iklan

OPINI

Lagu “Puing” Iwan Fals dan Timor-Leste

Lagu “Puing” Iwan Fals dan Timor-Leste

Foto google

Oleh Seday Ganefabra

“Dan burung burung bangkai menatap liar

Dan burung-burung bangkai berdansa senang”

Malam 29 Mei di Tasi Tolu, Dili, udara terasa berbeda. Di bawah langit Loro Sa’e yang benderang oleh lampu panggung, ribuan pasang mata menatap satu sosok gaek yang memeluk gitarnya erat. Ia adalah Iwan Fals. Di seberang panggung, gemuruh tepuk tangan warga Timor-Leste larut dalam haru yang pekat. Detik itu, waktu seolah melipat dirinya sendiri, menarik ingatan kita jauh ke belakang, tepatnya ke tahun 1979. Saat itu, ketika bumi Loro Sa’e masih berselimut kabut konflik dan air mata, Iwan Fals dari sudut sunyinya melahirkan lagu “Puing”, sebuah kidung duka yang dikirimkan lewat angin malam untuk tanah yang terluka. Konser di festival TT TasiFest di Tasi Tolu, Dili ini bukanlah sekadar pentas musik komersial. Ia adalah sebuah ziarah budaya, pembuktian bahwa setelah puluhan tahun tertunda oleh sekat-sekat politik, nada-nada kemanusiaan akhirnya berhasil pulang menemui pemilik jiwanya.

Mundur ke tahun 1979, dunia mungkin mengenal Timor-Timur lewat laporan berita yang kaku dan dingin. Namun, seorang musisi jalanan bernama Iwan Fals menangkapnya dengan radar yang berbeda: radar hati. Lewat lagu “Puing”, ia tidak sedang berpolitik. Ia sedang menangis bersama anak-anak yang kehilangan orang tua dan rumah, bersama tanah yang koyak oleh desing peluru. Liriknya menjadi rekaman sejarah yang jujur, sebuah prasasti emosional yang mengingatkan kita bahwa di atas segala ambisi kekuasaan, ada kemanusiaan yang harus dibela. Musik, di tangan Iwan kala itu, melompati batas wilayah administrasi dan menyelusup ke ruang-ruang sepi penantian. Butuh waktu hampir setengah abad bagi bait-bait lagu itu untuk benar-benar mendarat di hulu hatinya. Dinding waktu yang kokoh itu akhirnya runtuh lewat sebuah jembatan kultural yang indah. Kehadiran Sang Legenda di bumi Loro Sa’e terwujud berkat undangan resmi dari festival TT TasiFest 2026 edisi ketiga. Festival tahunan ini bukan lagi sekadar perayaan kesenian, melainkan telah bertransformasi menjadi ruang sakral yang mempertemukan kerinduan antar-bangsa. Ketika kaki Iwan Fals memijak panggung TasiFest, ia tidak datang sebagai orang asing. Ia datang sebagai kawan lama yang membawa rindu yang matang, menjawab undangan kehormatan dari tanah yang sejak lama merawat lagu-lagunya di sela-sela kedai kopi dan deburan ombak pantai.

“Saudara di Laut Selatan”: Kidung Khusus dari Seberang Lautan

Puncak magis dari ziarah musikal ini kian mengental ketika Iwan Fals membawakan lagu “Saudara di Laut Selatan”. Lagu ini bukanlah karya lama yang diputar ulang, melainkan sebuah kidung suci yang ditulis khusus menjelang keberangkatannya bersama band menuju Dili. Tercipta dari kedalaman rasa hormat dan empati, “Saudara di Laut Selatan” meluncur sebagai surat cinta terbuka bagi masyarakat Timor-Leste. Lewat ritme tradisional tebe-tebe, petikan gitar yang intim dan lirik yang menyentuh jalinan takdir geografis maupun emosional, lagu ini menjelma menjadi jabat tangan erat di atas samudra. Persembahan khusus ini membuktikan bahwa jarak laut yang membentang tidak pernah cukup luas untuk memisahkan rasa persaudaraan yang sejati.

Panggung TT TasiFest malam 29 Mei itu adalah sebuah altar rekonsiliasi yang magis. Di hadapan ribuan penonton, musik membasuh sisa-sisa perih masa lalu dengan keindahan. Ketika senar gitar dipetik dan suara serak khas Iwan membubung ke langit, tidak ada lagi sekat “kita” dan “mereka”. Yang ada hanyalah “kita” sebagai sesama manusia yang merayakan kehidupan. Ini adalah bentuk diplomasi terbaik, diplomasi yang tidak ditulis di atas kertas bermaterai, melainkan digetarkan lewat frekuensi suara. Dari puing-puing kehancuran masa lalu, tumbuhlah sebuah jembatan persaudaraan baru yang kokoh antara dua bangsa, yang dirajut dengan benang-benang nada. Perjalanan panjang dari tahun 1979 hingga saat ini adalah sebuah lingkaran takdir yang utuh. “Puing” yang dahulu ditiupkan sebagai doa dari jauh, kini telah menjelma menjadi monumen perdamaian yang nyata di atas panggung Tasi Tolu, Dili. Di balik gemuruh distorsi dan petikan gitar malam itu, ada sebuah fajar baru yang menyingsing: impian lama yang dipendam puluhan tahun oleh para musisi lokal serta seluruh publik pecinta musik di Timor-Leste akhirnya tunai dan terwujudkan secara nyata. Mereka tidak lagi sekadar merawat rindu lewat piringan hitam atau pita kaset usang, melainkan bernapas dan bernyanyi langsung dalam satu ritme dengan sang idola. Sejarah boleh saja mencatat perpisahan wilayah, batas negara boleh saja digambar ulang di atas peta, namun getaran hati tidak bisa disekat oleh pos penjagaan perbatasan. Konser Iwan Fals di Festival TT TasiFest di Timor-Leste menegaskan satu kebenaran abadi: politik mungkin memiliki kuasa untuk memisahkan daratan, tetapi musik dan kemanusiaan akan selalu menemukan celah puitis untuk menyatukan kembali jiwa-jiwa yang merindukan kedamaian.

iklan
iklan

Leave a Reply

iklan
error: Content is protected !!