DILI, 14 Februari 2026 (TATOLI) – Pemerintah Australia mendorong media di Timor-Leste untuk beradaptasi dengan perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan transformasi digital global tanpa mengorbankan integritas dan nilai-nilai dasar jurnalisme.
Pesan tersebut disampaikan Wakil Duta Besar Australia untuk Timor-Leste, Edward Wilkinson, dalam sambutan penutupan lokakarya Diálogu Dijitál yang diselenggarakan ABC International Development di Maubara Room, Timor Plaza, Dili.
“Sangat penting menciptakan ruang seperti lokakarya ini, ruang di mana para profesional media dapat berkumpul, mengajukan pertanyaan, dan bertukar perspektif,” ujar Wilkinson.
Ia mengatakan selama dua hari terakhir para peserta telah membahas transformasi digital secara mendalam, mengikuti pelatihan praktis, serta merefleksikan praktik profesional masing-masing.
Menurutnya, terdapat sejumlah pertanyaan kunci yang harus dijawab media di era digital, antara lain bagaimana mengadopsi teknologi baru tanpa mengorbankan nilai jurnalistik, menjaga kepercayaan audiens di tengah misinformasi dan disinformasi, serta membangun organisasi media yang kuat secara editorial dan berkelanjutan secara finansial.
“Teknologi adalah alat, bukan pengganti pertimbangan. AI dapat mendukung jurnalisme, tetapi tidak dapat menggantikan etika, konteks, atau tanggung jawab manusia,” tegasnya.
Ia juga menekankan bahwa keamanan digital kini bukan lagi pilihan, melainkan fondasi jurnalisme profesional, termasuk perlindungan sumber, keamanan komunikasi, dan kesehatan mental jurnalis.
“Kepercayaan publik adalah mata uang media modern. Kepercayaan dibangun perlahan, tetapi bisa hilang dengan cepat. Dengan komitmen pada akurasi, verifikasi, dan transparansi, jurnalisme melindungi kredibilitasnya sebagai sumber kebenaran bagi publik,” tambahnya.
Wilkinson turut menyampaikan apresiasi kepada para fasiltator, yakni Craig McCosker (Australia), Andre Yuris (Indonesia), Kathryn Raymundo (Filipina), dan Mary-Louise Vince (Australia), atas kontribusi dan berbagi pengalaman selama kegiatan berlangsung.
SementaSementarPerwakilan ABC International Development, Fiona Churchman, dalam sambutan penutupnya menyampaikan apresiasi atas partisipasi aktif para jurnalis.
“Terima kasih karena telah begitu terlibat, mengajukan banyak pertanyaan, berbicara secara terbuka, dan saling menghormati dalam diskusi ini. Kami berharap jurnalisme di Timor-Leste mampu menghadapi tantangan ke depan dan menjadi lebih kuat,” katanya.
Ia menambahkan bahwa dedikasi, kerja keras, dan komitmen para jurnalis merupakan kekuatan utama yang tidak dapat digantikan oleh teknologi apa pun.
Salah satu peserta, Iria da Cunha dari Media One Timor, mengaku memperoleh banyak pembelajaran, terutama terkait perlindungan data dan pemanfaatan AI.
“Saya sangat senang mengikuti lokakarya ini karena saya belajar bagaimana melindungi data saya, dan yang paling penting adalah memahami bahwa AI dapat membantu jurnalis, tetapi tidak untuk mengendalikan kita sebagai media profesional,” ujarnya.
Sementara itu, Manajer Radio Komunitas Tokodede Liquiça, Eduardo Exposto, juga menyampaikan rasa syukur atas kesempatan mengikuti pelatihan tersebut.
“AI sekarang menjadi tren di kalangan anak-anak, orang tua, dan terutama kaum muda. Banyak yang belum benar-benar memahami apa itu AI, termasuk video atau gambar yang dibuat oleh AI. Lokakarya ini sangat bermanfaat bagi kami, dan kami akan menerapkan pengetahuan ini di komunitas kami,” katanya.
Ia berharap kegiatan serupa tidak berhenti sampai di sini, tetapi terus dilanjutkan agar semakin banyak masyarakat memahami perkembangan teknologi digital.
Kegiatan yang dipimpin oleh ABC International Development dengan dukungan pendanaan dari Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Australia ini diikuti 30 jurnalis dari berbagai media di Timor-Leste pada 13–14 Februari 2026. Pada akhir lokakarya, seluruh peserta menerima sertifikat yang diserahkan langsung oleh Wakil Duta Besar Australia.
Reporter: Cidalia Fátima
Editor: Armandina Moniz




