iklan

INTERNASIONAL

Suhu makin panas, WMO prediksi Fenomena El Niño muncul lagi di penghujung 2026

Suhu makin panas, WMO prediksi Fenomena El Niño muncul lagi di penghujung 2026

Source foto google

DILI, 02 Juni 2026 (TATOLI) – World Meteorological Organization (WMO) memperingatkan suhu rata-rata global diperkirakan terus berada pada tingkat rekor atau mendekati rekor dalam lima tahun mendatang, seiring meningkatnya ancaman fenomena El Niño yang diprediksi kembali muncul pada akhir 2026.

Dalam laporan terbaru Global Annual-to-Decadal Climate Update yang diproduksi bersama Met Office Inggris, WMO menyebut suhu rata-rata permukaan bumi selama periode 2026–2030 diperkirakan berada antara 1,3 hingga 1,9 derajat Celsius di atas rata-rata era pra-industri 1850–1900.

Laporan tersebut menunjukkan peluang sebesar 86 persen bahwa salah satu tahun antara 2026 hingga 2030 akan melampaui 2024 sebagai tahun terpanas yang pernah tercatat. Selain itu, terdapat kemungkinan 91 persen bahwa suhu global akan melampaui ambang 1,5 derajat Celsius setidaknya selama satu tahun dalam periode tersebut.

Penulis utama laporan, Leon Hermanson, mengatakan kondisi suhu di wilayah Pasifik tropis tengah atau kawasan Niño 3.4 menunjukkan kecenderungan menuju El Niño, khususnya pada 2027 dan 2028.

“Ada prediksi El Niño pada akhir 2026 yang meningkatkan kemungkinan tahun 2027 menjadi tahun pemecah rekor suhu berikutnya,” katanya.

WMO menjelaskan fenomena El Niño dapat memperparah kenaikan suhu global dan meningkatkan risiko cuaca ekstrem di berbagai wilayah dunia, termasuk kekeringan, gelombang panas, hingga perubahan pola hujan.

Laporan itu juga menyoroti kondisi Arktik yang diperkirakan memanas lebih cepat dibanding rata-rata global. Suhu di kawasan tersebut selama musim dingin belahan bumi utara diprediksi mencapai 2,8 derajat Celsius di atas rata-rata 1991–2020 atau lebih dari tiga kali lebih tinggi dibanding rata-rata pemanasan global.

Selain itu, WMO memperkirakan es laut di Laut Barents, Laut Bering, dan Laut Okhotsk akan terus menyusut pada periode 2026–2035.

Dari sisi curah hujan, wilayah Sahel di Afrika, Eropa Utara, Alaska, dan Siberia diprediksi mengalami kondisi lebih basah dari normal, sementara kawasan Amazon berpotensi mengalami kondisi lebih kering.

WMO menegaskan ambang 1,5 derajat Celsius dalam Paris Agreement merujuk pada kenaikan suhu jangka panjang selama sekitar dua dekade. Namun, meningkatnya frekuensi pelampauan sementara batas tersebut menunjukkan dunia semakin dekat dengan risiko perubahan iklim yang lebih berbahaya.

Reporter : Cidalia Fátima

Editor    : Armandina Moniz

 

iklan
iklan

Leave a Reply

iklan
error: Content is protected !!