DILI, 08 Juli 2026 (TATOLI) – Pemerintah Australia mengapresiasi reputasi positif yang dibangun para pekerja asal Timor-Leste melalui Pacific Australia Labour Mobility (PALM) Scheme, yang sejak diluncurkan pada 2012 telah memberangkatkan 25.366 pekerja ke berbagai sektor di Australia.
Apresiasi tersebut disampaikan Wakil Duta Besar Australia untuk Timor-Leste, Edward Wilkinson, dalam seremoni pelepasan 135 pekerja Timor-Leste yang akan diberangkatkan ke Australia di Palm Springs Hotel, Fatuhada, Dili, Rabu.
Edward mengatakan keberhasilan para peserta lolos dalam seleksi Program PALM merupakan sebuah pencapaian besar karena melalui proses yang kompetitif.
“Keberhasilan ini mencerminkan kerja keras, kemampuan, tekad, ketangguhan, dan kesiapan Anda untuk mewakili Timor-Leste di luar negeri. Kalian semua patut bangga atas pencapaian tersebut,” katanya.
Ia menegaskan Australia sangat menghargai kemitraan dengan Timor-Leste, dan program mobilitas tenaga kerja menjadi salah satu contoh paling nyata keberhasilan kerja sama kedua negara.
Menurutnya, sejak 2012 lebih dari 25 ribu warga Timor-Leste telah bekerja di Australia. Dedikasi, profesionalisme, dan etos kerja mereka telah membangun reputasi yang sangat baik di mata para pemberi kerja Australia, sehingga membuka lebih banyak peluang bagi ribuan pekerja Timor-Leste lainnya.
“Australia bangga bekerja sama dengan SEFOPE untuk terus memperluas peluang ini. Kami memiliki visi yang sama untuk meningkatkan partisipasi tenaga kerja, membuka kesempatan baru, serta memastikan para pekerja kembali ke Timor-Leste dengan keterampilan, pengalaman, dan peluang yang dapat memberikan manfaat bagi keluarga, masyarakat, dan pembangunan negara di masa depan,” ujarnya.
Edward menambahkan Australia dan Timor-Leste memiliki komitmen bersama untuk terus menciptakan lebih banyak kesempatan kerja, meningkatkan jenjang keterampilan tenaga kerja, serta membuka peluang ekonomi baru bagi para pekerja setelah mereka kembali ke tanah air.
Sementara itu, Sekretaris Negara untuk Pelatihan Profesional dan Ketenagakerjaan (SEFOPE), Rogério Araújo Mendonça, mengatakan hingga 07 Juli 2026, jumlah pekerja Timor-Leste yang telah diberangkatkan ke Australia melalui Program PALM mencapai 25.366 orang.
Menurut Rogério, seluruh pekerja tersebut direkrut melalui 150 agen perekrutan yang bekerja sama dengan 398 perusahaan dan pemilik pertanian di Australia.
Dari total tersebut, 9.932 orang merupakan pekerja baru, sedangkan 15.404 orang merupakan pekerja yang kembali mengikuti program (returning workers), berdasarkan pembaruan data per 7 Juli 2026.
Untuk tahun 2026 saja, kata Rogério, sebanyak 2.449 pekerja telah diberangkatkan ke Australia, terdiri atas 833 pekerja baru, yakni 680 laki-laki dan 153 perempuan, serta 1.616 returning workers, terdiri atas 1.187 laki-laki dan 429 perempuan.
Ia juga mengungkapkan bahwa Timor-Leste menjadi negara dengan capaian terbaik di kawasan Asia-Pasifik dalam penerapan kesetaraan gender pada Program PALM.
“Timor-Leste berada di peringkat pertama di kawasan Asia-Pasifik dalam aspek kesetaraan gender pada Program PALM. Hal ini menunjukkan bahwa partisipasi perempuan dalam program ini telah mampu memenuhi kebutuhan pasar tenaga kerja di Australia,” jelasnya.
Meski demikian, Rogério mengakui masih terdapat tantangan berupa kasus absconding, yaitu pekerja yang meninggalkan sistem atau kontrak kerja resmi.
Menurutnya, sebagian besar kasus tersebut terjadi pada masa pandemi COVID-19, ketika lebih dari 800 pekerja keluar dari sistem. Sementara dalam kondisi normal, beberapa pekerja memilih meninggalkan kontrak karena masa kerja yang dijanjikan selama sembilan bulan hanya berlangsung sekitar tujuh hingga delapan bulan akibat berakhirnya musim panen.
“Namun, dibandingkan negara-negara lain di kawasan Asia-Pasifik, jumlah pekerja Timor-Leste yang keluar dari sistem masih sangat kecil,” katanya.
Rogério juga menyampaikan data mengenai pekerja yang meninggal dunia selama mengikuti Program PALM sejak 2012. Dari total 25.366 pekerja, tercatat 36 orang meninggal dunia, terdiri atas 21 laki-laki dan 15 perempuan.
Dari jumlah tersebut, sebagian pekerja meninggal dunia setelah kembali ke Timor-Leste, sedangkan 10 pekerja meninggal dunia di Australia, termasuk dua orang akibat kecelakaan.
Ia menegaskan seluruh jenazah pekerja yang meninggal di Australia telah dipulangkan ke Timor-Leste dan diserahkan kepada keluarga masing-masing.
“Jika dibandingkan dengan total lebih dari 25 ribu pekerja yang telah mengikuti program ini, angka tersebut relatif kecil. Namun pemerintah tetap berkomitmen meningkatkan perlindungan dan keselamatan seluruh pekerja migran Timor-Leste di Australia,” tutup Rogério.
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz




