DILI, 01 Juni 2025 (TATOLI)— Presiden Republik, José Ramos Horta, kembali ke tanah air usai melakukan kunjungan kerja ke Singapura untuk menghadiri Dialog Shangri-La 2025, sebuah forum tingkat tinggi yang membahas isu keamanan di kawasan Asia-Pasifik.
Setibanya di Bandara Internasional Nicolau Lobato, Comoro, Dili, Presiden Horta menyampaikan sejumlah hal penting kepada media, termasuk gagasan strategis untuk menyiapkan generasi pemimpin masa depan Timor-Leste.
Presiden Horta menjelaskan bahwa ini merupakan ketiga kalinya dirinya diundang dalam forum tersebut. Dialog Shangri-La dikenal sebagai pertemuan bergengsi yang umumnya dihadiri oleh para Menteri Pertahanan dan Kepala Negara dari berbagai negara.
Dalam edisi tahun ini, Presiden Horta turut menjadi pembicara utama (keynote speaker) dalam panel yang juga diisi oleh Menteri Pertahanan Australia, serta memberikan kontribusi dalam sesi khusus untuk para pemimpin muda Asia-Pasifik.
“Pertemuan Shangri-La adalah konferensi keamanan paling penting di Asia-Pasifik. Ini kali ketiga saya diundang. Biasanya, yang menjadi pembicara utama adalah para menteri pertahanan dan kepala negara. Bahkan Presiden Prancis juga hadir, dan kami membahas pertemuan kami sebelumnya di Eropa,” ujarnya.
Berita terkait : Dialog Shangri-La, Horta : Pertahankan demokrasi negara anggota ASEAN
Selain menjadi pembicara, Presiden Horta juga melakukan serangkaian pertemuan bilateral dengan tokoh-tokoh penting dunia. Ia bertemu secara khusus dengan Sekretaris Pertahanan Amerika Serikat, pejabat tinggi Uni Eropa untuk urusan luar negeri, Presiden dan Perdana Menteri Singapura, Menteri Luar Negeri Singapura, serta otoritas lainnya seperti Menteri Pertahanan Thailand, Kuwait, dan Perdana Menteri Malaysia.
Salah satu inisiatif penting yang dibawa Presiden Horta dalam kunjungan tersebut adalah pengajuan program pelatihan kepemimpinan khusus bagi generasi muda Timor-Leste.
Program ini dirancang untuk menjaring warga Timor-Leste berusia 30 hingga 40 tahun, dengan latar belakang pendidikan Sarjana atau Master dan kemampuan berbahasa Inggris, yang akan mengikuti pelatihan singkat namun intensif di Singapura.
“Saya mengusulkan pada Perdana Menteri Singapura untuk membuat program spesial bagi Timor-Leste, berupa pelatihan intensif jangka pendek dalam bidang kepemimpinan, politik luar negeri, ekonomi, keuangan, dan administrasi publik. Semua kandidat harus dipersiapkan untuk masa depan pemerintahan,” jelasnya.
Menurut Presiden Horta, usulan tersebut disambut baik oleh pihak Singapura dan berpotensi direalisasikan dalam waktu dekat. Ia menjelaskan bahwa program ini dapat berlangsung selama lima hingga sepuluh hari per modul, dan memungkinkan setiap peserta mengikuti pelatihan sebanyak tiga hingga lima kali.
“Saya melihat antusiasme dari para pemimpin Singapura terhadap ide ini. Jika berjalan sesuai rencana, program ini bisa dimulai segera,” tambahnya.
Presiden Horta juga menyampaikan bahwa dirinya mempercepat kepulangan dari Singapura karena menerima undangan dari Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres untuk menghadiri konferensi internasional di New York. Pertemuan tersebut akan membahas solusi dua negara (two-state solution) untuk konflik berkepanjangan antara Palestina dan Israel. Konferensi ini akan dipimpin oleh Sekjen PBB bersama Arab Saudi.
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz




