereka antar pulang untuk terakhir kalinya: terima kasih atas pengabdianmu untuk Timor-Leste.
Reporter: Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz




