DILI, 18 Juni 2026 (TATOLI) – Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), António Guterres, menyoroti memburuknya krisis kemanusiaan global yang kini mencapai tingkat tertinggi sepanjang sejarah, sementara pendanaan bantuan internasional mengalami penurunan tajam yang mengancam upaya penyelamatan jutaan jiwa di berbagai belahan dunia.
Dalam pesan video yang disampaikan pada pertemuan Urusan Kemanusiaan Dewan Ekonomi dan Sosial PBB (ECOSOC) di New York, Kamis (08/06), António Guterres mengatakan bahwa konflik bersenjata yang terus meningkat, ketidakamanan pangan, serta dampak perubahan iklim telah menyebabkan kebutuhan bantuan kemanusiaan melonjak secara signifikan.
Menurutnya, saat ini lebih dari 135 juta orang di seluruh dunia membutuhkan bantuan mendesak untuk memenuhi kebutuhan dasar dan mempertahankan kelangsungan hidup mereka.
“Di seluruh dunia, kebutuhan kemanusiaan berada pada tingkat tertinggi sepanjang masa, didorong oleh konflik yang semakin meningkat, ketidakamanan pangan, dan perubahan iklim,” kata António Guterres.
Ia juga menyampaikan keprihatinan mendalam atas maraknya pelanggaran hukum humaniter internasional yang terjadi di berbagai wilayah konflik. Warga sipil terus menjadi sasaran serangan, sementara sekolah, rumah sakit, dan fasilitas publik lainnya tidak luput dari ancaman kekerasan.
Selain itu, para pekerja kemanusiaan yang bertugas memberikan bantuan kepada masyarakat terdampak juga menghadapi risiko besar, bahkan kehilangan nyawa saat menjalankan misi kemanusiaan.
Di tengah meningkatnya kebutuhan global tersebut, António Guterres mengungkapkan bahwa pendanaan bantuan kemanusiaan dunia mengalami penurunan drastis. Antara tahun 2024 hingga 2025, dana kemanusiaan global tercatat menyusut hingga 40 persen.
Menurutnya, kondisi tersebut memaksa organisasi-organisasi kemanusiaan untuk membuat keputusan yang sulit terkait prioritas bantuan yang dapat diberikan kepada masyarakat yang membutuhkan.
“Pemangkasan anggaran bantuan kemanusiaan memaksa kami melakukan pilihan-pilihan yang hampir mustahil,” ujarnya.
Meski menghadapi keterbatasan dana, Sekjen Antonio Guterres juga menegaskan bahwa PBB tetap berkomitmen menjalankan misi kemanusiaannya di berbagai negara. Organisasi dunia itu terus menyalurkan bantuan penyelamat jiwa, mendukung masyarakat terdampak krisis, serta berupaya menjamin akses yang aman bagi pekerja kemanusiaan dan distribusi bantuan.
António Guterres mengatakan PBB juga tengah memperkuat reformasi sistem kemanusiaan melalui inisiatif UN80 dengan meluncurkan New Humanitarian Compact, sebuah pendekatan baru yang bertujuan meningkatkan efektivitas dan dampak bantuan kemanusiaan.
Reformasi tersebut mencakup penyederhanaan perencanaan kemanusiaan, integrasi rantai pasok untuk mengurangi duplikasi, penguatan kerja sama dalam pengelolaan data dan diplomasi, serta penyelarasan peran dan tanggung jawab antar badan PBB.
Namun, ia menekankan bahwa pembaruan sistem kemanusiaan global tidak dapat dilakukan oleh PBB sendiri dan membutuhkan dukungan penuh dari negara-negara anggota.
“Diperlukan keberanian politik dari negara-negara anggota. Saya mengajak semua pihak untuk membawa keberanian tersebut dalam setiap pembahasan dan pengambilan keputusan,” katanya.
António Guterres juga menyerukan kepada komunitas internasional untuk kembali menegaskan penghormatan terhadap hukum humaniter internasional dan memperkuat komitmen bersama dalam melindungi kelompok-kelompok paling rentan.
Menurutnya, dunia harus memastikan bahwa sistem bantuan kemanusiaan mampu menjangkau seluruh masyarakat yang membutuhkan, terlepas dari lokasi maupun jenis krisis yang mereka hadapi.
“Bersama-sama, kita harus membangun sistem yang mampu melayani mereka yang paling rentan, apa pun krisisnya dan apa pun kebutuhannya,” pungkasnya.
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz




