iklan

HEADLINE, SOSIAL INKLUSIF

Usia bukan halangan bagi Angelita kembali mengenyam pendidikan demi masa depan

Usia bukan halangan bagi Angelita kembali mengenyam pendidikan demi masa depan

Angelita Soares sedang mengikuti proses belajar mengajar Sekolah Menengah Kesetaraan yang diadakan di ruang kelas Sekolah Menengah Kejuruan, Becora. Foto Tatoli/ Osória Marques

DILI, 16 Juni 2026 (TATOLI) – Mimpi seorang kaum muda putus sekolah kembali bersekolah adalah simbol kuat dari harapan, pemulihan potensi diri, dan penebusan masa lalu. Mimpi ini mencerminkan keinginan bawah sadar untuk memperbaiki kesempatan yang hilang, mengatasi rasa tertinggal, serta meraih kembali masa depan yang sempat tertunda.

Bagi banyak orang, sekolah adalah jalan menuju masa depan yang lebih baik. Namun bagi sebagian lainnya, sekolah adalah kemewahan yang perlu dijangkau. Salah satunya adalah Angelita Soares atau yang sering dipanggil Angelita, seorang Ibu  berusia 30 tahun dari Dili  yang harus putus sekolah, karena situasi dan kondisi yang dihadapinya.

Dimana, saat teman-teman seusianya melanjutkan sekolah, Angelita justru harus berhenti sekolah di bangku Sekolah Dasar pada tahun 2019, karena memilih hidup berkeluarga. Namun, situasi dan kondisinya tidak membuat dirinya menyerah untuk kembali mengenyam dunia pendidikan.

Untuk mewujudkan mimpinya, Angelita tidak pernah menyerah menghadapi tantangan yang ada. Setelah hamil, melahirkan dan si buah hati mulai tumbuh besar, Angelita memilih untuk kembali melanjutkan pendidikannya di bangku sekolah.

“Saya waktu itu berhenti sekolah karena anak saya masih kecil. Tetapi setelah anak saya tumbuh besar, saya memiliki keinginan yang kuat untuk melanjutkan sekolah. Saya sudah punya rencana sebelumnya bahwa pendidikan itu penting untuk masa depan,” katanya kepada TATOLI, saat di wawancarai di rumahnya di Becora Mota-Ulun.

Angelita Soares. Foto Tatoli/ Osória Marques

Keputusan tersebut bukanlah pilihan yang mudah. Di balik kesibukannya sebagai seorang ibu rumah tangga, tersimpan keinginan yang kuat untuk tetap kembali belajar.

Mimpi itu terwujud saat keinginan Angelita yang kuat untuk melanjutkan di Sekolah Pendidikan Kesetaraan. Dimana, Program ini dirancang khusus oleh Kementerian Pendidikan untuk menjangkau anak-anak putus sekolah melalui sistem pembelajaran yang fleksibel, dan memanfaatkan teknologi digital, dan didukung oleh semangat dari berbagai pihak.

Pendidikan kesetaraan adalah solusi jalur nonformal bagi anak atau kaum muda yang putus sekolah. Ijazah yang dikeluarkan diakui sah dan setara dengan sekolah formal, membuka peluang untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi atau dalam hal melamar pekerjaan.

Mimpi itu terwujud saat keinginan Angelita untuk kembali bersekolah di Ensino Básico Recorrente atau biasa disebut Pendidikan Dasar Berulang pada tahun 2024 dan melanjutkan ke  Sekolah Menengah Kesetaraan (Eskola Sekundária Ekivalénsia) atau biasa disebut Sekolah Pendidikan Kesetaraan.

Saat banyak orang menganggap sekolah hanya sebagai kenangan, ibu yang satu ini ingin melanjutkan mimpi yang tertunda, dan ingin mengambil langkah kecil ke depan untuk membangun masa depan yang lebih cerah. Masa depan ini tidak akan dimulai di tempat lain, melainkan di bidang pendidikan.

Bagi banyak orang, waktu bagaikan jarum jam yang hanya menunjukkan pergantian hari. Namun bagi ibu ini, waktu bagaikan sungai yang tak pernah berhenti mengalir. Ia tak berdaya mengubah arah sungai, namun ia memilih arah yang berlawanan. Dimana, setiap pagi, di antara pekerjaannya sebagai ibu rumah tangga dan seragam sekolah yang dikenakannya, ia membuktikan bahwa belajar tidak mengenal usia melainkan lembaran baru yang dapat ditulis dengan harapan untuk meraih masa depan lebih baik.

Untuk mewujudkan mimpinya, Angelita setiap hari berjalan kaki dari rumahnya di Becora Mota-Ulun menuju Terminal Becora dengan jarak yang tidak terlalu jauh untuk mencari ilmu. Biasanya membutuhkan waktu lebih dari satu jam untuk sampai ke terminal karena jalannya harus menuruni bukit gunung.

Baginya, hal terpenting adalah bersekolah untuk mendapatkan ijazah, mendapatkan pekerjaan, dan menghidupi dirinya sendiri serta anak-anaknya di masa depan, daripada mengeluh karena jarak dan masalah keuangan.

“Setiap bersekolah, saya menggunakan uang $2 dolar. Dimana, $1 dolar saya gunakan untuk biaya transportasi dan $1 dolar lagi saya membeli minum dan makanan. Uang itu hasil keringat suami yang mendukung saya untuk terus bersekolah,” jelasnya.

Meskipun hanya seorang sopir mikrolet berpenghasilan U$150 dolar per-bulan, suami Angelita tidak pernah mengeluh untuk membiayai pendidikan istrinya, dan juga anak-anaknya.

Angelita Soares bersama siswa lainnya sedang mengikuti proses belajar mengajar Sekolah Menengah Kesetaraan yang diadakan di ruang kelas Sekolah Menengah Kejuruan, Becora. Foto Tatoli/ Osória Marques

Angelita mengakui setelah melanjutkan sekolah, ia merasa perubahan yang terjadi padanya. “ Saya bisa lancar membaca, dan bagaimana cara belajar yang baik dan juga saya memiliki mental  yang baik untuk berdiskusi di dalam kelas,” ungkapnya.

Keinginan besar Angelita didukung oleh sang suami, Delfim Amaral. Delfim  selalu  memotivasi sang istri dengan memberikan kesempatan dan peluang kepada kepada sang istri Angelita melanjutkan sekolah.

“Keputusan bersekolah ada di tangannya (Angelita). Saya mendukung tanpa ragu. Sebagai suami istri, kita harus saling mendukung meskipun penghasilan rendah, tetapi demi masa depan anak dan keluarga, kita harus terus maju dan saling mendukung,” kata Delfim.

Perjalanan yang tidak mudah untuk bersekolah dan  membuahkan hasil, menjadi harapan besar Angelita. Keinginannya bersekolah tidak hanya di bangku sekolah menengah atas, namun berkomitmen untuk melanjutkan sekolah di jenjang Pendidikan yang lebih tinggi (Universitas).

“Saya akan melanjutkan sekolah ke Universitas. Itu mimpi terbesar saya. Saya tidak akan berhenti hanya di sekolah menengah atas. Karena,  melanjutkan studi ke universitas merupakan jalan terbaik untuk bisa mengubah hidup dengan mendapatkan pekerjaan di masa depan,” paparnya.

Pendidikan menjangkau mereka yang membutuhkan

Di Timor-Leste, anak-anak atau kaum muda  yang terpaksa berhenti sekolah karena kurang mampu, bekerja, pernikahan dini, maupun faktor sosial lainnya. Banyak dari mereka sebenarnya ingin kembali belajar, tetapi tidak mengetahui harus memulai dari mana.

Sekolah Pendidikan Kesetaraan dan  Ensino Recorrente  hadir untuk menjawab tantangan tersebut. Dengan menggabungkan teknologi, dan dibawa pemerintah melalui Kementerian Pendidikan, program ini berupaya memastikan bahwa setiap anak atau kaum muda memiliki kesempatan kedua untuk mendapatkan Pendidikan yang layak.

Sekolah ini tidak hanya berfokus pada penyelesaian pendidikan formal, tetapi juga membangun kembali rasa percaya diri, karakter, dan harapan peserta didik agar mampu menghadapi masa depan dengan lebih baik.

António Justino Guterres selaku guru di  Sekolah Menengah Kesetaraan, mengatakan  implementasi Pendidikan Menengah Kesetaraan berada dalam fase percontohan, di mana 50 kaum muda dan orang dewasa terdaftar dan berpartisipasi dalam Program Nasional Kesetaraan Pendidikan Menengah di  Sekolah Menengah Kejuruan, Becora.

António Justino Guterres selaku guru di Sekolah Menengah Kesetaraan. Foto Tatoli/ Osória Marques

Di sekolah, katanya, siswa menghadapi banyak tantangan seperti tantangan ekonomi, waktu, pembelajaran, teknologi dan akses, serta tantangan psikologis dan sosial.

Ia menjelaskan, pelajar  di sekolah ini banyak yang memiliki tantangan antara sekolah, kerja dan keluarga.  “Siswa di sekolah memiliki tugas ganda, yaitu sebagai siswa, namun harus bekerja dan bertanggungjawab pada keluarga. Jadi, bagi siswa yang sudah berkeluarga, memiliki kesulitan dalam membagi waktu antara belajar dan pekerjaan,” katanya.

Selain tantangan itu, siswa juga menghadapi masalah dalam proses pembelajaran, khususnya dalam mempelajari materi Bahasa Inggris dan Portugis.  “Para siswa yang bersekolah ini, rata-rata dari siswa dari zaman Indonesia,” katanya.

Akan tetapi, katanya  Direktorat Nasional Pendidikan Lanjutan melalui struktur Pusat Pembelajaran Masyarakat (SKA) bersama dengan para guru selalu berupaya membantu para siswa untuk menyelesaikan pendidikan mereka.

Menanggapi hal itu,  Direktur Nasional Pendidikan Berkelanjutan di Kementerian Pendidikan, Alfredo de Araújo, mengatakan implementasi proyek percontohan ini menyoroti tiga kelas.

“Sekolah ini menggunakan kelas tatap muka, kelas semi-tatap muka, dan kelas jarak jauh. Kelas tatap muka yang wajib diikuti siswa sesuai jadwal. Kelas semi-tatap muka yang wajib diikuti siswa yang mengerjakan proyek dan hadir di kelas, sedangkan kelas jarak jauh wajib diikuti siswa yang tidak datang ke kelas, dan akan difasilitasi melalui daring,” jelasnya.

Direktur itu mengatakan proses pembelajaran harus berjalan dengan mata pelajaran umum fase satu karena kesetaraan sekolah menengah yang dilakukan adalah dua tahun dalam fase satu dan dua. Fase satu digelar dengan mata pelajaran umum seperti Bahasa Portugis, Bahasa Tetun, Bahasa Melayu, kewarganegaraan dan Teknologi Informasi Komputer (TIK). Enam (6) mata pelajaran akan dimulai terlebih dahulu pada fase pertama tahun ini.

Direktur Nasional Pendidikan Berkelanjutan di Kementerian Pendidikan, Alfredo de Araújo. Foto Tatoli/ Osória Marques

Ia  menjelaskan bahwa implementasi Pendidikan Kesetaraan Menengah merupakan proyek percontohan yang dimulai pertama kali di Dili, dan  menggunakan Sekolah Menengah Kejuruan di Becora.

Menurut Alfredo, tahun ini Kementerian Pendidikan telah menyiapkan dua ruang kelas yang dapat menampung 50 siswa, termasuk siswa berkebutuhan khusus. Ini merupakan proyek percontohan untuk fase pertama, dan fase kedua akan dilaksanakan pada Januari 2027 dengan mata pelajaran khusus seperti matematika, ilmu sosial, dan ilmu alam.

Program Kesetaraan Nasional untuk Pendidikan Menengah disetujui oleh Dewan Menteri pada tanggal 1 April 2026 dan diluncurkan pada tanggal 29 Mei 2026.

Keinginan besar Angelita yang kembali bersekolah  merupakan  sebuah pesan bagi kita semua bahwa tidak ada mimpi yang benar-benar hilang selama masih ada kesempatan untuk belajar.

Dari satu anak bangsa yang kembali bersekolah, lahir satu harapan baru. Dari satu harapan baru, perlahan kita sedang membangun masa depan Timor-Leste yang lebih baik.

Reporter : Osória Marques

Editor     :  Armandina Moniz

 

iklan
iklan

Leave a Reply

iklan
error: Content is protected !!