DILI, 05 Mei 2026 (TATOLI) — Pemerintah Timor-Leste melalui Kementerian Pertanian, Peternakan, Perikanan dan Kehutanan (MAPPF) bersama Conservation International Timor-Leste (CI-TL) dan Kementerian Pariwisata dan Lingkungan (MTA) meluncurkan proyek pengelolaan danau (zona basah) guna mendukung konservasi biodiversitas dan pengembangan pariwisata berkelanjutan di empat kotamadya.
Peluncuran tersebut ditandai dengan workshop nasional yang memperkenalkan proyek bertajuk “Promosi Pengelolaan Danau untuk Biodiversitas dan Koeksistensi antara Manusia dan Satwa Liar (Buaya)”. Proyek ini didanai oleh Global Environment Facility (GEF) dengan durasi pelaksanaan selama empat tahun, dari 2026 hingga 2030, dengan total anggaran sekitar US$2,6 juta.
Menteri Pertanian, Peternakan, Perikanan dan Kehutanan, Marcos da Cruz, mengatakan bahwa workshop ini bertujuan untuk menyosialisasikan proyek kepada para pemangku kepentingan sekaligus mendorong diskusi terkait pentingnya perlindungan danau sebagai habitat biodiversitas.
“Danau memiliki peran penting karena menjadi habitat berbagai satwa liar. Oleh karena itu, kita perlu melindunginya dan mencari cara agar manusia dapat hidup berdampingan dengan satwa, khususnya buaya,” ujar Marcos da Cruz di Suai Room, Timor Plaza, Dili.
Ia menambahkan bahwa buaya (lafaek) merupakan simbol budaya penting di Timor-Leste yang sering dianggap sebagai “avó” atau leluhur, sehingga pendekatan konservasi perlu mempertimbangkan nilai budaya tersebut.
Menurutnya, proyek ini juga bertujuan memastikan pengelolaan danau dilakukan secara berkelanjutan, termasuk menjaga kualitas air agar tidak berdampak negatif terhadap ekosistem di dalamnya.
“Selama ini terjadi konflik antara manusia dan buaya. Di satu sisi dianggap leluhur, namun di sisi lain juga berisiko bagi keselamatan. Karena itu, proyek ini penting untuk menemukan solusi yang dapat melindungi keduanya sekaligus memberikan manfaat tambahan,” jelasnya.
Sebagai bagian dari implementasi, proyek ini akan menetapkan zona perlindungan dengan sistem pembatas untuk meminimalkan interaksi langsung antara manusia dan buaya. Kawasan habitat buaya juga akan dikembangkan sebagai potensi objek wisata.
Direktur CI-TL, Manuel Mendes, menjelaskan bahwa proyek ini akan dilaksanakan di tujuh danau yang tersebar di empat kotamadya, yakni Manatuto, Manufahi, Covalima, dan Ainaro. Danau-danau tersebut meliputi Unu-Boot, Hasan Foun, Raimea, Bikan Tidi, Welenas, Modo-Mahut, dan Nankuru.
Ia menambahkan bahwa sejumlah kegiatan akan dilakukan dalam proyek ini, termasuk perekrutan 12 tenaga kontrak, pembentukan kelompok konservasi di setiap danau, serta penyusunan dan implementasi rencana pengelolaan bersama masyarakat dan petugas kehutanan.
“Kami juga akan memasang tanda larangan di area berisiko tinggi terhadap buaya serta memberikan dukungan dana kecil bagi kelompok masyarakat untuk mengembangkan kegiatan seperti pariwisata, hortikultura, dan perikanan di sekitar danau,” jelas Manuel Mendes.
Menurutnya, proyek ini juga sejalan dengan prioritas pemerintah dalam pengembangan ekonomi biru, dengan memanfaatkan potensi kawasan danau sebagai sumber ekonomi yang berkelanjutan, khususnya di wilayah selatan Timor-Leste yang dikenal memiliki banyak buaya.
Sementara itu, Ketua Otoritas Kotamadya Manatuto, Luís Inácio Fernandes, menyampaikan apresiasi atas pemilihan wilayahnya sebagai salah satu lokasi implementasi proyek.
Ia menekankan pentingnya edukasi kepada masyarakat dalam menjaga kawasan lindung dan habitat biodiversitas.
“Kami berterima kasih dan bersama masyarakat akan terus berupaya melindungi habitat, biodiversitas, dan lingkungan,” ujarnya.
Workshop tersebut dihadiri oleh para Ketua Otoritas Kotamadya dari empat wilayah, para kepala suku, serta mahasiswa dari Universitas Nasional Timor Lorosa’e (UNTL) dan peserta lainnya.
Reporter: Cidalia Fátima
Editor: Armandina Moniz




