iklan

HEADLINE, SOSIAL INKLUSIF

Taur Matan Ruak untuk Mendiang Lú Olo : Keluargamu tidak sendiri

Taur Matan Ruak untuk Mendiang Lú Olo : Keluargamu tidak sendiri

Mantan Perdana Menteri, Taur Matan Ruak dan Mantan Presiden Republik, Francisco Guterres Lú Olo. Foto TATOLI/António Goncalves

DILI, 23 Juni 2026 (TATOLI) – Tangis keluarga, doa masyarakat, dan penghormatan dari para pemimpin bangsa mengiringi kepulangan jenazah mantan Presiden Republik Timor-Leste, Francisco Guterres “Lú Olo”, ke kediamannya di Farol, Dili, Selasa pagi. Di tengah suasana duka yang menyelimuti ribuan warga, mantan Presiden Republik dan mantan Perdana Menteri, Taur Matan Ruak, menyampaikan pesan penuh haru kepada mendiang dan keluarganya.

“Terima kasih Maun Lú. Kami semua yang datang dari hati yang tulus menyampaikan belasungkawa kepada keluarga dan anak-anak beliau. Mereka tidak sendirian, kami semua berada di sisi mereka,” kata Taur Matan Ruak kepada wartawan setelah menyampaikan penghormatan dan belasungkawa kepada keluarga mendiang.

Jenazah Lú Olo tiba di kediaman keluarga di Farol sekitar pukul 08.18 WTL setelah menempuh perjalanan dari Bandara Internasional Presiden Nicolau Lobato yang dipenuhi ribuan warga. Sejak dini hari, masyarakat dari berbagai kalangan telah berkumpul untuk menunggu kedatangan jenazah pemimpin yang mereka cintai.

Suasana haru pecah ketika peti jenazah tiba di rumah duka. Istri mendiang, Cidália Lopes Nobre Mouzinho Guterres, bersama anak-anak dan keluarga besar tampak tidak mampu menahan kesedihan. Tangis keluarga menggema saat prosesi adat dilakukan sebelum jenazah dibawa masuk ke dalam rumah.

Menurut pantauan TATOLI, sepanjang jalan dari Comoro hingga Farol, masyarakat berdiri membentuk dua barisan di sisi kiri dan kanan jalan. Mereka terdiri dari pelajar, guru, pedagang pasar, pekerja toko, anggota pasukan keamanan, biarawati, tokoh agama, hingga warga biasa yang datang membawa bunga dan doa sebagai penghormatan terakhir kepada Lú Olo.

Sesampainya di Farol, peti jenazah disambut keluarga besar dari Ossu, para veteran dan veterana perjuangan, anggota Majelis Konstituante, anggota Parlemen Nasional, anggota Pemerintah, tokoh agama, organisasi masyarakat sipil, serta para simpatisan dan kader FRETILIN.

Istri mendiang mantan Presiden Republik Timor-Leste, Francisco Guterres “Lú Olo”, Cidália Lopes Nobre Mouzinho Guterres, bersama keempat anak. Foto Media Wakil PM, MCAS dan MDRHC

Hadir pula Sekretaris Jenderal Partai FRETILIN, Mari Alkatiri, Letnan Jenderal, Lere Anan Timur beserta keluarga, anggota Pemerintah, anggota Parlemen Nasional, para veteran perjuangan, serta berbagai tokoh nasional lainnya.

Suster Karmelit, Odete Belo Victor, mengaku sangat terpukul mendengar kabar wafatnya mantan Presiden Republik tersebut.

“Saya merasa sangat sedih ketika mendengar mantan Presiden Republik Francisco Guterres Lú Olo telah kembali ke pangkuan Tuhan. Selama hidupnya, beliau sangat menghargai rakyatnya. Kepergiannya yang mendadak membuat hati kami sangat terluka,” ujar Odete kepada TATOLI di kediaman keluarga di Farol.

Gelombang duka tidak hanya dirasakan para pemimpin dan keluarga, tetapi juga generasi muda Timor-Leste. Di kawasan Comoro, ratusan pelajar dari berbagai sekolah berdiri berjajar menyambut iring-iringan jenazah dengan mata berkaca-kaca.

Elizabet Belo, siswi Sekolah Dasar 10 Desember Comoro, mengatakan Avo Lú Olo telah mengabdikan hidupnya untuk perjuangan kemerdekaan dan pembangunan bangsa hingga akhir hayatnya.

“Perjuangannya untuk kemerdekaan Timor-Leste dan dedikasinya kepada rakyat telah berakhir pada 21 Juni. Hari ini kami datang untuk memberikan penghormatan terakhir atas semua pengorbanannya,” katanya.

Jenazah mendiang mantan Presiden Republik Timor-Leste, Francisco Guterres “Lú Olo”, saat tiba di Bandara Internasional Nicolau Lobato, Dili. Foto TATOLI/Antonio Daciparu

Elizabet berharap arwah Avo Lú Olo memperoleh kedamaian abadi dan terus menjadi terang bagi bangsa Timor-Leste.

“Saya sangat sedih kehilangan beliau. Semoga rohnya bersama para kudus di surga dan terus menerangi rakyat serta tanah air ini,” ujarnya.

Kesedihan yang sama dirasakan Monica Sarmento. Ia mengaku tidak menyangka sosok yang dikenal rendah hati dan dekat dengan rakyat itu pergi begitu cepat.

“Kami sedih karena Avó Lú Olo adalah orang yang bijaksana, selalu mencintai masyarakat dan tidak pernah meninggikan dirinya,” katanya.

Sementara itu, Pasquela de Jesus mengatakan dirinya datang bersama teman-teman sekolah untuk memberikan penghormatan kepada tokoh yang dianggap sebagai pahlawan bangsa.

“Kami menunggu pahlawan kami, seorang tokoh besar bangsa ini,” ujarnya singkat.

Sejak pukul 05.00 WTL pagi, warga Timor-Leste mulai berdatangan ke Bandara Internasional Presiden Nicolau Lobato untuk menunggu kedatangan jenazah yang diterbangkan dari Kuala Lumpur, Malaysia. Saat pesawat mendarat pukul 06.34 WTL, suasana bandara dipenuhi isak tangis.

Lansia, orang dewasa, anak-anak hingga mahasiswa berdiri bersama keluarga mendiang sambil meneteskan air mata. Beberapa warga terdengar berulang kali memanggil, “Avó Lú mai ona” (Kakek Lú sudah datang).

Mahasiswa Universitas Nasional Timor Lorosa’e (UNTL), Raimundo Soares Simões, mengaku datang dari Becora sejak pukul lima pagi untuk memberikan penghormatan terakhir kepada pemimpin yang menurutnya telah mengabdikan hidup bagi rakyat dan tanah air.

“Saya merasa kehilangan seorang pemimpin nasional yang sangat mencintai rakyat dan negeri ini. Meski harus datang dari jauh, saya tetap datang untuk menunggu beliau karena beliau adalah pemimpin yang telah memberikan begitu banyak pengorbanan bagi bangsa ini,” katanya.

Francisco Guterres Lú Olo meninggal dunia pada Minggu, 21 Juni 2026, di Rumah Sakit Prince Court, Kuala Lumpur, Malaysia, setelah menjalani perawatan intensif.

Lú Olo merupakan salah satu tokoh utama perjuangan nasional Timor-Leste. Ia dikenal sebagai Deklarator Restorasi Kemerdekaan RDTL, pernah menjabat Ketua Parlemen Nasional periode 2002–2007, dan Presiden Republik Timor-Leste periode 2017–2022.

Lahir di Ossu, Kotamadya Viqueque, pada 7 September 1954, Lú Olo mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk perjuangan kemerdekaan, pembangunan negara, dan pelayanan kepada rakyat. Ia meninggalkan seorang istri, Cidália Lopes Nobre Mouzinho Guterres, serta empat orang anak.

Pada hari kepulangannya ke tanah air untuk terakhir kali, ribuan warga yang berdiri di sepanjang jalan dari bandara hingga Farol menunjukkan bahwa Lú Olo bukan hanya seorang mantan presiden, melainkan sosok yang telah menempati ruang istimewa di hati rakyat Timor-Leste.

Di tengah tangis dan doa yang mengiringi perjalanan terakhirnya, pesan Taur Matan Ruak menjadi suara yang mewakili perasaan banyak orang : Lú Olo telah pergi, tetapi keluarga yang ditinggalkannya tidak pernah sendiri.

Tim TATOLI

 

iklan
iklan

Leave a Reply

iklan
error: Content is protected !!