DILI, 11 Mei 2026 (TATOLI)— Setiap pagi, Maria de Jesus memulai harinya dengan membersihkan sebuah rumah aman di Dili. Tidak banyak orang mengetahui bahwa perempuan muda yang terlihat tenang itu sebenarnya memikul luka yang telah ia bawa selama tujuh tahun terakhir. Luka yang bukan hanya berasal dari trauma, tetapi juga merenggut masa mudanya, pendidikan, rasa aman, dan sebagian besar impiannya.
Di salah satu sudut rumah aman itu, Maria (bukan nama sebenarnya) masih menyimpan buku-buku sekolah lamanya. Buku-buku yang ia tinggalkan ketika hidupnya berubah drastis pada tahun 2018.
Saat itu Maria baru berusia 16 tahun dan masih duduk di bangku Sekolah Dasar Siklus Ketiga. Ia tinggal di salah satu wilayah bagian barat Timor-Leste bersama keluarganya. Seperti banyak remaja perempuan lain seusianya, Maria hanya ingin bersekolah, bermain bersama teman-temannya, dan memikirkan masa depan sederhana.
Namun semuanya berubah ketika ia menjadi korban kekerasan seksual yang dilakukan oleh anggota keluarga dekatnya sendiri. Beberapa bulan kemudian, Maria hamil. Ia mengatakan sejak saat itu hidupnya dipenuhi ketakutan dan tekanan.
“Ketika menghadapi masalah ini saya merasa sangat sedih karena masalah ini terlalu besar untuk dijelaskan,” kata Maria kepada TATOLI.

Hal yang paling menyakitkan bagi Maria bukan hanya kekerasan yang ia alami, tetapi juga bagaimana sebagian orang mulai memandang dirinya.
“Saat masalah itu terjadi mereka memerahi saya. Mereka (Keluarga) memberi tekanan agar membawa saya dan anak itu dan hilang bersama-sama,” katanya.
Maria masih mengingat bagaimana ia mulai merasa malu untuk keluar rumah. Ia merasa semua mata memandangnya dengan hina. Ketika teman-temannya tetap bersekolah dan menikmati masa muda, Maria berhenti sekolah dan hidup dalam ketakutan.
“Kembali ke rumah rasanya tidak nyaman karena ada masalah, jadi saya tidak bisa bebas keluar. Sedih karena dulu pergi sekolah bersama teman-teman, tapi akhirnya harus berhenti di tengah jalan,” katanya lagi.
Akhirnya Maria meninggalkan rumah dan tinggal di sebuah rumah aman di Dili. Di tempat itulah ia mencoba membangun kembali hidupnya sedikit demi sedikit.
Namun membangun kembali kehidupan bukanlah hal mudah.
Ketika trauma membuat sekolah terasa sangat jauh
Di Timor-Leste, pendidikan sering dianggap sebagai jalan keluar dari kemiskinan dan cara untuk mendapatkan masa depan yang lebih baik, terutama bagi anak perempuan. Namun bagi para korban kekerasan seksual, kembali ke sekolah bukan sekadar masuk kelas atau mengenakan seragam lagi. Itu berarti harus menghadapi trauma, rasa malu, tatapan orang lain, dan ketakutan akan penilaian sosial.
Maria mengatakan selama tinggal di rumah aman, ia sering merasa sedih ketika melihat anak-anak lain pergi ke sekolah sementara dirinya hanya tinggal di dalam rumah aman.
“Banyak berpikir karena orang lain pergi sekolah, sementara kita karena masalah jadi tidak sekolah,” katanya.
Bagi banyak korban, rasa malu menjadi tembok besar yang menghalangi jalan mereka untuk kembali belajar.
Pemimpin Tim Program Nabilan The Asia Foundation, Xylia Ingham, mengatakan kekerasan berbasis gender dan kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak perempuan masih sering terjadi di Timor-Leste.
Menurutnya, sebagian besar kasus melibatkan pelaku yang dikenal korban sendiri, termasuk anggota keluarga dekat. Namun banyak korban memilih diam karena takut membawa malu bagi keluarga.
“Banyak korban mengalami trauma berkepanjangan, ketakutan, rasa malu, kehilangan kepercayaan diri, putus sekolah, dan isolasi sosial akibat stigma dari masyarakat,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa para korban yang tinggal di rumah aman memang merasa lebih aman secara fisik, tetapi tetap menghadapi tekanan mental karena harus terpisah dari keluarga, menghadapi proses hukum yang panjang, dan terus mengingat kembali pengalaman traumatis mereka.
Rumah aman menjadi tempat memulai hidup baru
Bagi Maria, rumah aman menjadi tempat pertama yang memberinya kesempatan untuk kembali percaya pada dirinya sendiri. Rumah aman itu membantu Maria kembali bersekolah setelah dua tahun putus sekolah dari kelas sembilan hingga akhirnya menyelesaikan pendidikan menengah atas.
“Saya berterima kasih kepada rumah aman karena bisa membantu saya melanjutkan sekolah kembali mulai dari SMP (Sekolah Menengah Pertama) sampai tamat SMA (Sekolah Menengah Atas),” katanya.
Kini Maria bekerja dan berusaha menabung sedikit demi sedikit agar suatu hari dapat melanjutkan pendidikan ke universitas.
“Saya ingin melanjutkan sekolah supaya bisa membantu keluarga dan membiayai sekolah anak saya,” katanya. Anaknya kini berusia tujuh tahun dan duduk di kelas satu sekolah dasar.
Meski hidupnya belum stabil, Maria memiliki mimpi sederhana, menjadi seorang bidan. “Saya ingin membantu para ibu saat melahirkan”.
Direktur Eksekutif Fundação Forum Comunicação Juventude (F-FCJ), Domingas Perreira, mengatakan banyak korban yang datang ke rumah aman memiliki keinginan besar untuk belajar, bahkan ada yang seumur hidup belum pernah duduk di bangku sekolah.

“Sering kali melalui konseling dan pendekatan kami, ketika mereka tiba di sini kami mendengar mereka ingin sekolah, bahkan ada yang mengatakan belum pernah sekolah. Karena itu tim berusaha membawa mereka ke sekolah,” katanya.
Sejak 2021, rumah aman F-FCJ menjalankan program paket sekolah bagi korban kekerasan seksual dengan dukungan dari Istri mantan Presiden Republik, Cidália Lopes Mouzinho Guterres, The Asia Foundation, dan organisasi internasional seperti Plan International.
Hingga 2026, sebanyak 75 korban telah menerima bantuan untuk kembali mengakses pendidikan formal. Beberapa di antaranya berhasil melanjutkan hingga universitas.
Namun perjuangan itu tidak mudah. Domingas mengakui dukungan finansial pemerintah untuk pendidikan para korban masih sangat terbatas.
“Karena suatu hari dukungan NGO internasional bisa saja berakhir. Kami terus mengajukan proposal ke MSSI (Kementerian Solidaritas Sosial dan Inklusif) agar ada beasiswa atau paket sekolah, tetapi mereka mengatakan belum bisa menyediakan anggaran untuk itu. Anggaran yang ada lebih banyak untuk kebutuhan makan dan minum,” katanya.
Proses hukum yang lambat membuat korban kehilangan masa depan
Selama tujuh tahun terakhir, Maria masih menunggu keadilan yang hingga kini belum datang. Sementara itu, pelaku masih bebas berkeliaran di luar.
“Selama ini saya baru dua kali pergi ke pengadilan. Setelah itu mereka bilang tunggu hasilnya sampai sekarang belum selesai. Keluarga juga tidak bisa menyelesaikan karena kasus ini harus dibawa ke pengadilan, tetapi sampai sekarang pelaku masih bebas,” katanya.
Direktur Eksekutif Judicial System Monitoring Programme (JSMP), Ana Paula Marçal, mengatakan kasus kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak perempuan di Timor-Leste masih sangat tinggi.

Dalam pemantauan JSMP selama 2025 terhadap empat pengadilan di Timor-Leste, mencatat 747 kasus yang dipantau, termasuk 58 kasus kekerasan seksual. Sebagian besar korban adalah anak perempuan.
Ana Paula mengatakan salah satu masalah besar adalah proses hukum yang terlalu lama.
“Kami melihat kasus yang terjadi dalam satu tahun, tetapi baru disidangkan tiga atau empat tahun kemudian. Bayangkan untuk kasus kekerasan seksual terhadap anak, jika baru disidangkan setelah tiga atau empat tahun, bagaimana kualitas penanganannya?” katanya.
Menurutnya, proses yang panjang membuat para korban kembali membuka luka lama yang sebenarnya sedang mereka coba sembuhkan.
JSMP juga melihat banyak korban kehilangan kepercayaan terhadap sistem peradilan karena kurangnya sensitivitas terhadap kondisi psikologis korban.
“Kadang korban sudah berusaha menutup luka itu, tetapi setelah bertahun-tahun dibuka lagi. Proses yang terlalu lama juga membuat masyarakat kehilangan kepercayaan terhadap sektor keadilan,” katanya.
Ia juga menyoroti bahwa sebagian korban akhirnya berhenti sekolah karena trauma, harus pindah tempat tinggal, dan tidak memiliki biaya untuk mendaftar ke sekolah baru.
Banyak kasus dilaporkan, namun lebih banyak lagi yang memilih diam
Data Direktorat Nasional Kebijakan Kesetaraan Gender di Sekretariat Negara untuk Kesetaraan (SEI) menunjukkan bahwa sejak 2023 hingga Maret 2026, Vulnerable Person Unit (VPU) dari Kepolisian Nasional Timor-Leste (PNTL) telah mencatat 770 kasus kekerasan seksual, termasuk 24 kasus pada triwulan pertama 2026.
Namun organisasi masyarakat sipil percaya jumlah sebenarnya bisa jauh lebih besar. Banyak korban tidak melapor karena takut, malu, atau tidak mendapat dukungan keluarga.
“Sebagian korban mengalami kekerasan seksual sejak kecil hingga dewasa. Tidak mudah bagi mereka untuk tiba-tiba melaporkan pelaku setelah bertahun-tahun memendam semuanya,” kata Ana Paula.
Sementara itu, anggota Komisi F Parlemen Nasional, Nurima Alkatiri, mengatakan negara harus memastikan para korban tetap bisa melanjutkan pendidikan meski masih berada dalam proses hukum.

Ia juga mendorong sekolah-sekolah agar lebih sensitif terhadap korban dan menciptakan lingkungan aman tanpa stigma maupun perundungan.
“Meski anak perempuan berada di rumah aman, bukan berarti mereka tidak bisa sekolah sambil menunggu proses hukum berjalan. Negara harus memastikan mereka tetap bisa melanjutkan pendidikan,” katanya.
Sementara itu, Wakil Menteri Solidaritas Sosial dan Inklusi, Céu Brites, mengatakan pemerintah terus bekerja sama dengan rumah aman, sekolah, dan organisasi masyarakat sipil untuk membantu reintegrasi para korban ke masyarakat.
“Ini masalah koordinasi, seringkali hal ini tidak dibicarakan, para korban juga datang, beberapa tidak memiliki informasi, kita harus membantu, dalam hal dukungan untuk mendapatkan dokumen, MSSI bekerja sama dengan Kementerian Kehakiman dan Pemerintah Daerah karena mereka lebih mengenal masyarakat,” katanya.

Pemerintah Timor-Leste sendiri setiap tahun mengalokasikan anggaran kepada Lembaga Solidaritas Sosial (ISS) di seluruh daerah termasuk tempat rumah aman untuk mendukung kegiatan mereka.
Presiden Timor-Leste, José Ramos-Horta, juga menegaskan bahwa perlindungan terhadap perempuan dan anak harus menjadi sebuah prioritas nasional.
“Prioritas nomor satu adalah memberikan perlindungan kepada para korban, mencari semua cara agar mereka bisa pulih dan melanjutkan pendidikan. Timor-Leste harus memberikan perlindungan lebih kuat kepada anak-anak dan perempuan untuk menghentikan kekerasan domestik dan pelecehan,” katanya.
“Sekolah Adalah Harapan”
Meski hidupnya masih penuh ketidakpastian, Maria terus berusaha bangkit. Ia percaya pendidikan adalah satu-satunya jalan untuk mengubah hidupnya. Dan di tengah trauma yang belum sepenuhnya sembuh, Maria masih menyimpan keberanian untuk berharap.
“Kalau mereka menghadapi masalah seperti ini, mereka harus tetap bangkit supaya menjadi perempuan yang kuat. Harus mencari jalan untuk melapor ke polisi agar kasus bisa dibawa ke pengadilan dan diselesaikan sesuai hukum,” katanya.
Bagi Maria, sekolah bukan sekadar ruang kelas. Sekolah adalah kesempatan kedua. Kesempatan untuk kembali percaya bahwa hidupnya belum berakhir.
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz




