BOBONARO, 12 Februari 2026 (TATOLI) – Pemerintah Timor-Leste dan Pemerintah Republik Indonesia (RI) sepakat melakukan revisi desain proyek Rehabilitasi Skema Irigasi Maliana II, kotamadya Bobonaro, guna memastikan pembagian air secara merata bagi masyarakat yang tinggal di dua wilayah perbatasan tersebut.
Kesepakatan tersebut dicapai dalam pertemuan antara delegasi Pemerintah Timor-Leste yang dipimpin Direktur Jenderal Tanaman dan Industri Kopi, Martinho Laurentino Soares, bersama Direktur Irigasi Nasional, Jacinto Filipe Vicente Gama, dan Komandan Unit Patroli Perbatasan, Superintenden Polisi Euclides Bello, dengan Bupati Kabupaten Belu-Indonesia, Willybrodus Lay bersama delegasi Pemerintah Pusat Indonesia.
Pertemuan berlangsung di lokasi proyek yang terletak di Sungai Malibaka, Desa Tapo-Memo, Pos Administratif Maliana, Kotamadya Bobonaro.
Kunjungan delegasi Indonesia dilakukan menyusul kekhawatiran masyarakat di wilayah perbatasan terkait pembagian air irigasi yang dinilai belum proporsional. Berdasarkan data konsultan, proyek tersebut dirancang untuk mengairi sekitar 1.100 hektare lahan di wilayah Timor-Leste dan 300 hektare di wilayah Indonesia.
Dalam diskusi tersebut, Pemerintah Timor-Leste menjelaskan bahwa sebelum pembangunan dimulai, koordinasi telah dilakukan dengan Pemerintah Indonesia berdasarkan data awal yang menyebutkan luas lahan di wilayah Delomil sekitarnya sekitar 300 hektar. Hingga saat ini, belum ada data terbaru yang disampaikan pihak Indonesia sehingga sebagian wilayah di sisi Indonesia belum dimasukkan dalam desain proyek.
Direktur Jenderal Martinho Laurentino Soares mengatakan kedua pihak sepakat untuk saling melengkapi data guna menyempurnakan desain teknis proyek.
“Kita menerima satu sama lain dan meminta agar data terbaru segera dikirim, khususnya dari pihak Indonesia. Dengan demikian, kita bisa merevisi desain agar sesuai dengan kebutuhan kedua belah pihak. Pada prinsipnya, air harus dibagi secara merata, misalnya jika debit 100 liter per detik, maka 50 liter untuk Indonesia dan 50 liter untuk Timor-Leste,” ujarnya.
Martinho menegaskan Pemerintah Timor-Leste siap mengarahkan konsultan untuk meninjau kembali desain intake irigasi. Ia juga mengingatkan bahwa dalam peluncuran proyek tersebut, Perdana Menteri Kay Rala Xanana Gusmão telah menekankan pentingnya agar proyek irigasi memberikan manfaat bagi masyarakat di kedua negara, khususnya yang tinggal di kawasan perbatasan.

“Masyarakat di perbatasan adalah satu keluarga, memiliki budaya dan bahasa yang sama serta hubungan yang baik. Itulah yang ingin kita jaga. Setelah data diterima, desain akan disesuaikan dan konstruksi tetap berjalan tanpa masalah. Ke depan, air akan dibagi secara merata,” katanya.
Sementara itu, Bupati Belu, Willybrodus Lay menegaskan kunjungan tersebut bukan untuk menghambat proyek, melainkan untuk mencari solusi guna mencegah potensi konflik di masa depan.
“Kami tidak mempertanyakan mengapa proyek ini dibangun, tetapi menyampaikan aspirasi masyarakat. Jika pembagian air tidak seimbang, bisa timbul persoalan baru. Kita ingin penggunaan air dilakukan secara adil karena kita ini bersaudara,” katanya.
Ia menambahkan, pertemuan tersebut juga bertujuan menjaga hubungan baik antara dua negara khususnya Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dan Perdana Menteri Timor-Leste, Kay Rala Xanana Gusmão.
“Tolong sampaikan salam kami kepada bapak Perdana Mentri dan bapak Presiden,” kata Bupati Belu, Willybrodus Lay.
Kedua pihak sepakat untuk kembali bertemu dalam waktu dekat setelah pertukaran data teknis dilakukan, guna memastikan proyek tersebut memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat di kedua sisi perbatasan.
Saat ini, progres fisik proyek Irigasi Maliana II telah mencapai 40,6 persen. Proyek tersebut dilaksanakan oleh perusahaan internasional PT Minarta dengan nilai kontrak lebih dari US$9 juta dolar AS dan masa pelaksanaan selama 30 bulan.
Reporter : Sergio da Cruz
Editor : Armandina Moniz




