DILI, 14 Agustus 2025 (TATOLI) — Presiden Republik dan Peraih Nobel Perdamaian, José Ramos-Horta, menyerukan perlunya komitmen jangka panjang dalam penanganan perubahan iklim.
Seruan itu disampaikan Presiden Ramos-Horta dalam pidatonya pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Pengurangan Emisi Australasia (AER – Australasian Emissions Reduction Summit ) ke-12 yang berlangsung di Melbourne, Australia, Rabu (13/08).
Dalam pidatonya, Ramos-Horta menggambarkan betapa Timor-Leste menjadi salah satu negara yang paling terdampak oleh perubahan iklim, meskipun kontribusinya terhadap krisis iklim global hampir tidak ada.
“Timor-Leste merupakan salah satu negara paling rentan terhadap perubahan iklim di Bumi. Masyarakat kami hampir tidak berkontribusi apa pun terhadap masalah ini, namun kami termasuk yang pertama merasakan dampak terparahnya. Dimana, naiknya permukaan air laut, cuaca ekstrem, dan perubahan musim,” kata Presiden Ramos-Horta dalam siaran pers yang diakses Tatoli dari laman resmi Kepresidenan Republik, Kamis ini.
Presiden Ramos-Horta menolak narasi bahwa Timor-Leste hanyalah korban. Ia menekankan bahwa Timor-Leste berkomitmen untuk terlibat aktif dalam solusi perubahan iklim global.
“Namun, kami di sini bukan untuk berbicara sebagai korban. Kami di sini untuk berpartisipasi aktif dalam solusi, menunjukkan bahwa bahkan negara terkecil pun dapat memberikan kontribusi yang berarti bagi aksi iklim global,” ujarnya.
Berita terkait : Presiden Ramos-Horta bertolak ke Australia hadiri KTT AER ke-12
Ia juga memuji peran generasi muda dalam aksi iklim di Timor-Leste, khususnya mereka yang terlibat dalam program kehutanan komunitas WithOneSeed (Ho Musan Ida).
Program WithOneSeed, yang dimulai pada tahun 2010 di pegunungan Baguia, kotamadya Baucau, menjadi proyek reboisasi komunitas pertama di Timor-Leste yang mendapatkan sertifikasi karbon internasional.
Melalui kerja sama dengan petani kecil dan penggunaan platform digital TreeO2, proyek ini telah menanam lebih dari 800.000 pohon dan menyerap lebih dari 200.000 ton karbon dioksida ekuivalen (tCO2e).
“Ini bukan hutan tanaman. Ini adalah reboisasi mosaik—kantong-kantong kecil hutan asli di banyak lahan pertanian keluarga—yang memulihkan keanekaragaman hayati, melindungi sumber air, dan meningkatkan kesehatan tanah,” tegas Presiden Ramos-Horta.
Selain manfaat lingkungan, Ramos-Horta menyebut program ini telah berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat.
Menanggapi keberhasilan program tersebut, Timor-Leste kini membentuk Yayasan Rai Matak (Tanah Hijau) untuk mereplikasi model yang sama ke wilayah lain di negara itu, dengan target ambisius menanam 10 juta pohon dan melibatkan 20.000 keluarga petani.
Presiden Ramos-Horta juga menggarisbawahi pentingnya pendanaan jangka panjang dalam menghadapi tantangan iklim.
“Namun, kami telah mempelajari satu kebenaran penting bahwa perubahan iklim dan masyarakat adalah proses yang panjang, pohon membutuhkan waktu puluhan tahun untuk tumbuh dewasa. Pendanaan harus sesuai dengan jangka waktu tersebut, siklus pendanaan yang pendek saja tidak cukup. Kita harus memadukan pendanaan iklim dari pasar karbon dengan kemitraan pembangunan jangka panjang untuk mencapai perubahan yang berkelanjutan,” ucapnya.
Ramos-Horta mengajak para pemimpin dunia, komunitas internasional, dan pelaku sektor swasta untuk melihat pengalaman Timor-Leste sebagai model yang bisa diterapkan di negara-negara berkembang lainnya.
Mengakhiri pidatonya, Presiden Ramos-Horta menyampaikan pesan harapan dan undangan kepada seluruh pemangku kepentingan global.
“Setiap pohon yang ditanam di Timor-Leste membawa pesan kepada dunia bahwa negara-negara kecil, komunitas kecil, dan bahkan benih terkecil pun dapat menumbuhkan sesuatu yang dahsyat,” paparnya.
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz




