BOBONARO, 08 September 2025 (TATOLI) – Pemerintah Timor-Leste bersama Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), KOICA, dan DFAT telah meluncurkan kampanye percontohan Komunikasi Risiko dan Keterlibatan Masyarakat (RCCE) untuk melindungi anak-anak sekaligus memutus rantai penularan wabah rabies di Kotamadya Bobonaro.
Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan, Kementerian Pertanian, Peternakan, Perikanan dan Kehutanan (MAPPF), Kementerian Pendidikan (ME), Kementerian Administrasi Negara (MAE), bersama mitra meluncurkan kampanye darurat tersebut pada Senin, 08 september 2025. Kampanye itu diluncurkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat serta mengurangi kasus gigitan anjing dan kematian akibat rabies.
Kampanye tersebut diresmikan di Sekolah Dasar bernama EBC Victor Santa Maliana Sentral, menandai dimulainya inisiatif empat hari yang berfokus pada 15 wilayah berisiko tinggi di Maliana dan Atabae, dua wilayah dengan kasus gigitan anjing terbanyak.
Kegiatan ini akan melibatkan 18 sekolah di enam desa, dimulai dengan sesi sekolah pagi dan dilanjutkan ke masyarakat sekitar sekolah pada sore hari.
Wakil Menteri Kesehatan untuk Urusan Penguatan dan Kelembagaan, José dos Reis Magno, menegaskan bahwa peluncuran ini bertujuan mempromosikan perilaku aman, memberikan informasi pencegahan, serta mendorong partisipasi aktif keluarga.
“Hari ini, Kotamadya Bobonaro meluncurkan ini sebagai tahap penguatan nasional untuk memberikan respons nasional terhadap wabah rabies di Timor-Leste. Kampanye ini akan mencakup desa-desa dan sekolah-sekolah yang teridentifikasi berisiko tinggi, dengan melibatkan anak-anak, guru, dan teknisi dari berbagai sektor masyarakat. Ini langkah mendasar untuk melindungi masyarakat dan memutus rantai penularan rabies,” ujar Wakil Menteri Kesehatan dalam acara peluncuran yang dilakukan pada Senin (08/09).
Wakil Menteri José dos Reis Magno menambahkan, rabies 100% dapat dicegah melalui vaksinasi hewan seperti anjing, kucing, dan monyet. Bagi orang yang digigit anjing, pertama-tama harus segera mencuci luka dengan air dan sabun selama 15 menit, kemudian segera ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan lima dosis vaksin. Hal ini penting demi kehidupan yang aman di masa depan.
Ia menekankan, tidak ada nyawa yang perlu hilang jika langkah yang tepat diambil dengan cepat. Karena itu, kampanye penyadaran tentang rabies merupakan tanda harapan dan memerlukan komitmen semua pihak.
“Bersama kita bisa memberantas rabies di Timor-Leste. Saya berharap kampanye di Kotamadya Bobonaro menjadi contoh persatuan dan tekad kita untuk melindungi kesehatan rakyat. Kita harus membela diri, anak-anak, dan tetangga kita. Saya mengimbau semua pihak untuk berpartisipasi aktif dalam kampanye ini agar kita bisa menang,” kata Wakil Menteri itu.
Dilain pihak, Perwakilan WHO di Timor-Leste, Arvin Mathur, menegaskan bahwa pihaknya mendukung pemerintah melaksanakan kampanye percontohan ini karena Timor-Leste menghadapi ancaman serius wabah rabies, di mana 40% korban gigitan anjing adalah anak-anak di bawah usia 10 tahun.
“Anak-anak suka bermain dan ingin tahu, tetapi terkadang mereka tidak tahu cara melindungi diri. Kami akan mengajarkan mereka melalui penjelasan, buku, dan demonstrasi tentang cara mencuci luka dan apa yang harus mereka lakukan ketika digigit anjing. Dari sekolah, kampanye ini akan menjangkau masyarakat, melalui kunjungan rumah dengan langkah-langkah pengobatan dan pencegahan yang jelas,” jelas Arvin Mathur.
Arvin Mathur mengingatkan kesadaran masyarakat adalah bagian penting melawan rabies. Dimana, vaksinasi adalah senjata terkuat saat ini dan dengan vaksinasi lengkap dengan lima dosis dapat membebaskan semua dari penyakit dan kematian.
“Rabies itu seperti bom atau situasi yang memaksa dan bergerak cepat, jadi kita harus bertindak cepat. Kita semua tahu bahwa rabies itu 100% fatal, tetapi penyakit ini juga dapat dicegah 100% dengan vaksin, pengetahuan, dan kesadaran dari kita,” tegasnya.
Sementara itu, Perwakilan Kementerian Pendidikan, Fernando Soares, menyampaikan rasa bangga karena kampanye ini memilih sekolah sebagai titik awal.
Fernando menekankan perlunya tindakan ini ditanggapi dengan serius karena anak-anak lebih rentan terhadap masalah rabies.
“Mereka (anak-anak) sering penasaran, ada kemungkinan besar bermain dengan anjing, dan mungkin tidak memahami bahayanya serta cara melindungi diri mereka sendiri. Inilah mengapa kita harus bertindak cepat dan bertanggung jawab,” ujar Fernando.
Ia menegaskan, Kementerian Pendidikan bersama WHO telah menyiapkan poster, brosur, dan prosedur operasional standar rabies yang didistribusikan ke sekolah-sekolah di seluruh kotamadya, lengkap dengan formulir laporan kasus gigitan.
“Kami juga telah mendistribusikan prosedur operasional rabies ke semua sekolah beserta formulir laporan kejadian rabies agar sekolah dapat merespons ketika seorang anak digigit anjing, tetapi tidak melihat poster tersebut. Orang tua juga memiliki tanggung jawab besar untuk melindungi anak-anak,” pungkasnya.
Sementara, Direktur Layanan Kesehatan Kotamadya Bobonaro, Gil Bernado Vicente, berterima kasih karena Bobonaro yang dipilih sebagai daerah percontohan.
Ia menyebut rabies merupakan ancaman serius bagi kesehatan masyarakat di Kotamadya Bobonaro dengan 356 kasus gigitan anjing terhadap manusia yang tercatat, termasuk tiga kematian, dan 22 anjing dikonfirmasi positif rabies.
“Bagi mereka yang belum divaksinasi, dan anjing yang belum divaksinasi, kami bersama Departemen Peternakan sudah melakukan vaksinasi massal di Saburai, Holsa dan Aidabaleten. Sekarang kami lanjutkan, karena masih ada sekitar 100 orang yang belum divaksinasi,” jelas Gil.
Begitu juga, Sekretaris Badan Administrasi dan Keuangan Kotamadya Bobonaro, Domingos da Costa, meminta para otoritas daerah administratif dan tokoh masyarakat bekerja sama dengan tim kesehatan serta teknisi veteriner untuk menyampaikan informasi pencegahan rabies kepada warga.
“Kita berisiko karena tingal di perbatasan. Penyakit ini terkadang dibawa dari Indonesia, bisa juga dari Timor, karena terkadang kita memiliki beberapa kegiatan budaya, di Memo, Leohitu dan Batugade, teman-teman datang untuk menghadiri upacara adat membawa anjingnya, jika anjing saling menggigit penyakit menyebar,” jelasnya.
Kementerian Kesehatan melaporkan bahwa sejak 2024 hingga 25 Agustus 2025 tercatat sekitar 300 ribu kasus gigitan anjing terhadap manusia dengan 15 kematian, yang tersebar di 10 kotamadya kecuali Dili, Ainaro, Atauro, Baucau, dan Lautém.
Reporter : Sergio da Cruz
Editor : Armandina Moniz




